Kemarin kita mbahas ilham sebagai tanda sifat ‘Ilm Gusti Allah. Ilham sejatinya bonus dari Gusti Allah pada kita, bukan tujuan utama pengabdian kita. Tapi kalo ingin punya ilham, kita pertama kudu bisa membedakan ilham dengan nafsu.
Agar dapat membedakan mana ilham atau bisikan nafsu, akal atau mindset kita harus selalu diselaraskan dengan kehendak Gusti Allah setiap waktu.
Seperti dawuh Imam Fudhail bin Iyadh saat ditanya tentang bagaimana resep bisa mendapat karomah ilmu setinggi beliau? Jawab Imam Fudhail
إن الله أحب أمرا، فأحببت ما أحب الله
“Gusti Allah itu punya kecintaan pada satu hal, maka aku ikut mencintai apa dicintai Gusti Allah tersebut”
Itulah gunanya melakukan syariat lahir dan batin. Dengan begitu, kita lambat laun akan hapal bagaimana dan kemana aliran kehendak Tuhan bergerak. Tanpa hal itu, kita akan susah membedakan ilham sebagai ilmu Allah dan yg bukan.
Misal Gusti Allah berkehendak kita sholat, ya kita patuhi saja sholat itu sebagai kehendak Tuhan. Walau secara penampakan sholat itu remeh dan kita gak ngerti kenapa kok gerakannya gini dan bacaannya begini sekalipun.
Analoginya kayak kita punya mertua dan kita ingin akrab. Saat kita kasih uang atau sembako sebagai rasa hormat, mertua malah marah2 karena itu justru menghinanya. Mertua merasa, dirinya dianggep miskin.
Kalo pingin akrab dgn mertua, ya kita kudu ada komunikasi biar tau sifatnya, apa yg jadi kesenangan dan apa yg jadi kebenciannya. Dengan komunikasi itu, lama2 kita bisa hapal sifatnya dan apa yg jadi keinginannya. Urusan sama mertua aja gitu, apalagi urusan dengan Tuhan. Artinya untuk bisa akrab, harus ada amal dan ilmu.
Kalo ilmu dan amal itu udah meresap di jiwa kita, tanpa kita minta, ilham itu bakal datang sendiri. Kayak kalo mertua kita ada perilaku tertentu, karena udah akrab, kita langsung paham apa yg harus dilakukan gak pake banyak omong. Lah, inilah ilham.
Tapi di atas ilham, yang jadi tujuan utama itu niat kita dalam beribadah bisa tertata sesuai kehendak Gusti Allah.
Gusti Allah dawuh
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ
“Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Al Hasyr 22)
Ayat ini, dalam Rotibul Haddad yang dishare di sarkub.com, dibaca tiga kali setelah Bismillah di awal2 rotib sebelum masuk bagian rotib fatihah awal. Dalam Syarah Rotibul Haddad, gunanya sebagai pengingat bagi pembaca Rotibul Haddad, bahwa Gusti Allah senantiasa mengetahui kita, niat kita dan keadaan kita lahir batin. Sehingga diharapkan pembaca Rotibul Haddad bisa menata niat saat membaca Rotib ini.
Andai Gusti Allah mengetahui niat kita gak bener, ayat ini sekaligus jadi doa agar Gusti Allah menata niat kita. Karena Gusti Allah itu Ar Rohmaan Ar Rohiim. Kalo niat kita tertata, syariat kita tertata, itu jadi jalan akrab dengan Gusti Allah.
Jadi gak heran salah satu khasiat Rotibul Haddad ini adalah dianugerahi hidup berkah dan mati husnul khotimah. Lha wong sebelum masuk wirid intinya aja udah doa gitu. Ini yg jadi tujuan utama kita.
Menyadari, meyakini dan punya mindset bahwa Gusti Allah ini Maha Mengetahui itu penting banget, mbah. Dengan begitu, kita bisa punya malu, rasa takut dan rasa ta’dzim pada Gusti Allah. Pas sadar terbesit lintasan hati yang jelek, kita langsung istighfar gak pake lama. Pas terlanjur berbuat jelek, kita merasa menyesal dan langsung tobat.
Rasa malu ini penting sebagai pemantik rasa menyesal. Kalo kita gak punya rasa malu saat punya salah, jangan harap dapat pertolongan. Lha wong berbuat jelek aja gak malu, artinya berani nantang akibat yang akan menimpa.
Maka dari itu, oleh Imam Al Habib Abdullah Al Haddad Shohibur Rotibul Haddad dalam diwan (kumpulan puisi) beliau, kita dianjurkan juga banyak berdoa
يَا عَالِمَ السِّرِّ مِنَّا لاَ تَهْتِكِ السِّتْرَ عَنَّا وَعَافِنَا وَاعْفُ عَنَّا وَكُنْ لَنَا حَيْثُ كُنَّا
“Wahai Dzat Yang Mengetahui rahasia diri kami, mohon janganlah Engkau singkap aib kami. Mohon beri kami ‘afiyah (kesehatan hati) kami dan ampunilah dosa kami, bantulah kami di manapun kami berada”
Doa ini juga jadi salah satu dzikir Rotibul Haddad.
Semoga Gusti Allah Yang Maha Mengetahui berkenan menutup rapat aib kita, membukakan kebuntuan kita, memaafkan kita dan memberi kita petunjuk. Agar hidup kita berkah dan mati husnul khotimah, mbah. Aamiin.

No responses yet