Dari Sahabat nabi, Abu Abbas Abu Yahya Sahl bin Sa’ad bin Malik al-Anshari al-Sa’idi atau Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu (wafat 710 M, Madinah), Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dgn sabdanya :
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Bahwa nilai amal itu ditentukan oleh bagian penutupnya. (HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari dan yg lainnya).
Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Muhammad bin Hibban Al-Busti Asy-Syafi’i atau Imam Ibnu Hibban rahimahullah (884 – 965 M di Afghanistan), dalam kitab sahihnya, bersumber dari Ummul Mukminin Aisyah binti Abu bakar Radhiyallahu Anha (wafat 13 Juli 678 M, Madinah).
Jangan berhenti hingga ujungnya
Dari Syaikhul Islam Anas bin Malik atau Imam Maliki radhiyallahu ‘anhu (711 – 795 M, Madinah) ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لاَ عَلَيْكُمْ أَنْ لاَ تُعْجَبُوا بِأَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَاناً مِنْ عُمْرِهِ أَوْ بُرْهَةً مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ صَالِحٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلاً سَيِّئاً وَإِنَّ الْعَبْدَ لِيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّئٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلاً صَالِحاً وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْراً اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ قَالَ « يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ »
“Janganlah kalian terkagum dgn amalan seseorang sampai kalian melihat amalan akhir hayatnya. Karena, mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dgn amalan yg shalih, yg seandainya ia mati, maka ia akan masuk surga. Akan tetapi, ia berubah dan mengamalkan perbuatan jelek. Mungkin saja, seseorang beramal pada suatu waktu dgn suatu amalan jelek, yg seandainya ia mati, maka akan masuk neraka. Akan tetapi, ia berubah dan beramal dgn amalan shalih. Oleh karenanya, apabila Allah menginginkan satu kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan menunjukinya sebelum ia meninggal.” Para sahabat bertanya,
“Apa maksud menunjuki sebelum meninggal?” Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu memberikan ia taufik untuk beramal shalih dan mati dalam keadaan seperti itu.” (HR. Imam Ahmad rahimahullah, 780 – 855 M di Bagdad dan Abu Bakar bin Abi ‘Ashim Ahmad bin ‘Amru bin Dhahhak bin Makhlad asy-Syaibani atau Imam Ibnu Abi ‘Ashim rahimahullah, 821 M, Basra – 900 M, Isfahan, Iran).
Al-Imam Al-Hafidh Abu al-Faraj Abdurrahman Ibnu Al-Jauziy Al-Baghdadi Al-Hambali (1116 – 1201 M, Bagdad, Irak) rahimahullah menjelaskan :
إن الخيل إذا شارفت نهاية المضمار بذلت قصارى جهدها لتفوز بالسباق، فلا تكن الخيل أفطن منك! فإن الأعمال بالخواتيم، فإنك إذا لم تحسن الاستقبال لعلك تحسن الوداع…
“Seekor kuda pacu jika sudah berada mendekati garis finish, dia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan, karena itu, jangan sampai kuda lebih cerdas darimu. Sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya. Karena itu, ketika kamu termasuk orang yg tidak baik dalam penyambutan, semoga kamu bisa melakukan yg terbaik saat perpisahan.”
Istiqomah tiada henti
Makanya, kita harus terus istiqomah dalam proses amalan hingga akhir, dan memperbaiki kesalahan yg tersisa dan masih ada waktu.
Karena itu, perjuangan besar seharusnya terus kita lakukan hingga berada di penghujung amalan. Karena, kita sama sekali tak pernah tahu bagaimanakah akhir kehidupan dari orang tersebut. Sekali lagi, hidup dinilai dari akhirnya.
Tugas kita sbg hamba Allah hanyalah satu, ISTIQAMAH. Kita harus memastikan betul di awal dalam niat, di tengah dalam amal, dan di akhir dalam ikhtiar, semua terjaga dalam koridor. Kematian memang ditakdirkan menjadi sebuah misteri. Hikmahnya, tidak ada alasan untuk tidak memastikan setiap detik yg kita lakukan adalah amal yg terbaik. Karena, bisa jadi detik tertentu adalah garis batas kehidupan kita dan kita ingin menjadi yg terbaik saat batas hidup sudah mencapai akhir. Kita ingin hidup yg dinilai dari akhirnya dalam akhir yg baik
Ulama tabi’in senior, Abu Sa’id al-Hasan ibn Abil-Hasan Yasar al-Bashri atau Imam Hasan al-Bashri rahimahullah (642 M Madinah – 728 M Basrah Iraq)
أحسن فيما بقي يغفر لك ما مضى، فاغتنم ما بقي فلا تدري متى تدرك رحمة الله…
“Perbaiki apa yg tersisa, agar kesalahan yg telah lalu diampuni. Manfaatkan sebaik2nya apa yg masih tersisa, karena kamu tidak tahu kapan rahmat Allah itu akan dapat diraih.”
Doa Abu bakar Ash Shiddiq
Sayyidina Abdullah bin Abu Quhafah atau Abu Bakar as-Shiddiq Radhiyallahu anhu (573 M, Mekkah – 634 M, Madinah) berdoa kepada Allah,
اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي أَخِيرَهُ ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِمَهُ ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاك
Ya Allah, jadikan usia terbaikku ada di penghujungnya, amal terbaikku ada di penutupnya, dan hari terbaikku, ketika aku bertemu dgn-Mu. (HR. Abdullah bin Muhammad bin Al-Qadli Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman bin Kuwasta atau Imam Ibnu Abi Syaibah rahimahullah, 775 – 849 M, Kufah, Irak)
Semoga akhir Amaliah kita bi husnil khatimah .. aamiin

No responses yet