Masih terkesan kuat dalam ingatanku sampai sekarang ini, tatkala diriku masih kecil (usia 4-6 tahun) dahulu, aku sering dibilang oleh keluargaku sebagai anak Cina (Tionghoa dan Tiongkok) karena demikian putih wajah dan kulit tubuhku. Tentu saja reaksiku kala itu berada antara suka dan bercampur murka. Dikatakan suka karena bangga dianggap anak yang tampan dan manis, tapi juga murka karena dikatakan bukan anak kandung kedua orangtuaku yang sah, anak temuan atau anak buangan orang Cina yang didapatkan larut bersama rumpun ilung (Enceng Gondok) di Sungai Martapura yang membelah Kampung Teluk Tiram dengan Kampung Pekauman, Banjarmasin.
Kampung yang disebut terakhir saat itu banyak orang Cina bermukim, berkahwin dan beranak-pinak bergaul dengan berbagai suku seperti Banjar Muara, Banjar Batang Banyu, Banjar Hulu, Madura, Jawa, Bugis, Melayu, Arab dan lain-lain. Kampung Teluk Tiram di seberang Kampung Pekauman merupakan kampung bertetangga dekat. Saling kunjung-mengunjung satu sama lain acapkali terjadi karena waktu itu sungai menjadi lalu lintas dan lalu-lalang bepergian, pelayaran dan perniagaan. Dulu antara Teluk Tiram dan Pekauman ada Tambangan penyeberangan, Getek, Jukung dan Kelotok yang sangat ramai. Komunitas Cina sering berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari menyeberang ke Teluk Tiram menuju Pasar Jumput, pasar tua yang penuh ceritera.
Aku selagi masih kanak-kanak sering merasakan suasana perjumpaan dengan orang Cina dan begitu akrab dengan kata Toke (Cina penjual kecap), Nyonyah (kaum ibu Cina), Amoi (dara Cina), Encek (lelaki Cina), sengke, ayalaa salupiah aja dan sing suwala tahi kucing bau bala. Biasanya pada setiap hari Raya Imlek, aku suka sekali menyeberang entah dengan naik getek, jukung ataupun nekat berenang ke Pekauman untuk nonton keramaian Barongsai dan sesekali memperoleh Angpao. Kemudian, ketika sudah kelas 6 SDN Angkasa (sekarang SDN Mawar) Nagasari, aku begitu larut dan mabuk membaca roman silat bersambung karya Asmaraman Kho Ping Hoo sastrawan Cina yang memperkenalkan lingkungan alam Cina, filsafat Cina, kebudayaan Cina, kebatinan Cina dan ragam ilmu silat Cina.
Aku kalau sudah membaca karya Kho Ping Hoo, bisa sampai lupa makan, tidur dan mandi, bahkan terkadang lupa sembahyang. Bisa dikatakan, aku hampir membaca habis semua roman silatnya seperti Bu Kek Siansu (1-24), Suling Emas (1-35), Cinta Bernoda Darah (1-33), Mutiara Hitam (1-31), Istana Pulau Es (1-39), Kisah Pendekar Bongkok (1-26), Pendekar Super Sakti (1-42), Sepasang Pedang Iblis (1-50), Kisah Sepasang Rajawali (1-57), Jodoh Rajawali (1-62), Suling Emas Naga Siluman (1-51), Kisah Para Pendekar Pulau Es (1-32), Suling Naga (1-29), Kisah Si Bangau Putih (1-30), Si Bangau Merah (1-25), Si Tangan Sakti (1-18) dan Pusaka Pulau Es (1-18). Serial lain seperti Pedang Kayu Harum (1-49), Petualang Asmara (1-50), Dewi Maut (1-43), Pendekar Lembah Naga (1-57), Pendekar Sadis (1-42), Harta Karun Jenghis Khan (1-6), Siluman Gua Tengkorak (1-5), Asmara Berdarah (1-39), Pendekar Mata Keranjang (1-48), Si Kumbang Merah Pengisap Kembang (1-32), Jodoh Si Mata Keranjang (1-22) dan Pendekar Kelana (1-20).
Dari sini aku menjadi akrab dengan istilah suhu, subo, suheng, sute, sumoy, koko, moymoy, gwakang, iweekang, ginkang, sinkang, khikang, kionghi, kunlunpay, butongpay, siawlimpay, hoasanpay dan gobipay. Selanjutnya, saat bersekolah di PGAN (MAN 3) Mulawarman, aku gemar menonton film-film silat produksi Hongkong, di bioskop Mawar, Dewi dan Cempaka, hingga aku mengenal beberapa artisnya seperti Wang Yu, David Chiang, Ti lung, Fu Sheng, Chi Kwan Cin dan Bruce Lee. Jadi boleh dibilang aku ini sejak kecil sudah terbiasa akrab dengan orang Cina dan Kecinaan, hingga sekarang terus aku lanjutkan dengan perjumpaan-perjumpaan di berbagai momen dan kesempatan. Selamat Hari Raya Imlek 2571, bagi saudaraku yang merayakan, Selamat sentausa dan sejahtera untuk kita semua seluruh bangsa Indonesia.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *