Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, sejak melanjutkan tugas belajar di IAIN Sunan Kalijaga Jogja, setiap liburan kuliah aku sempatkan untuk tabarukan kembali ke MQ Tebuireng. Setelah liburan seminggu di rumah ortu di Blitar, kamis tgl 10 Februari 1994 aku berangkat ke MQ Tebuireng. Dari Blitar -+ jam 16.00 menuju Jombang. Di terminal Jombang, tanpa sengaja bertemu dg Cak Miftahurrahim. Bersama-sama menuju Tebuireng dg naik Bis Hasti jurusan Pare. Penumpang penuh sesak berjubel. Menginjakkan kaki di bumi MQ -+ jam: 20.30. 

Pagi hari, jumat tgl 11 Februari 1994, dengan Cak Mabrur dan Cak Munawar, aku diajak tanggapan-deresan di rumah Pak Junaidi Hidayat di Kwaron. Menjelang asar, doa khatmil quran pun dilantunkan. Selesai ramah tamah secukupnya, pulang ke MQ sambil bawa berkat dan sesuatu yang diselipkan.

Jumat sore, tgl 11 Februari 2994, -+ jam: 16.30 dengan naik mobil Banpres bersama dengan Gus Didik, Cak Kafi, Cak Zainal dan Cak Mabrur berangkat ke RS Jombang untuk besuk Pak Kyai Yusuf. Sesampainya di RS, hatiku tersentak dan menjerit, saat kedua bola mataku menatap sebujur tubuh terlentang lemas di atas ranjang. Tarikan nafas yang berat, mengalir bersamaan dengan tetes infus, menggambarkan betapa berat beban coba yang harus beliau tanggung dan rasakan. Beliau sakit sejak tahun 1986.

Secara bergantian dengan tamu lain, dengan penuh rasa tawadlu’ aku lafadzkan kalimat tauhid persis di samping telinga Pak Kyai. Dengan perasaan mengiba dan pasrah yang total, hatiku berbisik; ” Ya Allah, berikan jalan yang terbaik untuk Pak Kyai-ku”. 

Suara petir menggelegar bersahutan. Hujan deras turun disertai angin kencang. Suasana RS Jombang yg sejak sore kelihatan tenang dan nyaman, tiba-tiba sepi dan mencekam. Aliran listrik mendadak padam. Tak lama kemudian, jenset penggantipun dinyalakan. Malam itu, di ruang VIP, tempat Pak Kyai dirawat, sudah berkumpul Bu Nyai, Gus Didik, Gus Ghofar, Gus Ishom dan yg lain. Kami semua tidak henti-hentinya melafadzkan kalimat2 thayyibah. Bu Nyai Ruqayyah, yang kurang lebih sudah 8 tahun dengan setia dan sabar mendampingi Pak Kyai dalam keadaan sakit, wajahnya tampak pasrah. Tapi, ketabahan dan kebesaran jiwa terpancar jelas dari kedua bola mata beliau. 

Malam itu sebenarnya ada keinginan untuk menginap di RS Jombang. Tapi rasa kantuk yg sejak tadi mengintai, tiba2 menyelinap merasuk menguasai tubuhku. Sekitar jam: 22.00 bersama dg Gus Didik, Cak Mabrur dan Cak Kafi kembali ke MQ Tebuireng. Setelah shalat isya dan tarawih bersama Cak Mabrur, ternyata mataku tak mau terpejam. Aku tak tahu, kenapa rasa kantuk yang sejak di RS mulai menguasai diri, sampai di Pondok lenyap terbang entah ke mana. Jadilah malam itu, dengan teman2 MTT ngobrol ke sana kemari, dengan tema diskusi yang beragam sampai larut malam. Saat diskusi semakin menarik dan memanas dengan tema tentang sepak terjang Gus Dur, kira2 jam: 00.30, dengan agak tergopoh, Mbah Abul Khair datang. Dengan suara bergetar mengatakan: “Bapak boten wonten, Pak Kyai sedo”. 

Mendengar berita itu, telingaku bagai tersambar halilintar. Kabar duka itu robohkan pilar-pilar jiwaku. Aku ingin menjerit sekaras-kerasnya. Tak terasa pipiku basah linang air mata. Pak Kyai Yusuf, yg dua jam sebelumnya masih sempat kuraba halus kulit tubuhnya, harus pergi meninggalkan kami anak-anaknya, kami santri-santrinya. Pergi jauh, jauh …untuk menuju istana abadi milik-Nya. Istana yang sudah lama merindukan kehadirannya.

Malam itu, dengan beberapa teman berbagi tugas untuk menyampaikan ikhbar wafatnya Pak Kyai kepada tokoh2 di lingkungan Tebuireng. Saya bersama Pak Hamim Supaat diberi mandat untuk menyampaikan khabar duka itu kepada Kyai Syansuri Badawi, Kyai Mustain dan beberapa tokoh lain. Pagi harinya, ribuan pelayat dari masyarakat Jombang dan sekitarnya secara bergelombang menyampaikan ucapan belasungkawa dan penghormatan. Untuk mendoakan Pak Kyai Yusuf, puluhan kali shalat jenazah ditunaikan secara bergantian.

Usai shalat jenazah terakhir, sebelum Pak Kyai Yusuf dimakamkan, Kyai Syansuri Badawi menyampaikan sambutan singkat, sebagai kesaksian perjalanan panjang perjuangan almarhum di lingkungan Pondok Tebuireng. “Kyai Yusuf Masyhar lah yang mempelopori berdirinya sekolah Mualimat di Cukir. Sebagai seorang ahli Al-quran, Kyai Yusuf Masyhar juga mempunyai cita2 untuk mendirikan sebuah lembaga yang secara spesifik mendalami Al-quran dan perangkat ilmu-ilmunya. Setelah perenungan yang panjang, pada tahun 1971 berdirilah Madrasatul Qur’an.” Jelas Kyai Syansuri. 

Kira-kira jam: 11.00 siang, dari masjid MQ-tempat peristirahatan, jenazah ditandu menuju maqbarah. Diiringi dengan kalimat tahlil para santri dan pelayat, dengan suara tersendat di antara isak tangis dan derei air mata. Semua yang hadir merasa kehilangan atas kepergian beliau. Seorang Kyai yang sangat dicintai oleh para murid telah pergi tak pernah kembali. Wajah mulia penuh wibawa itu telah hilang dari pandangan para santri. Sorot mata yang penuh kasih sayang kepada kami semua telah tertutup untuk selama-lamanya, pulang ke pangkuan Ilahi. 

Beliau dikebumikan di makam keluarga, persis di barat masdjid MQ Tebuireng  yang waktu itu masih berupa sawah. Sugeng tindak Pak Kyai. Selamat jalan. Engkau bahagia di tempat yang mulia bersama Al-quran. Engkau bahagia berada di taman surga, bersama para Nabi, Rasul dan kekasih Tuhan . Amin. Lahul Fatihah. 

(EM. MQ Tebuireng; 12 Februari 1994).

Sumber: FB  Edy musoffa

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *