Sejak pandemi si London lebih banyak tidur di garasi. Namun pagi tadi saya untuk pertama kalinya memaksa  dia untuk menyusuri rute yang setahun lalu sering kami lalui. Dalam hati aku berharap bisa singgah di tempat-tempat kuliner yang dulu kadang aku singgahi. Sayang penjual kue tradisional yang begitu kusukai ternyata tutup sejak pandemi tidak beranjak pergi. Kususuri jalanan kampung begitu banyak pedagang kecil duduk sendiri termangu  menunggu pembeli. Entah kenapa tidak ada lagi senyum simpul yang dulu sering aku nikmati di  wajah-wajah renta mereka. Seorang ibu sambil menggendong anaknya berdiri di samping meja kecil yang penuh dengan beragam kue gorengan. Hingga matahari meninggi dagangan kecil tak kunjung habis.

Ku kayuh pedal agar si London menjauhi pasar dan melewati rel kereta, aku ingat di tinkungan mendekati jalan tol ada penjual ketan bubuk yang jadi langganan para pesepeda tua. Tak kulihat seorang pesepeda pun yang  berhenti untuk membeli. Wajah perempuan setengah baya itu terlihat lelah meski hari masih pagi. Aku terus mengayuh memasuki perumahan mewah yang banyak memasang iklan rumah dijual.  Entah kenapa begitu banyak rumah-rumah mewah itu di jual. Setahun lalu seingatku hanya ada tanah dan gudang tua yang dijual. Apakah ini efek pandemi? Entahlah, aku terus mengayuh melewati perempatan di komplek elit itu. Kulihat seorang bapak tua tengah menunggui buah sukun dagangannya. Entahlah apa masih ada warga metropolitan Surabaya ini yang masih mau membeli. Tak kulihat seorangpun pembeli yang Sudi berhenti.

Aku semakin lelah ketika kulihat bapak tua tengah mendorong motornya naik jembatan yang melintasi jalan tol Surabaya-Sidoarjo.  Mungkin dia kehabisan bensin, ketika hampir saja terjatuh karena tak kuat menahan berat motor, kulihat seorang pemuda gagah bergegas membantunya mendorong menaiki jembatan. Aku semakin menjauh dari jembatan ketika kulihat warung-warung di pujasera masih tutup semua. Biasanya di situ ada tukang bubur ayam yang mangkal. Entah sekarang kemana perginya. Sudah hampir 17 km aku mengayuh tanpa henti, demi menjaga diri dari Pandemi. Perutku sudah tidak mau kompromi, aku berharap bisa membeli mentuk di gang kelinci yang dulu begitu ramai pembeli. Tak kusangka ternyata tutup juga. Aku pun putuskan untuk pulang saja dan sarapan pagi di rumah. Deretan PKL yang menjual nasi pecel dan STMJ juga sepi dari pembeli. Dalam hati aku merapal do’a semoga mereka diberi kesabaran dan keikhlasan menjalani ujian berat ini. 

Aku pun sampai di rumah, belum sempat duduk, istri sudah menawari nasi gudeg yang ia beli dari tetangga sendiri. Sambil bercerita soal temannya yang berjualan bubur di lapangan kampung sebelah. Si teman bercerita kalau dia pindah rumah karena kontrakannya naik dan dia tak punya uang lagi untuk memperpanjang meski hanya dua tahun. Ia memilih untuk indekos dan membanyar bulanan. Bahkan gerobak bubur yang pakai adalah milik orang yang memang dikenal sebagai juragan bubur. Begitulah rantai kapitalisme pasar bekerja. Yang kaya terus merasa terancam bangkruk karena Corona. Sedangkan yang miskin semakin susah karena semakin tak dipercaya untuk dapat modal pengembangan usaha. Wassalam

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *