Awal bulan ini, 2 Februari 2021, Dr. Muhammad Alfatih Suryadilaga berpulang. Ucapan bela sungkawa mengalir deras dari berbagai kalangan. Mulai dari lingkungan civitas kampus, pesantren, asosiasi, ormas, ataupun masyarakat pada umumnya. Hal ini menunjukan kiprah dakwah dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu membekas dan banyak dirasakan masyarakat.
Bagi pelajar hadis, sumbangsih putra KH. Miftahul Fattah Amin Pesantren al-Amin Tunggul Paciran Lamongan itu sangat besar tak terbilang. Alumni MQ Tebuireng Jombang ini adalah tokoh terbentuknya Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Puluhan karya buku dan tulisan di jurnal terkait kajian hadis sangat berbobot dan signifikan. Konsep yang sering diangkat adalah living hadith.
Malam ini, 20 Februari 2021, dalam rangka mengenang sumbangih Dr. Alfatih Suryadilaga, mahasantri hadis Darus-Sunnah Jakarta mengadakan diskusi edisi khusus. Ada 4 tulisan hasil riset Dr. Alfatih Suryadilaga yang akan dikaji. Pertama, “Model-model Living Hadis Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta”. Tulisan ini dimuat dalam jurnal Al-Qalam, Vol. 26, No.3 tahun 2009.
Dalam tulisan ini, living hadith diartikan sebagai fenomena hadis yang sudah menjadi tradisi di masyarakat. Dipahami, ditafsirkan, diamalkan, dan ditradisikan. Living hadith di Pondok Pesantren AI-Munawwir dan Ali Maksum Krapyak dapat diklasifikasikan dalam tiga tradisi; tradisi oral, tradisi tulis dan tradisi praktek. Di samping faktor motivasi keagamaan yang membentuk tiga tradisi ini, tradisi living hadith di atas juga disebabkan oleh adanya akulturasi budaya lokal (budaya Jawa) dengan metode pemahaman hadis.
Kedua, tulisan berjudul “Kajian Hadis di Era Global” yang dipublikasikan dalam Jurnal ESENSIA, Vol. 15, No. 2, September 2014. Dalam tulisan ini, banyak diulas geliat kajian hadis di tengah dinamika perkembangan teknologi. Dimana akses pencarian hadis dan studi hadis dengan mudah ditemukan melalui media internet.
Demikian juga telah ditemukan software yang dapat dijadikan untuk menilai otentifikasi hadis. Lebih dari itu, seseorang dengan mudah dapat mengkaji kitab hadis yang pada zaman sebelumnya sangat tidak mungkin dapat dikaji. Kenyataan ini merupakan sesuatu yang menjadi dasar adanya perubahan yang sangat mendasar dalam perkembangan hadis.
Ketiga, tulisan berjudul “Fenomena Isbal dan Memanjangkan Jenggot: Analisis Sejarah-Sosial Hadis Nabi Muhammad”, dimuat dalam Indonesian Journal of Islamic Literature and Muslim Society, Vol. 3, No. 2, 2018. Penelitian ini didasari atas fenomena masyarakat dengan jenggot tebal dan anti-isbāl (kain di bawah mata kaki) telah menjadi karakter di beberapa lapisan umat Islam. Titik tekan pelarangan celana di bawah mata kaki adalah adanya kesombongan orang yang mengenakannya. Maka bisa dipahami bahwa yang perlu dihindari adalah kesombongan itu sendiri, bukan celana di bawah mata kaki.
Keempat, tulisan dengan judul “Dinamika Studi Hadis di PP Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang: Dari Klasikal Hingga Ma’had ‘Aly” yang dipublikasikan dalam AL QUDS; Jurnal Studi Alquran dan Hadis vol. 3, no 2, 2019. Artikel ini mengkaji kurikulum hadis di tingkat MTs, MA dan Ma‘had Aly PP Hasyim Asy‘ari Tebuireng Jombang.
Temuannya adalah bahwa kajian hadis semakin meningkat dan mendalam dengan adanya Ma‘had Aly. Kajian Hadis di dalamnya telah menjangkau beragam kitab hadis. Hal ini berbeda dengan tradisi pembacaan kitab hadis di level bawahnya. Yakni berkisar pada dua kitab; Bulughul Maram dan Riyadush Shalihin. Karena itu, Ma’had Aly sangat penting dan strategis. Baik dalam rangka medinamisasikan kajian living hadith ataupun pribumisasi sunnah.
Lantas tertarikkah anda?

No responses yet