Siapa bisa sebut ta’rif ‘Islam Berkemajuan’ ? Jujur saja saya belum pernah baca atau mendengar definisi rigid selain jargon yang deras mengalir.
Terus dipopulairkan dan digemakan tapi saya meragukan bisa dimengerti dan wujud dalam realitas.

^^^^
Sayang pula saya tak punya kewenangan untuk merumuskan definisi, karakter dan apalagi masuk pada merumuskan indikator ‘Islam Berkemajuan’ itu seperti apa ? Semestinya jamaah diberi kredo seperti Taxonomy Bloom, agar bisa mengeja dengan benar apa itu ‘Islam Berkemajuan’ dalam satu bahasa. Saya hanya berusaha melihatnya dari perspektif yang saya pahami setelah puluhan tahun menjadi aktifis Persyarikatan.

Sayang pula tidak pernah saya temukan definisi rigid apa itu ‘Islam Berkemajuan’ yang ditahfidzkan — jadinya maaf, Islam berkemajuan hanya sebuah istilah yang menggelinding deras di kalangan warga Persyarikatan tanpa ta’rif, kemudian di ta’rifkan sendiri-sendiri sesuai pikiran dan kondisi. Jadi harap bersabar bila ‘Islam Berkemajuan’ mengalami banyak reduksi dan penyimpangan substansi.

Bagaimana kalau ‘Islam Berkemajuan’ itu adalah istilah langit yang hanya di mengerti dan dipahami kaum elite saja — hanya populair di kampus-kampus besar kemudian jamaah di ranting, cabang atau daerah mengikuti tanpa mengerti. Setidaknja itulah realitas yang saya buktikan. Sampai akhirnya pada suatu titik : Tidak banyak jamaah yang paham apa itu ‘Islam Berkemajuan’.

^^^*
Jika boleh saya tawarkan, salah satu indikator ‘Islam Berkemajuan’ itu adalah suka membaca. Ini bagian paling urgen sebagai pintu masuk menjadi ‘kemadjoen’ — nonsens mengaku maju tapi tidak suka membaca apalagi menulis. Non sens mengaku berkemajuan tapi tidak pernah beli buku, berkunjung ke perpustakaan atau bookstore terdekat.

Kultur ‘Islam Berkemajuan’ ditandai dengan literasi sebelum membincang yang lain — hampir semua peradaban besar dunia dibangun dengan membaca. Menulis suhuf, menyusun manuskrip atau bahkan kitab besar sebagai rujukan.

Indikator yang lain misalnya : toleran atau terbuka terhadap perubahan, tidak diam tapi terus berubah sesuai kebutuhan zaman— ‘Islam Bekemajuan’ itu futuristik. Dalam bahasa yang acap adalah ‘moderasi’ meski juga melahirkan kebingungan baru. Apakah moderat itu menjadi sikap umat atau eksistensi ajaran Islam ?

Boleh juga saya tambahkan ‘Islam Berkemajuan’ itu ‘jujur’ — jujur melihat realitas. Ber-Muhammadiyah dengan jujur. Jujur melihat kekurangan sendiri dan jujur melihat kelebihan atau kebaikan ‘lawan’. Dengan begitu akan tumbuh sikap terus belajar tidak merasa puas, apalagi stagnan tapi terus bergerak maju. Bersikap progresif bukan ‘alon alon waton kelakon’ — sebab itu saya kerap berpikir ‘Islam Berkemajuan’ lebih dekat dengan paham qadary ketimbang jabari dengan berbagai revisi.

^^^^
Mungkinkah ‘Islam Berkemajuan’ adalah yang dalam bahasa aplikasi psikologi disebut sebagai Projectory-Imaginary, meniru Narasi Rasulullah mengubah Yastrib ( yang bermakna kota buangan, kota kegelapan) menjadi Madinah Al-Munawarah ( kota yang bercahaya) yang kemudian dikenal lazim dengan nama Mind-Programing ?

Jika benar adanya, maka bisa dipahamkan bahwa ‘Islam Berkemajuan’ adalah model yang di idealkan, bukan sesuatu yang sudah ada, bukan sesuatu yang sudah wujud, tapi sebuah cita-cita atau harapan yang harus diusahakan, yang harus di ikhtiarkan agar wujud menjadi realitas.

^^^
Sekali lagi ini hanya ikhtiar, agar bisa melihat dan menjernihkan apakah ‘Islam Berkemajuan’ dalam konsep utuh, bukan yang parsial yang di-mitoskan dan terus direduksi karena tiadanya pemahaman— tapi yang saya tuliskan juga bukan sesuatu yang absolut benar, sebab indikator lainnya dari ‘Islam Berkemajuan’ tidak mengenal pemutlakan atas tafsir.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *