Oleh : Sofyan Tsauri Ayyash

Sebelum tertembak di Pamulang pada tanggal 9 Maret 2010, saya tertangkap pada tanggal 6 Maret 2010, hnya berbeda 3 hari setelah saya tertangkap, dan saya yakin Dulmatin kaget ketika saya tertangkap, lucunya densus 88 sibuk membicarakan Dulmatin, wajah saya yang lebam2 dan tulang rusuk yang patah di tanyai terus ttg Ustad Yahya dan Dulmatin, saya tidak kenal dengan Yahya dan Dulmatin, setelah di sodorkan foto saya katakan, oh itu panglima saya, komandan saya, namanya Ustad Hamzah, ternyata di Aceh dan di Depok pakai nama Hamzah, di Pamulang dia pakai nama Yahya, untuk itu terkadang mengkonfrontir orang itu bukan dengan nama, tetapi dengan foto, Krn nama kami memang suka berbeda-beda di tempat lain.

Ada kisah lucu dan menegangkan, ceritanya Dulmatin mengontrak rumah di daerah Pamulang, di sebuah rumah kontrakan yang cukup padat bersama satu orang yang berasal dari Philipina, salah satu orang yang berpengaruh di kelompok Abu Sayyaf, namanya Hasan, dia beberapa kali ke rumah saya mengambil beberapa pucuk AR15 dan beberapa pucuk AK 47, dan ribuan peluru dengan beberapa caliber pesanan Dulmatin.

Tetapi lingkungan kontrakan itu kurang kondusif, kontrakan tersebut menjadi ajang mabuk-mabukan dan tempat lonte pelacur, merek bebas memasukan laki-laki dan gitaran sambil bernyanyi-nyanyi mengganggu lingkungan, Dulmatin seorang yang keras dan Tampa kompromi pun menegur beberapa preman yang ada di sana, teguran Dulmatin berbalas bentakan, hampir saja Dulmatin di keroyok oleh para preman kampung, tetapi Dulmatin masih bersabar, dan pada suatu hari Dulmatin tidak mampu menahan emosinya, menegur mereka kembali yang sedang nongkrong dan bercumbu dengan pelacur, kali ini mereka menghadapi dulmatin dengan keras, tetapi lucunya mereka tidak berani memukul, di saat ini Yudi menelpon saya, beberapa hari ini memang Yudi menceritakan ihwal bahwa Dulmatin yang akan berkelahi dengan para preman, tolong ustad, kalo saya telp datang ya, bawa aja senjata Laras panjang dan pistol ustad untuk siap2, kata Yudi.

Kali ini wajah preman itu berhadap2an dengan wajah Dulmatin yang tampan, seraya mengatakan “Bangsat Lu !!!”, “elu yang bangsat…!!! kata Dulmatin, “Elu anjing” kata preman yang jigongnya nyemprot ke wajah Dulmatin, lalu di balas “Elu yang anjing” Dulmatin masih bersabar, seraya memasukan tangan ke tas pinggang, merogoh sesuatu, padahal di dalam tas tersebut ada sepucuk pistol revolver dan ada sebuah granat di tas tersebut.

Dulmatin memang tidak ingin memukul duluan sebelum preman itu memukul, padahal jika memukul langsung jidatnya akan di tembak oleh Dulmatin, saya sempat khawatir jika program Aceh akan gagal jika Dulmatin jadi urusan dengan preman2 kampung tersebut, padahal di rumah kontrakan Dulmatin masih ada beberapa beberapa pucuk AK 47 dan M16, tetapi keributan itu tidak berlarut-larut, hingga Dulmatin pindah kontrakan yang jauh lebih aman, padahal malam itu, saya sudah menyiapkan beberapa pucuk senjata dan beberapa ikhwah2 untuk memberikan pelajaran kepada preman2 tersebut.

Tidak terbayang jika terjadi pengeroyokan terhadap Dulmatin, tentu mereka akan kita bumi hanguskan, tidak peduli program Idad Askari di Jantoi Aceh besar akan gagal, Alhamdulillah Dulmatin bisa bersabar, sehingga tidak menghabiskan energinya di tempat yang tidak penting, di sini saya menilai bhwa Ustad Hamzah alias Dulmatin bukan orang sembarangan.

Setelah Dulmatin tertembak di Pamulang, beberapa preman yang pernah berurusan dengan Dulmatin kaget, mereka tidak menyangka jika yang di hadapi nya kemarin adalah gembong Teroris dunia, pelaku bom Bali dan bom Dubes Philipina dan bom malam Natal, mereka para preman akhirnya membubarkan diri di kontrakan tersebut, karena takut jika para Ikhwah2 akan datang kembali ketempat tersebut.

Bersambung ke bag. 3

Yang saya ceritakan adalah yang sudah ada di BAP kepolisian, sehingga penyebutan nama inisial itu tidak akan membahayakan diri saya dan orang lain, adapun saya ceritakan kisah ini bukan untuk menginspirasi orang lain, tidak, bukan itu tujuan tulisan saya, akan tetapi saya akan menyajikan bahwa Teroris itu ada, Teroris itu nyata, fakta dan punya data buanyak, saya tuangkan agar generasi selanjutnya tidak seperti saya dan selalu berhati-hati, itu tujuan pertama dari penulisan ini, kedua tujuannya adalah melengkapi tulisan saya sebelumnya, karena sudah ada editor buku dan penerbitan ingin mencetak kisah saya ini, maka tulisan-tulisan ini akan di gabungkan dengan tulisan yang sudah ada sebelumnya.

Tercatat dalam BAP kepolisian, Dulmatin sudah mengirimkan beberapa orang ke Aceh sejak November 2009, sedangkan saya sudah mengirimkan orang dan logistik perang sejak Juni 2009, total persenjataan yang di sita oleh densus 88 di kasus pelatihan Militer Aceh  hampir 50 pucuk jika di gabungkan dengan penyitaan di pulau Jawa, dan lebih kurang  50 ribu amunisi, itu saya kumpulkan sejak 3 tahun belakangan ini Tampa tercium aparat keamanan, disinilah keramat nya saya jikalau dilihat dari ilmu Kasyaf para wali tempo dulu. Hahaha.

Salah satu kelebihan saya adalah selalu berusaha tenang melihat keadaan, santai dan tidak menyepelekan, semua saya buat senyaman mungkin, walau bahaya ada di depan mata, beberapa kali saya berhasil mengelabui aparat Intel densus 88 yang sedang surveilance diri saya dan kelompok saya, misalnya mereka membubuti saya, lalu saya ajak mutar-mutar, lalu saya buang paku agar ban mereka kempes, atau kemudian saya jebak mereka di sebuah kebun, pas akan saya cegat, merek balik lagi karena paham akan di habisi, untuk itu densus 88 bercerita, bahwa target mereka adalah mematikan saya, ketika mereka menangkap saya hidup-hidup mereka kecewa, bhkan ketika mereka mengintrogasi saya, mereka bilang kenapa Ustad menjabak kami ? Waktu itu, kenapa Ustad buang paku itu, bahkan yang tragis adalah anggota mereka tertabrak mobil hingga patah kaki karena membututi kami, cerita ini mereka ceritakan setelah di ruang pemeriksaan, bahwa gara-gara Ustad, saya tertabrak mobil.

Kali ini densus 88 menyamar menjadi tukang nasi goreng, setelah menggoreng nasi mereka antar nasi ke atas kos2an kami di daerah Depok, mereka mengawasi dan menghitung jumlah personel kami, bahkan katika saya sedang mengajarkan bongkar pasang senjata mereka mengetahuinya, kami kaget, ketika mereka memberikan secara detail dan rinci kejadian demi kejadian, foto beberapa aktifitas kami pun mereka kumpulkan.

Beberapa perwira densus 88 pernah bercerita kepada saya ketika sudah beberapa hari saya tertangkap, awalnya team saya Ustad itu di tertawakan oleh team lain (sesama densus 88 juga), karena mengikuti Ustad, “Halah itu latihan Satpam aja di ikutin, g bakal main dia mah bang”, buang2 waktu dan anggaran aja, sambil tertawa, tetapi perwira densus 88 itu punya feeling dengan saya, “tidak, anak ini sedang cover, 24 jam saya di awasi, mereka memasang kamera pengintai, dan merekam jarak jauh, bahkan mereka bisa mengfoto dari jarak 1 KM dengan jelas jerawat saya, kata perwira densus 88 kepada saya, hahaha kata saya.

Dari grup saya inilah foto Dulmatin di dapatkan, tetapi densus 88 juga tidak tahu jika dia itu Dulmatin, karena data Dulmatin sangat minim, bahkan mereka tidak mempunyai foto Dulmatin terbaru, kecuali foto di tabungan Tabanas SMA dulu, walau mereka sudah memegangi foto Dulmatin di rumah saya, tetapi mereka tidak berusaha mengkonfrontir foto tersebut dengan tahanan teroris bom Bali yang sudah mereka tangkap, karena memang densus 88 tidak pernah menyangka Dulmatin itu bersama Sofyan Tsauri, ketertarikan densus 88 kepada saya adalah ada hubungan telp antara Philipina dan Magetan, dan Magetan terhubung dengan Depok, inilah awal muasal saya di pantau radar densus 88.

Pengawasan saya saya di cabut oleh densus 88, karena mereka fokus pengejaran terhadap pelaku  bom di hotel JW MARRIOTT dan Rizt cartlon pada tanggal 17 Juli, mereka fokus mengejar Nordin M Top di Solo, sementara saya mulai star menyiapkan beberapa senjata ke Aceh, Dulmatin bercerita kepada saya, ada beberapa karomah, waktu itu, sekitar bulan Desember 2009, Dulmatin dan 5 Ikhwah Pamulang lainnya menuju Aceh melalui jalur darat, mereka menyewa mobil Avanza dari Jakarta, mobil tersebut bukan hanya penuh dengan ikhwah2 Teroris, tetapi penuh dengan amunisi dan persenjataan, sesampainya di wilayah Jambi dan Riau, di depan sebuah polres, ada razia besar-besaran kepolisian, para polisi ini menyetop Avanza yang di sopiri Dulmatin sendiri, sedangkan ikhwah2 semua tertidur.

Sengaja Dulmatin tidak membangunkan ikhwah2 ini agar suasana tidak gaduh, Dulmatin sendiri yang mengahadapi sendiri kepolisian, dan menyebutkan bahwa mereka ada pekerja kebun sawit di Riau, mereka hendak berkerja di kebun, kebetulan surat-surat seperti KTP, SIM dan STNK milik Dulmatin lengkap, tetapi Dulmatin berinisiatif memberikan uang 300.000 kepada polisi tersebut, sehingga pemeriksaan mobil urung di lakukan, dan mobil di persilahkan jalan kembali, Alhamdulillah kata Dulmatin, sedangkan beberapa ikhwah2 yang tidur sempat bangun, tetapi setelah Dulmatin masuk ke dalam mobil lalu pada polisi itu mengatakan hati2 ya pak di jalan”, iya mari pak permisi, assalamualaikum, kata Dulmatin.

Ada kaidah di kalangan kami yang berbunyi, Tidak semua yang ada kita harus tahu, dan tidak semua yang kita tahu kita harus ucapkan, maksudnya adalah kepo menanyakan, ustad  itu bungkusan apa ya ??, kalau pun kita tahu itu senjata, g usah ngember, begitu maksudnya, haram bagi kurir saya nanya itu apa, “dah bawa aja g usah banyak bacot, kalau banyak tanya tentu saya pertimbangkan keterlibatannya, karena jelas anak ini tidak safety (aman) dan kalo tahu itu apa, tentu akan jadi beban.

Pernah saya pagi2 jam 06.00 WIB, mengantarkan beberapa amunisi besar ke pasar induk, menggunakan taksi melalui jalur Cijantung, pas depan pos TNI dan polisi tidur, shockbreaker bunyi, “KRAKKK” karena berat, dan kesulitan berjalan, sang sopir berhenti dan menanyakan, pak, itu bawa apa, kok berat sekali ya? oh itu onderdil mas, jawab saya santai, kok berat sekali, kata sopir taksi cerewet, iya pak, mohon maaf ya, jawab saya, maklum lewat asrama tentara bnyak tanggul polisi tidur.

Sesampainya di pasar induk saya turunkan dua kotak besar itu di pinggir jalan, lalu saya menunggu kurirnya, saya sengaja jauh dari dua kotak besar tersebut dan mengawasi dari jauh, dan ketika mengawasi dari jauh saya bertemu dengan dua anggota polisi Polsek Ciracas satu lefting saya dulu, yang kebetulan hanya beberapa meter dari lokasi saya berdiri, polisi tersebut mengenali saya, Weh Ustad, ngapain di sini, saya merespon, wah baik, ini lagi nunggu beli buah sama istri, lagi di dalam dia istri saya, haha, akhir nya polisi rekan satu angkatan saya ini permisi pergi,  hingga kurir datang, dan kurir juga tidak banyak tanya, asal angkat saja, demikian ketika di persidangan, kurir ini hanya di hukum ringan, karena tidak tahu yang di angkatnya itu amunisi, hakim bertanya kepada saya dalam persidangan di tahun 2016, maklum kurir ini tertangkap setelah saya bebas, dan hanya di hukum 5 tahun, ya dia termasuk kurir yang tidak banyak tanya, karena tidak kepo, Itu justru menyelamatkan dirinya.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *