Salah satu pendiri majalah AULA NU Jatim, Bapak Kiai Abdul Wahid Asa beberapa hari kemarin menjapri saya dengan bertanya, “Assalamualaikum. Gus, sesungguhnya siapa yang bisa disebut muasis NU? Misalnya kalau kita pasang gambar untuk banner harlah, wajah siapa yang boleh dan benar bisa ditampilkan. Ini perlu ada klarifikasi ilmiah gitu.”

Entah kenapa saya yang dijapri dan ditanya beliau. Padahal beliau  turut membidani lahirnya Majalah AULA NU sejak tahun 1978, pasti banyak pengetahuan tentang NU. Tapi karena saya ditagih ulang oleh beliau, maka saya anggap beliau ingin komparasi gagasan sejarah. 

Untuk itu, saya menjawab sependek pengetahuan saya. Itupun dengan menyajikan data sejarah, lalu silakan mencari kesimpulan sendiri. Masukan tentu saya hargai:

1.  Dalam Statuten Perkoempoelan Nahdlatoel Oelama’ yang mendapat badan hukum pada 6 Februari 1930 dijelaskan pada pasal 7 bahwa perkumpulan NU ini di dalam dan di luar pengadilan diwakili oleh pengurus besar yang sedikitnya terdiri dari 9 anggota. Baca di tulisan saya https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=867782400685852&id=100023623007183

2. Kalau mengacu kepengurusan lengkap pertama NU seperti ditulis oleh pelaku sejarah yakni Kiai Abdul Chalim (ayah dari KH Asep Saifuddin Chalim), tertulis 45 tokoh yang menduduki struktur pengurus besar NU.  Baca di tulisan saya https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=867782400685852&id=100023623007183

3. Kalau merujuk penjelasan KH. As’ad Syamsul Arifin, maka  KH. Cholil berperan besar dalam memantapkan KH. Hasyim Asy’ari untuk cepat mendirikan NU. Seperti diketahui ada usulan KH. Wahab Chasbullah kepada KH Hasyim untuk mendirikan NU.

4. Tidak hanya KH. Cholil Bangkalan, KH. Hasyim Aay’ari juga mencari kemantapan hati kepada KH. Zainuddin, Mojosari, Nganjuk dalam upaya mendirikan NU. Baca tulisan  saya di bawah ini https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=868297220634370&id=100023623007183

5. Peneliti dari Barat, Greg Fealy mengatakan baik Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Hasyim Asy’ari sama-sama memiliki peran yang tidak bisa diabaikan dalam keberhasilan pembentukan NU. Kiai Wahab Chasbullah menyediakan konsep dan ketrampilan berorganisasi, sedangkan Kiai Hasyim memberikan legitimasi keagamaan.

Kepada  para sesepuh dan pejuang serta pecinta NU  lahumul Fatihah…

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *