Setelah membaca tulisan Gus Nadirsyah Hosen, barulah saya mendapatkan alasan yang mantap tentang tradisi golongan Aswaja membaca “Sayyidina” dalam sholat dan di luar shalat, tidak lain dikarenakan falsafah hukum yang mengajarkan untuk mendahulukan adab daripada perintah.

Seringkali kalangan Aswaja dituduh sebagai golongan yang suka membuat bid’ah, di antaranya menambahkan lafadz “Sayyidina” saat tahiyyat sholat. Padahal Nabi Muhammad Saw tidak mengajarkan demikian. Beliau Hanya memerintahkan umatnya bersholawat padanya dengan kalimat “Allohumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad”, tanpa embel-embel “Sayyidina”. Namun dalam prakteknya, justeru kalangan Aswaja menambahkannya, semata-mata menjaga adab ( taaddub) kepada Nabi, bukan dalam artian tidak mematuhi perintah beliau.

Sama halnya dengan sahabat Abu Bakar menjadi imam shalat, lalu Nabi datang sebagai makmum. Serta merta Abu Bakar mundur ke posisi makmum, padahal Rasulullah Saw telah mengisyaratkan agar tetap berposisi sebagai imam. Ketika selesai shalat, Nabi bertanya mengapa Abu Bakar tidak mengindahkan perintah beliau tadi? Lalu dijawab : karena tidak pantas Abu Bakar mengimami shalat, sedangkan di situ ada Rasulullah Saw.

Begitu juga saat Imam Syafi’i shalat Shubuh di masjid Imam Abu Hanifah, beliau tidak qunut, yang berarti menyalahi dari fatwanya sendiri yang mensunnahkan qunut. Ketika ditanyakan alasannya berbuat demikian, Imam Syafi’i menjawab : “Aku menghormati ulama besar yang dikubur di lingkungan mesjid ini.” Demikianlah keindahan akhlaq para ulama salafussaleh yang mengajarkan kepada kita untuk lebih mengutamakan akhlak daripada perintah.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *