Seorang jamaah yang tengah membincang betapa dasyatnya siksa neraka, termasuk minuman dan makanannya, dengan sedikit melucu berujar ; “Bagaimana ya gigi para penghuni neraka apa tidak protol semua?”
Paijo tersenyum kemudian menjelaskan, bahwa pembacaan terhadap ayat-ayat Allah janganlah dilihat secara tekstual semata. Tetapi harus dilihat dalam seluruh konteks yang meliputi; pembawanya (Jibril kemudian para Nabi), pembacanya (ummat manusia), lingkunganya, alasannya, dan bahkan Pemilik dari teks itu sendiri (Allah).
Karena kedalaman rasa iman seseorang sangat mempengaruhi cara, makna dan dampak dari pembacaan teks suci itu. Ada yang menangis haru karena melihat teks tentang neraka itu pada prinsipnya merupakan ekspresi cinta-Allah kepada hamba-Nya agar selalu dekat dengan-Nya. Ada yang menangis haru karena takut akan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu. Ada yang menangis karena takut terhadap siksa-Nya. Ada yang cuman diam tidak memahami dan merasakan apa-apa kecuali sekedar membaca (membunyikan) kata-kata berbahasa Arab itu. Bahkan ada yang tertawa dengan meyakini bahwa ayat-ayat itu adalah syair-syair yang tidak bermakna. Tak jarang pula ada yang mengolok-ngolok teks itu karena begitu tidak masuk akal seperti para filosuf atheis.
Mari kita tengok keadaan kita sekarang ini, adakah dari keseharian hidup (yang kita jalani selama) ini yang tidak main-main? Bahkan pekerjaan paling serius pun (menyangkut kehidupan nyawa orang banyak) masih saja kita permainkan. Lebih dari itu, Tuhan saja kadang kita permainkan sebagai kalimat pembuka perbuatan aniaya terhadap orang lain. Bertakbir sambil mencaci orang lain misalnya.
Tengoklah keadaan kita sendiri, teman-teman kita, anak-anak kita. Apakah mereka lebih suka menghabiskan waktu bercanda bersama, ataukah justru lebih menikmati permainan dalam televisi, kompuiter, handphone, gaget, android dan permainan-permainan lainnya, yang bukan saja melupakan kita dan Tuhan, tetapi dirinya sendiripun mereka lupakan. Bukankah kalau kita mau menyadari bahwa permainan-permainan itu adalah bentuk penyiksaan terhadap kesadaran diri sendiri yang jauh lebih tidak masuk akal dari pada sebuah teks ancaman hukuman (neraka) dari Tuhan? Padahal teks-teks itu hanya bertujuan agar kita selalu mengingat-Nya sebagai Pemilik semua permainan di alam semesta ini. #SeriPaijo
Tawangsari 6 Februari 2016 #Repost

No responses yet