Jama’ah : “Jo kamu kan sedang istirahat ayo teruskan penjelasan Yuk Tin soal pintu fitnah.”

Paijo : “Konon kata Yuk Tin sehabis sholat berjama’ah Baginda Rasulullah pernah duduk-duduk bersama sahabat-sahabatnya dan bercerita soal akhir zaman. Beliau menyatakan bahwa dirinya adalah nabi sekaligus Rasul Allah yang terakhir. Kemudian beliau menjelaskan bahwa waktu kehadirannya dengan datangnya hari akhir hanya berjarak dua jari telunjuk dan tengah yang berdempetan. Beliau juga menjelaskan bahwa fitnah akan melanda ummatnya karena cinta (kehidupan) dunia. Datangnya fitnah dari dalam ummat itu bahkan begitu dekat dengan akhir masa kenabian beliau.”

Jama’ah : “Fitnah apa Jo yang begitu dekat dengan masa kenabian? Bukankah nabi itu manusia suci, kenapa tidak diikuti perintahnya oleh para sabahatnya?

Paijo : “Kata Tuk Tin, gurunya pernah memberikan penjelasan bahwa fitnah itu datang ketika kekhalifahan ketiga yakni saat dipegang Ustman bin Affan, seorang saudagar kaya yang dermawan dan ahli Qur’an. Sikap politiknya yang selalu khusnudzhon pada siapa saja, membuat keputusan pengangkatan para pembantunya di luar wilayah jazirah Arab menjadi kurang efektif, sehingga menimbulkan rasa hasud di kalangan ummat Islam sendiri. Sehingga banyak pejabat yang menyalahgunakan wewenangnya demi kecintaannya pada jabatan, kekuasaan dan harta benda. Akhirnya fitnah itu kembali kepada sang Khalifah dan beliau meninggal karena dibunuh orang-orang Islam sendiri (khawarid). Nah inilah yang menurut Yuk Tin pintu fitnah pertama (hasud) yang dibuka dari dalam oleh ummat Islam sendiri.”

Jama’ah : “Oala Jo pantas saja ada cerita ketika Khalifah kedua ditikam dari belakang dia sempat bertanya siapakah yang menikam, setelah dikasih tahu bahwa sang penusuk bukan orang Islam atau bukan orang beriman, sang khalifah malah seolah bersyukur karena wafat di tangan orang kafir. Artinya tidak menjadi bagian dari terbukanya pintu Fitnah itu. Lantas bagaimana dengan pintu fitnah yang lain Jo?”

Paijo : “Setelah peristiwa pembunuhan Khalifah Usman bin Affan, pintu-pintu fitnah itu semakin terbuka dengan cepat. Dipilihnya Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah ke empat membuat rasa hasud dari orang-orang yang gila jabatan dan kekuasaan semakin besar. Apalagi sosok Ali bin Abi Thalib adalah sosok yang cerdas, Zuhud dan tegas. Hal ini membuat mereka yang sudah menikmati kekuasaan di masa Khalifah sebelumnya kuatir akan menjadi miskin. Maka muncullah dua kelompok besar, satu kelompok mendukung Ali dengan kebijakan barunya dan kelompok lainnya mendukung Muawiyah yang dengan alasan mencoba mengembalikan Marwah Khalifah Usman bin Affan. Persaingan dua kelompok ini dimanfaatkan oleh kaum munafiq khawarij untuk menunjukkan eksistensi mereka dengan merancang pembunuhan kepada para tokoh ummat yang terlibat persaingan politik itu. Inilah saat terbukanya pintu fitnah kedua (kemunafikan). Fitnah inilah yang menyebabkan Khalifah Ali terbunuh. Meskipun tokoh lainnya selamat, tapi fitnah terus bergejolak. Dari sinilah kata Yuk Tin terbuka pintu fitnah ketiga, yakni (Bani Muawiyah) merasa bangga dengan kemenangan (riya’) karena amal yang mereka klaim sendiri lebih benar dan lebih baik dari kelompok lainnya (pendukung Ali). Terbukanya pintu ketiga ini melahirkan fitnah pembunuhan cucu keturunan nabi.”

Jama’ah : “Ya Allah, sampai segitunya ya Jo kejamnya fitnah, terus bagaimana Jo?”

Paijo : “Yuk Tin menyatakan bahwa setelah berhasil menyingkirkan keluarga nabi dari lingkaran politik kekhalifahan, segera terbuka pintu fitnah (ke 4) yakni pintu ketakaburan atau kesombongan di lingkaran para penguasa Islam. Era kekhalifahan empat yang diakui nabi sudah selesai. Maka mulailah era penguasa (Malik) kerajaan Islam yang dipenuhi hasrat cinta duniawi dan ketakaburan. Para penguasa tiran tak segan membunuh ummat Islam sendiri demi kepentingan kelompok dan kesombongan kekuasaan. Pintu-Pintu fitnah ini terus berulang dibuka oleh ummat Islam sendiri. Mereka lalai dengan hikmah Islam hingga pintu-pintu itu tetap terbuka sampai sekarang ini. Kata Yuk Tin, gurunya pernah berpesan, bahwa tinggal satu pintu yang belum dibuka dari dalam oleh ummat Islam, yakni pintu kesyirikan. Meskipun sudah sering dicoba oleh para penguasa Muslim Wahabi tetapi selalu gagal. Usaha paling serius membuka, pintu kesyirikan pernah dilakukan penguasa baru jazirah Arab setelah meruntuhkan kekhalifahan ustmaniyah. Para penganut Wahabi ini bahkan akan menghapus sistem madzab dalam memahami Islam, menghancurkan seluruh makam dan situs yang dijadikan simbol ketaatan kepada Allah dan Rasulullah oleh ummat Islam, karena dianggap melakukan kesyirikan. Namun ketika akan “menghapus” empat madzhab dan menghancurkan makam nabi, lahirlah ikhtiar komite Hijaz yang akhirnya menjadi cikal bakal lahirnya NU. Usaha ini akhirnya berhasil dan NU menjadi salah satu penyelamat ummat Islam dari terbukanya pintu fitnah terakhir. Alhamdulillah pintu itu gagal terbuka. Kata Yuk Tin, jika saat itu para kiai NU gagal membendung kesombongan para penguasa Wahabi, sudah bisa dipastikan cerita kenabian hanya tinggal mitos saja karena tak ada bukti sejarahnya. Padahal jelas dalam Al Qur’an bahwa Allah (sengaja menyisakan peninggalan situs sejarah dan fosil mumi Firaun) agar kita bisa menjadi Ulul albab. Jadi jika semua bukti sejarah itu hilang, maka generasi Islam di masa datang akan hilang juga. Saat itulah pintu fitnah kemusyrikan akan terbuka.”

Jama’ah : “Waduh begitu ya Jo, hebat sekali ya para ulama NU. Beruntung mereka bisa melihat dengan mata bathin dan bukan hanya dengan nalar akal saja. Pantas saja banyak kaum khawarid dan penyembah uang Dajjal yang menginginkan NU hancur dari dalam. Karena ternyata NU lah penjaga pintu fitnah terakhir agar tidak terbuka dari dalam. Aku jadi kuatir Jo, banyaknya penyusup di tubuh NU akan membuat mereka semakin berani mengadu domba para kiai dan juga ummat Islam. Persis yang dilakukan kaum khawarij dan iblis di masa lalu.”

Paijo : “Begitulah kang kita harus tetap waspada, sebab iblis konon bisa menyamar bukan hanya jadi politisi, buzzer, tetapi juga ustad dan bahkan ulama. Mereka menawarkan sorga dengan kemasan neraka dan menawarkan neraka dengan kemasan sorga. Mari kita selamatkan diri kita dan mereka yang jadi tanggung jawab kita. Jangan muda percaya pada orang-orang yang setiap hari menebarkan kebencian dan fitnah, serta mereka yang menjadi penjilat penguasa dengan berbagai argumen yang seolah rasional padahal hanya permainan kata-kata.” #SeriPaijo

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *