Dalam beberapa hari terakhir ini saya mendengar berita duka yang tak berhenti sama sekali.  Di antara beliau-beliau itu ada beberapa ulama alim yang begitu gigih melayani ummat dengan ikhlas, ada juga seorang kolega yang bergelar profesor, ada juga kerabat saya seorang dosen bergelar doktor yang mengajar di IAIN Jember. Terakhir seorang pengasong makanan dan minuman di kampus fisip Unair yang begitu dekat dengan Mahasiswa. Mereka semuanya saya pastikan (sepengetahuan saya yang terbatas) adalah orang-orang baik. Tulus menjalani takdir dan peran hidupnya. 

Salah satu ulama (relatif muda) yang wafat adalah putra seorang kiai yang menikahkan saya 21 tahun yang lalu. Ulama muda ini pernah memberikan kajian rutin di mushola dekat rumah saya. Sehingga kami sekeluarga selalu mendengar beliaunya ngaji mendidik jama’ah. Tidak peduli berapa jumlah jama’ah, beliaunya tetap mengaji dengan sungguh-sungguh. Pertemuan terakhir saya dengan beliau sekitar dua tahun lalu saat  menghadiri undangan pernikahan tokoh desa Tawangsari dimana beliau menjadi pemberi tausiah untuk sang mempelai. Sedangkan sang profesor meskipun bukan satu kampus dengan  saya, tetapi selalu banyak hal baru ketika kami berdiskusi dalam group WA ataupun seminar. Beliau seorang akademisi yang luar biasa tekun dan rendah hati. 

Sementara itu kerabat saya ( yang juga seorang dosen),  dikenal sangat ramah terhadap siapapun dan tekun serta sabar membimbing mahasiswa. Dia adalah sosok pembelajar sejati, selalu berusaha meningkatan ilmunya meski sudah tidak muda lagi. Yang terakhir adalah sosok yang mewakili kehidupan sejati manusia. Kami mengenalnya dengan panggilan Darman, sosok yang selama saya kuliah S1 hingga lulus S3 di universitas Airlangga tetap Istiqomah melayani para pencari ilmu. Dia menawarkan krupuk pengganjal lapar bagi mahasiswa yang tidak cukup punya uang untuk ke kantin. Atau sebagai camilan kami para mahasiswa ketika cangkruk sambil berdiskusi.

Dialah sosok (rakyat) penjaga inspirasi idealisme perjuangan kami (baca: Mahasiswa). Figur yang membuat kami tetap sadar dengan status mahasiswa sebagai agen perubahan. Tahun lalu sebelum Pandemi menggerogoti keteraturan, saya masih sempat membeli sebotol air mineral dari beliau. Hampir tiga puluh tahun lalu ketika aku untuk pertama kalinya masuk di fisip UA, kang Darman sudah kami kerubuti ( sebagai mahasiswa baru) yang sedang ospek setiap kali kami istirahat. Di momen ospek itulah dagangan beliau cepat habis, karena sempitnya waktu istirahat kami yang malas antri di kantin. Jadi kami lebih nyaman jajan dagangan beliau (krupuk petis).  Sekarang giliran sampeyan yang beristirahat kang, do’a terbaik kami buat kang Darman dan orang-orang baik yang telah kembali kepada sang Khaliq. Allahummahfirlahum warhamhum waafihi wa’fuanhum.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *