Seorang Jamaah pengusaha nampak tidak pantang menyerah untuk “membujuk” Paijo agar bersedia menerima tawarannya mengembangkan usaha. Paijo pun menyanggupi untuk memberikan jawaban setelah bertafakur dalam beberapa hari. Setelah berdiskusi dengan Yuk Tin dan mempertimbangkan segala sesuatunya Paijo akhirnya menyetujui tawaran kerjasama dengan pengusaha sukses tersebut.

Paijo : “Kita bisa sepakat jika anda mau berinvestasi dengan konsep warung yang sama tetapi dengan target pelanggan yang berbeda. Sasaran kita adalah para preman, berandalan dan orang-orang yang belum begitu kenal dengan agama mereka. Bukankah anda kemarin bilang tujuan anda untuk membantu syi’ar agama yang toleran dan damai?”

Jamaah : “Apa tidak terlalu besar resiko kegagalannya Jo?”

Paijo : “Yang pengusaha itu sampeyan bukan aku. Bagiku dalam usaha dakwah tidak mengenal kata resiko rugi dan tidak ada kamus gagal dalam dakwah. Sekarang tinggal sampeyan mau atau tidak berinvestasi?”

Jamaah : “Saya insyaallah mau Jo, tapi saya butuh argumen kenapa kamu memilih rencana baru itu ?”

Paijo : “Memperbaiki dan mengembangkan yang sudah baik itu relatif gampang dan tidak menantang. Tetapi kalau kita mau memperbaiki sesuatu yang belum baik, itu merupakan peluang sekaligus tantangan. Kalau kita hanya bergaul dengan mereka yang sudah khusuk beribadah tanpa peduli dengan mereka yang masih suka bermain dosa, itu artiya iman kita masih level iman egois, Masih mementingkan diri sendiri dan tidak peduli lingkungan sekitar. Asal kita masuk sorga dan dapat bidadari selesai sudah tujuan hidup. Tidak peduli tetangga dan saudara kita yang masih belum paham betul agamanya. Padahal kata nabi iman yang berkualitas adalah yang bersifat sosial artinya tidak egois dan bermanfaat untuk orang lain. Gimana mas bro? Masih mau investasi bikin warung untuk melayani preman, begal, brandal dan mereka yang belum mengenal agama?”

Jama’ah : “Siap Jo, bagi saya modal juga cuman titipan Tuhan. Masak Tuhan saja masih mau kasih rejeki buat para pencoleng, koruptor, preman, penjahat dan kroni-kroninya agar bisa sadar dan tobat. Kita malah berpangku tangan tidak menyediakan sarana mereka untuk memulai bertobat.” Paijo tersenyum bangga kepada sang pengusaha dan menjabat tangannya dengan erat. #SeriPaijo #Repost

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *