Bicara dzat, pasti berbicara eksistensi dzat itu sendiri. Untuk mengetahui Eksistensi Dzat Gusti Allah, kita gak usah muluk-muluk pakai ilmu kasyaf atau ndalil ndakik-ndakik.
Cukup dalil aqli atau nalar akal sehat saja, yaitu satu perangkat yang diberikan Gusti Allah pada semua manusia berupa kecerdasan akal untuk berpikir. Karena itu, yang namanya akal sehat itu pintu pertama satu kebenaran. Kalau kebenaran tidak didasari akal sehat, apalagi urusan agama, pasti tertolak (mardud).
Dalil itu maknanya : petunjuk, tanda, bisa juga berarti indikator, atau kadang disebut bukti. Bukti itu bisa berupa bukti fisik dan non fisik. Yang fisik jelas bisa dilihat mata seperti dalil nushush (teks). Yang non fisik ini bisa berupa ingatan, adat, perasaan, realitas, fenomena dan penalaran akal sehat.
Contoh non fisik seperti orang Arab mengatakan
الضحك دليل الفرح
“Tertawa itu dalil (petunjuk, tanda) gembira”
Agama Islam sangat mendukung dalil aqli sebagai pendukung kebenaran. Tanpa dalil aqli, satu hal yg dianggap kebenaran oleh satu pihak, pasti dianggap cacat logika dan tertolak oleh mayoritas pihak. Gak pake lama. Karena dalil naqli ini sifatnya universal, semua orang punya.
Dari Siti Aisyah, jika Kanjeng Nabi SAW tahu ada orang yang ngomong agama atau berijtihad pada satu masalah, Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh
سأل كيف عقله
“Cari tahu dulu, bagaimana akal sehatnya!”
Alhasil, akal sehat itu merupakan satu dalil. Tanpa ada dukungan akal sehat, mau ndalil ndakik-ndakik apapun, pasti tertolak.
Nah, trus bagaimana membuktikan eksistensi Dzat Gusti Allah lewat dalil aqli?
Yang paling gampang, sesuai petunjuk Al Qur’an, kita melihat dan memikirkan hasil penciptaan. Lewat hasil penciptaan, kita bisa menalarnya.
Ada anak punk yang jadi pelanggan lama ngopi di Mawlikopi. Biasanya kami ngomong seputar scene punk local dan interlokal. Gak tau angin apa, biasanya ndengerin musik punk, baru-baru ini dia sering dengerin murotalan.
Trus pas beberapa hari yg lalu datang, dia tanya, “Bagaimana cara melihat Tuhan? Apa perlu ilmu khusus untuk itu kayak ngilmu2 gitu?”
“Gak usah, kejauhan,” jawab saya, “Kamu punya akal, trus lihat diri kamu sendiri, dulu kamu itu sperma kecil ugil-ugil, eh mak bedunduk sekarang sperma itu bisa ngopi, bisa rokokan. Coba kamu pikir, kekuatan apa yang bisa bikin kejadian ajaib kayak gitu? Dari bukti itu, akal tidak akan bisa menolak bahwa Dzat yang punya kekuatan merubah sperma jadi manusia tersebut, ada dan melingkupi kita,”
Si anak punk ini pun tertegun. Seperti menyadari sesuatu, gak tau apa. Saya berani bilang begitu, karena saya yakin dia waras akalnya. Akal sehatnya pasti akan menerima dalil aqli tersebut.
Ada cerita populer di kalangan pesantren, bahwa yang namanya dalil eksistensi Dzat Gusti Allah itu bisa dengan mudah diketahui lewat nalar.
Dulu, ada seorang ulama (konon Ibnu Abbas RA) bertemu orang badui yang hidupnya di pegunungan. Yang namanya badui ya gak pernah sekolah atau mondok, hidupnya masih terbelakang. Badui itu pun ditanya oleh si ulama, “Ente percaya ada Tuhan?”
“Ya, saya percaya!”, kata si badui.
“Dalilnya?” Sergah si ulama.
“Lihat tai kambing ini!”, kata si badui, tangannya menunjuk ke tumpukan tai kambing lalu meremas-remas tai kambing itu. Si ulama kaget plus heran.
“Apa maksud ente?”
“Ada tai kambing berarti menunjukkan ada kambing”
“Trus?”
“Ya berarti adanya alam semesta ini, menunjukkan ada yang mengadakan/menciptakan! Gitu aja kok repot!”, jelas si Badui. Si ulama pun ketawa mengagumi nalar brilian si badui.
Jadi, andai ada orang jaman milenial kok masih meragukan Eksistensi Dzat Gusti Allah, artinya akal sehatnya masih kalah sama badui yg hidupnya ribuan tahun lalu. Perlu diraupi tai kambing.

No responses yet