Seorang jamaah muda mendatangi Paijo di sela-sela waktu makan siang dan berkata: “Islam telah tertutup oleh orang-orang Islam sendiri. Begitulah kata Abduh yang dikenal sebagai pembaharu Islam. Kalau demikian apa arti ke_islaman kita Jo?”
Paijo terdiam sebelum kemudian berujar; “Kamu benar dengan kutipan itu, tetapi belum tentu benar jika digunakan untuk mengukur ke-islamanmu sendiri. Apalagi jika kamu gunakan untuk mengukur ke-Islaman orang lain.”
Jamaah itu menimpali: “Apa maksudmu Jo, saya semakin tidak mengerti”.
Paijo tersenyum dan menjawab: “Islam itu hadir dibawa oleh sosok pribadi yang paripurna secara fisik, sosial dan spiritual. Itulah figur Rasulullah Muhammad contoh dan sekaligus pembawa risalah Islam. Ekspresi ke_islaman yang dicontohkan beliau adalah ekspresi rahmat untuk seluruh alam. Ekspresi itu lekat dengan kepribadian personal (bahkan sebelum beliau diangkat sebagai rasul dan nabi), yang kemudian beliau tularkan kepada anggota keluarga terdekatnya, sahabat dan tetangganya. Para pengikut pertamanya adalah orang-orang “lemah” atau “tertindas”. Hal itu karena, beliau selalu memikirkan dan mengusahakan sesuatu yang “terjangkau” dari dirinya secara fisik, sosial ataupun spiritual.”
Sejenak terdiam Paijo kemudian berujar : “Merawat keimanan dirinya sendiri dan keluarga sebelum mengajak ummat terdekat. Hal itu akan menumbuhkan kesadaran sosial atau kolektif tentang makna Islam sebagai rahmat, sehingga bisa menguatkan potensi spiritual yang tak terbatas ruang dan waktu itu. Tuhan akan selalu hadir bersama para kekasih-Nya (orang-orang salih). Yakni orang2 yang lebih sibuk menyelamatkan/mengevaluasi dirinya sendiri dan keluarganya (orang-orang terdekatnya yang terjangkau oleh “kekuasaannya”). Bukan orang yang sibuk menilai/mengevaluasi orang lain yang bahkan tak terjangkau oleh dirinya sendiri. Sehingga lupa kalau dirinya sendiri dan lingkungan sosial terdekatnya masih “rusak”. Dulu para kiai itu tidak mau keluar dari kampungnya sebelum kampungnya benar-benar menjadi kampung “santri” yang kuat secara sosial dan spiritual. Sehingga bisa menghadirkan wajah Islam yang rahmatan lilaalamin. Dengan begitu akan banyak orang dari luar yang mendatanginya untuk belajar dan memahami “kebenaran” yang dikandungnya. Seperti sebuah kisah pesantren di desa Tebuireng yang menjadi pusat pendidikan para ulama Indonesia.” #Seripaijo

No responses yet