(Ahmad Muh Faizin khadim Nyai Hj. Umi Saadah).
KH Muslih Abdurrahman adalah putra KH Abdurrahman bin Qashidil Haq yang lahir di Mranggen Demak Jawa Tengah tahun 1914 Masehi dan wafat di Makkah pada tahun 1981 Masehi. Beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah dan mursyid thariqoh Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN). Bila membaca sejarah thariqoh di Indonesia khususnya di Jawa, nama KH Muslih akan akrab ditelingga kita. Martin Van Bruinnessen menyebut KH Muslih sebagai tokoh sentral thariqoh Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah bersama dengan Abah anom di Suralaya, KH Thohir Falak Pagentongan Bogor dan KH Mustain Ramli di Rejoso Jombang (Martin Van Bruinnessen: 268).
KH Muslih Abdurrahman berjasa dalam menyebarkan tariqah qadiriyyah wa naqsyabandiyyah di Jawa/Indonesia, melahirkan banyak kiai dan guru mursyid tariqah tersebut. Di samping berjasa sebagai salah seorang pendiri dan salah seorang Rois Jam‟Iyyah Ahli Tariqah Al- Mu‟tabaroh di Indonesia yang dikenal sekarang dengan Jam‟iyyah Ahli Tariqah Nahdiyah (JATMAN). KH Muslih Abdurrahman aktif mengembangkan dan membesarkan Jam‟iyyah tersebut hingga akhir hayat pada tahun 1981 Masehi. Oleh karena itu, Kiai Muslih bin Abdurrahman disebut sebagai Abul Masyayikh dan Syaikhul Mursyidin (Moh. Masrur dalam Jurnal At Taqaddum, Volume 6, nomor 2, November 2014). KH Muslih berjasa pula dalam mengusir penjajah Belanda dan Jepang, beliau termasuk anggota laskar hizbullah yang berlatih kemiliteran dengan KH Abdullah Abbas Buntet Cirebon dalam satu regu di Bekasi Jawa Barat dan menjadi komando pasukan sabilillah yang beranggotakan para ulam di wilayah Demak selatan atau front Semarang wilayah tenggara.
Dalam bidang keilmuan KH Muslih dikenal sebagai ulama yang ‘Al Mutabahhir’ nyegoro atau luas ilmunya. Beliau ahli dalam banyak bidang ilmu seperti nahwu, sharaf, balaghah, arudh, tauhid, tasawuf, tarekat, hadist dan tafsir. Keahlian KH Muslih terbukti dari kepiawaian beliau dalam mengajarkannya dan karya-karya yang dihasilkannya, yaitu : Hidayatul Wildan (Nahwu), Inarotu Dholam (Tauhid), Umdatu Salik (Tarekat), Futuhatu Rabbaniyyah (Tarekat), Risalah Tuntunan Thariqoh 2 Jilid (Tarekat), Inarot Ad Daijur Wa Ad Duja fi Nadzmi Safinatin Naja (Fiqh), Tsamratul Qulub (Kumpulan Doa), Dalail al Khairat (Shalawat), Munajat (Kumpulan Doa), Nasru Al Fajr fii Tawassuli bi Ahli Badr (Kumpulan Doa), Washailu Wushuli Al Abdi Ilaa Maulahu (Tasawuf), Yawaqit al Asanii fii Manaqib Al Syaikh Abdul Qadir Al Jailani (Tasawuf), dan An Nurul Al Burhani fii Tarjamatil Lujjainid Dani Fii Dzikri Nubdzatin Min Manaqibi As Syaikh Abdil Qadir Al Jailani (Tasawuf), Matan Al Futuhiyyah (Akidah masih berupa manuskrip), Iqdul faraid fii syarh lubb aqaaid (Tauhid masih berupa manuskrip) dan Taudhih tarajih fii shalati tarawih ( Fiqh masih berupa manuskrip).
Mengenal Kitab Nurul Burhani
Kitab Manaqib Al Nurul Al Burhani Fi Tarjamati Al Lujaini Al Dhani merupakan salah satu karya KH Muslih bin Abdurrahman terjemah dan syarah dari kitab Manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani karya Syaikh Ja‟far bin Hasan bin Abdul Karim bin Muhammad (1690-1764) yang berjudul Al Lujaini Al Dhani Fi Manaqib Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani. yang mampu menembus sampai pelosok Nusantara(Martin Van Bruinnessen : 97). Kitab Manaqib ini ditulis dengan tujuan agar seseorang yang membaca dapat mencintai dan semangat dalam mengikuti amalan-amalan baik seperti yang diamalkan oleh Syaikh Abdul Qadir Al Jailani. Dalam memperingati hari wafatnya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani (setiap tanggal 11 Rabi‟ul Akhir), kitab tersebut dibaca oleh tarekat Qadiriyah. Tidak hanya itu, mereka yang bukan pengikut tarekat ini pun turut membacanya untuk menolak mara-bahaya.
Dalam keyakinan para penganut tarekat, manaqiban merupakan kegiatan ritual yang tidak kalah sakralnya dengan ritual-ritual lain. Harapan para jamaah manaqib untuk mendapatkan keberkahan dari pembacaan manaqib, didasarkan atas keyakinan bahwa Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani adalah Sulthonul ‘Auliya’ dan dapat mendatangkan berkah dalam kehidupan seseorang.
Ada sejarah historis yang menarik dalam penulisan kitab Manaqib Al Nurul Al Burhani yang tidak diketahui khalayak umum. Waktu penulis mengaji kitab Manaqib Al Nurul Al Burhani pada Nyai Hj Umi Sa’adah Muslih, Beliau bercerita: “Bahwa saat sowan pada Mbah KH Maksum diawal pernikahan pada tahun 1960-an untuk memohon doa pangestu. KH Muslih bercerita bahwa istrinya aslinya Semarang, remen maos manakib Syaikh Abdur Qadir. Namun kitab manakib pun mboten sami kados kito. Pripun meniko Yai? Yo ditulis dewe wae to. ( Dawuh Mbah KH Maksum). Setelah dari pasowanan tersebut KH Muslih mulai menulis kitab manakib, yang dalam setiap penulisan kitab tersebut Syaikh Abdul Qadir selalu hadir.
Kemudian kitab Manaqib Al Nurul Al Burhani Fi Tarjamati Al Lujaini Al Dhani Juz I selesai ditulis oleh Kiai Muslih bin Abdurrahman pada bulan Rabiul Awal tahun 1382 H atau 1962 M, dan kitab Manaqib Al Nurul Al Burhani Fi Tarjamati Al Lujaini Al Dhani Juz II selesai pada bulan Sya’ban tahun 1383 H atau 1963 M. Kedua kitab tersebut diterbitkan oleh Toha Putra Semarang.
Untuk Juz I terdapat 108 halaman yang ditaqrid oleh para ulama-ulama terkemuka pada saat itu. Pada kita Juz I menjelaskan tentang ulasan seputar pembacaan manaqib seperti hukum manaqiban, penggunaan dalil-dalil hadist dhaif untuk fadhilatul amal (keutamaan beribadah) dan tawassulan. Diterangkan juga tentang kewalian, karamah dan fadhilah atau keutamaan membaca manakib. Semua penjelasan KH Muslih diperkuat dengan keterangan kitab- kitab rujukan karya ulama salaf ternama. Pada bagian terakhir KH Muslih mengajarkan tata cara membaca manakib yang baik dan benar, dan ditutup dengan doa doa pilihan.
Adapun dalam kitab Manaqib Al Nurul Al Burhani Fi Tarjamati Al Lujaini Al Dhani Juz II karya Kiai Muslih terdapat menjadi delapan bagian, yaitu sebagai berikut :
Pertama, Diawali dengan taqrid oleh Habib Sholih bin Idrus Al Habsyi (menantu Syaikh Dimyati Kedawung Comal Pemalang) . Dalam taqrid Habib Shalih memberikan penegasan tentang pentingnya mencintai dan mengikuti para ulama dan waliyullah agar mendapatkan keselamatan, kebahagiaan, dan keberkahan. Lebih dari itu, para ulama dan waliyullah yang istiqomah dan penuh akhlak mulia ini adalah representasi dari As-Swad Al A’dham (golongan mayoritas) atau golongan Ahlussunnah wal Jama’ah. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan khadarah, dan dibuka dengan dengan basmalah dan hamdalah, shalawat sert salam kepada Nabi Muhammad, sahabat, dan umatnya dilanjutkan dengan berdoa kepada Allah Ta’ala, dan Silsilah Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani.
Kedua, Pada bagian kedua ini berisi : lahirnya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, ketika masih kecil, ketika usianya mendekati baligh, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani menuntut ilmu, mendapat julukan Khirqoh Syarifah Shufiyah, pakaian beliau, Kisah tentang makan.
Ketiga, Pada bagian ketiga ini berisi : Kisah tentang ditemani Nabi Khidir AS ketika pertama kali masuk Iraq, Kisah tentang tidur, Menjaga wudhu, Kisah tentang berkumpul bersama seratus ulama ahli fiqih Baghdad, Ilmu yang diajarkan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani ditanya tentang suatu masalah.
Keempat, Pada bagian keempat ini berisi : Pakaian Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, Kesaksian Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Abdul Fattah Al-Harawi, Kesaksian Syaikh Ibnu Abil Fatah.
Kelima, Pada bagian kelima ini berisi : Adab Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani terhadap orang kaya, raja, dan orang yang mempunyai kedudukan, Kisah tentang buah apel, Adab Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani fakir miskin, Tentang bala.
Keenam, Pada bagian keenam ini berisi : Tidak pernah dihinggapi lalat, Kisah ketika wudhu, Kisah wali murid, Kisah burung, Kisah musafir, Kisah jin, Kisah kendi, Kisah Abul Mudhoffar Hasan bin Tamimin Al-Baghdadi, Kisah Syaikh Ali Al-Haity dan Syarif Abdullah bin Muhammad Abal Ghonaim, Kisah Syaikh Abul Hasan Al-Ma‟ruf bin Thonthonah Al- Baghdadi, Kisah Syaikh Abdullah Al-Musholly tentang Raja Al-Mustanjid billah yaitu Abul Mudhoffar Yusuf.
Ketujuh, Pada bagian ketujuh ini berisi: Bersyukur, Menolong baik ketika masih hidup maupun setelah meninggal, Keistimewaan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, Fisik dan kepribadian Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, Wafatnya beliau.
Kedelapan, Pada bagian terakhir ini berisi: Doa Penutup dan Dua Shalawat Qashidah (Qashidah Ya Arhamar Rahimiin karya Al habib Abdullah bin Husain bin Thahir Ba’alawi dan Qashidah karya Sulthanul Auliya al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad).
Pada kitab Manaqib Al Nurul Al Burhani Fi Tarjamati Al Lujaini Al Dhani Juz II juga dilengkapi dengan catatan kaki yang merupakan penjelasan tambahan dalam mengurai sejumlah redaksi dari sisi kaidah nahwu sharaf, hukum, maupun mengurai maksud kalimat pada matan. Sehingga membantu para pembaca dan muhibbin (para pecinta) manaqib tidak hanya tabarrukan (ngalap berkah) dari pembacaan manaqib, tetapi juga mendapatkan pemahaman terhadap redaksi manaqib yang dibaca. Bahkan catatan-catatan yang diberikan KH Muslih bersumber dari referensi kitab kitab mu’tabar. Di antara penjelasan dalam catatan kaki adalah menjelaskan sosok muallif (penyusun) kitab Al Lujaini Al Dhani Syaikh Al Barzanji. Bahwa beliau bukan termasuk tokoh Syiah, sebagaimana dituduhkan oleh sekelompok yang melarang pembacaan kitab ini. KH Muslih juga menjelaskan bahwa Syaikh Al Barzanji adalah tokoh Ahlussunnah Wal Jama’ah dan termasuk mufti mazhab Syafi’i. Disamping Syaikh Al Barzanji, dalam catatan kaki kitab Nurul Burhani ini, KH muslih juga menjelaskan ulama ulama lain, seperti menjelaskan mengenai sosok Syaikh Jafar Shodiq, khususnya dalam menepis tuduhan Syiah pada ulama ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Sumber: FB NU Kumbung

No responses yet