Gagasan jangan beli pada orang Arab atau China adalah rasis — meski realitasnja dua ras inilah yang sebenarnya sedang bertarung berebut hegemoni ekonomi dan politik di tanah nusantara, kemudian ideologi dan agama dijadikan alat perjuangan.
*^^^*
Ini gagasan nonsens, tidak berdasar logika ekonomi dan pasti bakal ambruk. Mereka hendak mengacak acak ekonomi dan politik, kemudian menguasainya dengan berbagai cara, termasuk ideologi dan agama dijadikan alat untuk membakar ghirah. Bukan Islam yang diperjuangkan tapi ras, suku, kabilah, nashab atau lainnya yang semisal.
Gerakan beli di toko sebelah adalah rasis— ini gagasan sangat berbahaya dan bisa menenggelamkan putaran transaksi. Bukannya mengglobal malah sebaliknya : kecil dan mengeras. Apapun yang dilabel sektarian sudah pasti ekslusif.
Saya bukan ekonom hanya sepintas melihat dan tidak rela ketika agama dipermainkan dengan sembarang kata karena kepentingan ekonomi dan politik. Jujur saya katakan gerakan bertransaksi didasarkan atas dasar ras, suku, bahasa dan agama menyalahi sunatullah dan melawan Al Quran yang mulia.
*^^^^*
Fenomenologi sebagai alat analisis mungkin belum mencukupi untuk mengurai banyak soal dan dinamika ke-umatan yang sedang bergolak, apalagi pikiran-pikiran pendek kerap mengemuka karena faktur ketidak tahuan dan pemahaman parsial yang dijadikan sandaran.
Mungkin Adam Smith atau Keynesian bisa sedikit membantu bagaimana menjelaskan fenomena ‘ekonomi sektarian’ ini bisa menjadi alternatif yang bisa mensejahterakan dan menstabilkan tata ekonomi.
Prilaku individu bisa menjadi salah satu faktor penggerak ekonomi — dalam hal apakah ras, suku, bahkan agama bisa menjadi faktor yang menentukan prilaku pasar. Atau ‘teori tangan gaib’ yang menjelaskan.
*^^^^*
Saya tidak ada kemampuan untuk meramal ekonomi masa depan— Termasuk implikasinya bagi Persyarikatan dan umat Islam secara holistik.
Hanya beberapa pertanyaan mengemuka:
Apakah gagasan membeli di warung sebelah itu cara strategis untuk mengangkat ekonomi umat atau penghancuran.
Apakah ekonomi sektarian itu upaya perlindungan atau malah sebaliknja, pengkerdilan,
Apakah sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit dan aum lainnya hanya diperuntukkan bagi warga Muhammadiyah saja atau umat Islam atau untuk semuanya dengan tidak mengenal suku, ras, bahasa atau agama ?
Atau kembali pada teori klasik invisibel hand — semacam tangan Tuhan yang mengatur dan mengakselerasi pasar ner-intervensi ?
Atau menerapkan ‘suply-side’ untuk menjaga keseimbangan atau membiarkan semua berlangsung ?
Jadi apakah orang NU membeli di tokonya orang NU, orang LDII membeli di tokonya LDII. Orang arab beli pada tokonya orang arab. Orang china beli pada tokonya orang china — itu prilaku ekonomi rasional atau irasional ?
*^^^^*
Abaikan semua itu, saya hendak katakan : bahwa yang sudah dilakukan Persyarikatan selama satu abad lebih ini sudah sangat benar tanpa di labeli sektarianisme, sebab sejatinya MUHAMMADIYAH sejak awal berdiri lebih bersifat modern dan inklusif. Maka sudah sepatutnya tidak lagi membincang isu-isu sektarian yang terus memecah belah umat. Bukankah umat Islam adalah saksi bagi umat lainnya — ?

No responses yet