Sesuatu kalo bisa dibayangkan, berarti itu bukan Gusti Allah. Ini udah jadi pakem aqidah. Sayangnya masih banyak saudara muslim yang ketipu. Sehingga sok-sokan kenal sok dekat Tuhan. SKSD istilahnya. Ini karena belum benar-benar mengenali sifat Ilahiyah Gusti Allah.
Mbahas sifat Ilahiyah Gusti Allah, berarti kita membahas sifat wajib, sifat muhal dan sifat jaiz bagi Gusti Allah. Terutama yang bermadzhab Asy’ariyah. Sehingga, kita kudu mbalik ke pelajaran Aqidatul Awwam. Tukang wiridan kok lupa Aqidatul Awwam, patut ditapuk sandal.
Sifat-sifat Ilahiyah di sini bermakna bahwa secara akal, yang dinamakan Dzat Tuhan itu harus punya 20 kriteria sifat wajib (sifat yang wajib ada), 20 sifat muhal (sifat yang mustahil ada), sifat jaiz (sifat punya wewenang untuk mewujudkan sesuatu atau tidak atau probabilitas). Jika punya semua sifat itu, maka itulah Dzat Ilahiah.
Menurut ahli kalam, jika diperinci, maka dua puluh sifat wajib bagi Allah SWT terbagi menjadi empat kriteria :
1. Sifat Nafsiyyah , yakni sifat untuk menegaskan adanya Gusti Allah, di mana Gusti Allah menjadi tidak ada tanpa adanya sifat tersebut. Yang tergolong sifat ini hanya satu, yakni sifat wujud.
2. Sifat Salbiyyah , yaitu sifat yang digunakan untuk meniadakan sesuatu yang tidak layak bagi Gusti Allah.
Sifat Salbiyah ini ada lima sifat yakni,
1) Qidam,
2) Baqo’,
3) Mukhalafatu lil hawaditsi,
4) Qiyamuhu binafsihi,
5) Wahdaniyyah.
3. Sifat Ma’ani , adalah sifat yang pasti ada pada Dzat Gusti Allah SWT.
Terdiri dari tujuh sifat,
1) Qudrat,
2) Iradah,
3) Ilmu,
4) Hayat,
5) Sama’,
6) Bashar
7) Kalam.
4. Sifat Ma’nawiyyah , adalah sifat yang mulazimah (menjadi akibat) dari sifat ma’ani, yakni
1) Kaunuhu Qodiron,
2) Kaunuhu Muridan,
3) Kaunuhu Aliman,
4) Kaunuhu Hayyan,
5) Kaunuhu Sami’an,
6) Kaunuhu Bashiron,
7) Kaunuhu Mutakalliman.
Nah, orang Islam Ahlu Sunnah Wal Jama’ah kudu menghapalkan sifat-sifat Gusti Allah ini dan mempelajari sifat tersebut. Agar gak terkecoh dengan dzat selain Gusti Allah. Sehingga mindset saat menyembah-Nya bisa benar-benar tepat menuju pada-Nya, bukan yang lain. Karena Gusti Allah tidak akan bisa dikenali kecuali dengan mengenali sifat-sifat-Nya.

No responses yet