Penting bagi kita untuk terus belajar aqidah, mencari hujjah untuk bisa taqdis dan mengulang-ulanginya. Bahwa mengetahui tentang Dzat dan sifat Gusti Allah dan mensucikan-Nya, selain memperkuat tauhid, bisa digunakan untuk memperbaiki mindset pikiran dan perilaku kita. Mindset untuk berakhlaq baik dengan Dzat dan Sifat Gusti Allah. Baik saat beribadah maupun saat bermuamalah.
Kalo kita renungkan tentang taqdis ini, kita akan dapati 2 macam akhlaq yang bisa kita aplikasikan pada diri kita :
1. Bahwa ternyata kita sebagai manusia banyak kelemahan dan banyak kekurangan yang hal itu tidak akan bisa ditutupi selamanya. Kita ternyata selamanya miskin, faqir, lemah, goblok, gak tau apa-apa dan naif di hadapan Gusti Allah Yang Maha Agung.
Dengan kesadaran itu, kita pun rasanya gak pantes sombong. Bahwa ada Dzat Yang Maha Sempurna di atas semua makhluk sejagat raya. Dan kita harus tunduk kepada aturan-Nya.
2. Karena harus tunduk, maka orang butuh ilmu dan amal agar dirinya bisa mengikuti aturan (hukum) Gusti Allah sehingga hidup tenang dan tidak cepat rusak. Hukum Gusti Allah berupa hukum alam dan hukum syariat, lalu diturunkan lagi jadi hukum adat, hukum sosial dan hukum-hukum yang lain. Dan sumber semua hukum itu berdasarkan garis Qudrah Gusti Allah.
Artinya, kita harus mengetahui bagaimana hukum Gusti Allah bekerja dan kita beramal sesuai aturan Gusti Allah tersebut. Kalo gak, kita akan cepat rusak dan musnah. Sebab kita gak akan bisa melawan hukum Gusti Allah. Walau nafsu menolak hukum itu, otomatis tubuh dan alam kita akan melawan nafsu kita. Karena alam dan isinya kita sudah disetting berjalan sesuai hukum-Nya.
Contoh, nafsu pingin ngefly mabok lem, tapi ternyata tubuh kita secara alamiah akan menolaknya dengan cara muntah, pusing, mual, hingga di titik puncak bisa jadi gila bahkan mati. Atau kita buang popok di kali, tapi perilaku itu ditolak oleh hukum alam berupa banjir. Itu semua sebenarnya bentuk penolakan, sebab adanya hukum alam yang udah jadi garis standar (hukum) dari Gusti Allah. Sehingga, kalo kita melawan hukum itu, akan terjadi tabrakan yg gak mengenakkan bagi kita sendiri.
Maka kita harus berlaku sesuai hukum Gusti Allah agar tidak cepat rusak, bisa hidup mulia dan bisa hidup tenang. Ada ilmu yang harus dipelajari dan amal yang harus dilakukan. Sehingga tercapai semua kebahagiaan. Maka kita harus belajar, harus ibadah, harus bekerja, berbuat baik pada makhluk dan malu berbuat jahat sebagai penerapan tunduk pada hukum Gusti Allah.
Nah, kalo kita bisa menerapkan kedua akhlaq tersebut, artinya kita benar-benar telah mensucikan Gusti Allah (taqdis). Itulah yang disebut berakhlaq dengan sifat Gusti Allah. Tujuan kepatuhan, ketakutan, ketergantungan dan kecintaan kita akhirnya hanya pada Gusti Allah saja.
Maka, setelah menjelaskan taqdis, di bab-bab selanjutnya, Imam Ghozali menerangkan beberapa sifat-sifat Dzat Gusti Allah lebih terperinci agar kita lebih bisa paham bagaimana berakhlaq dengan sifat Gusti Allah secara benar. Insya Allah kita bahas satu persatu, mbah.

No responses yet