_”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berbuat baiklah pada tetangga.”_

HR. Bukhari Muslim

Hidup bertetangga memang sudah menjadi kodrat manusia. Hampir mustahil seseorang dapat hidup nyaman tanpa bertetangga. Paling tidak dengan bertetangga seserang memiliki komunitas dalam kelompok hidupnya. Dengan bertetangga pula hajat kebutuhan hidup dapat terpenuhi. Maka di sinilah pentingnya bertetangga. 

Selaras dengan pentingnya bertetangga, perlu kiranya memahami hak-hak tetangga. Misalnya, menyapanya, mendatangi undangannya, meneasehati jika diminta, menenangkan jika terkena musibah, memjenguknya ketika sakit, hingga mengiring jenazahnya ke liang lahat. Terpenuhinya hak-hak bertetangga inilah yang kemudian mendukung kehidupan lingkungan masyarakat. 

Kita tentu ingat bahwa, tetangga sangat penting adanya. Saking pentingnya, Nabi Saw., berpesan agar memuliakan tetangga sebagai bentuk keimanan pada hari akhir. Di balik perintah memuliakan tetangga itu, ada pesan penting bahwa tidak elok melakukan hal-hal yang dapat menyinggung perasaan, dan memicu perseteruan antar tetangga hingga sampai puncak permusuhan. 

Maka kemudian Nabi Saw., banyak memberi rambu-rambu bertetangga. Sepertihalnya Nabi Saw., mengatakan, “Belum sempurna seorang hamba hingga tetangganya aman atas perbuatan buruknya.” Pesan Nabi Saw., ini berisi tentang pentingnya menjaga kerukukan bertetangga, tidak melakukan keburukan pada tetangga serta menjaga agar tidak ada hak tetangga yang terbaikan. Selain itu, menyakiti tetangga sama dengan menyakiti diri sendiri. Paling tidak kelak suatu saat kota akan tersiksa sebab perbuatan buruk kita dimasa lalu pada tetangga. 

Hidup bertetangga memang mudah-mudah sulit. Mudah jika tentangga memiliki kepedulian dan loyalitas yang tinggai pada kita. Sulit jika tetangga memiliki prilaku yang tidak baik dan apatis. Meski demikian sebagai makhluk sosial harus menerima keberadaan dan kebutuhan bertetangga. 

Bagaimanapun tetangga dapat menjadi cermin. Maksudnya, siapa yang memastikan kebaikan seseorang dalam hidupnya maka tanyalah pada tetangganya. Jika tetangga itu memuji dengan obyektif maka seseorang itu baik. Jika penilaian tetangga buruk maka seseorang itu buruk.

Demikianlah uraian singkat tentang pentingnya menjaga keharmonisan bertetangga. Semoga kita tergolong sebagai tetangga yang baik. 

Wallahu A’lam Bisshawab. 

Kediri, 17-02-2021.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *