Bisakah kematian direncanakan. Di masa pandemi ini mati seakan tamu yang sedang menunggu di beranda depan. Satu-satu, sanak kerabat, handai taulan dipergilirkan. Mati seakan mengintai setiap penghuni, kemudian sirena ambulan menyergap sepi karena mati menjemput. tanpa disadari semua kita sedang berkawan dengan kematian. 

*^^^^*

Maut seperti jadi penanda perpisahan radikal. Kemudian ucapan bela sungkawa bersahutan. Di iring doa dan nisan sebagai penanda.

Oma Irama melantunkan dalam sebuah lagu pilu tentang sebujur bangkai, saat jasad ditinggal nyawa. Lantas mati seakan menjadi sosok yang mengintai. Dan manusia berubah menjadi bangkai tidak berguna, secantik apapun rupa sepintar dan sekaya apapun. 

Mati adalah pengalaman yang tak bisa di urai — mungkin saja menjadi sebuah momen yang susah diabtraksi atau sosok atau persoon yang datang sesuai giliran. Nabi Musa as pernah menolak mati dan menempeleng malaikat maut hingga luka. Sebelum datang tawaran hidup abadi. Dan kompromi bulu domba yang melekat di telapak tangan.

*^^^^*

Bagaimana bila mati adalah sosok dan momen sekaligus — Al Quran menggambarkan bahwa saat mati ada dialog sekaligus momen. Maut digambarkan sebagai sosok malaikat dan momen pilu, apakah itu penyesalan atau suka cita. 

Jika mati adalah momen— bolehkah kita memilih cara mati. Apakah mati bisa direncanakan — kapan dimana dan dengan momen seperti apa, mungkin ini semacam ikhtiar untuk mengubah image bahwa mati tak cukup memberi ruang untuk memilih.

Penyair Amir Hamzah bahkan  berbicara kepadanya (mati) dalam sajaknya yang putus asa:

Datanglah engkau wahai maut

Lepaskan aku dari nestapa

Engkau lagi tempatku bertaut

Di waktu ini gelap gulita.

Sang Maha Sufi Jalaludin Rumi menulis indah tentang kematian terburuk: 

Kematian terburuk adalah tanpa Cinta

Kenapa kerang menggigil? Demi mutiara! 

Setiap dada tanpa Sang Kekasih adalah badan tanpa kepala

*^^^^*

Para ulama pun berikhtiar melakukan ‘perlawanan’ terhadap mati — meski dalam bentuk permohonan: taubatan qabl al maut. rahmatan indal maut. maghfiratan ba’dal maut. (taubat sebelum datangnya mati. rahmat saat proses kematian dan ampunan setelah datangnya mati), 

Para ulama menggambarkan kematian adalah sebuah momen yang bisa direncanakan sesuai keinginan. Atau sebaliknja bisa saja ini sebuah ketakutan atau ilustrasi dari keputus-asaan yang sangat — 

Semoga Mati indah —-aamiin

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *