_”Barang siapa berfatwa atas segala yang ditanyakan kepadanya maka ia telah gila”_
Abdullah Bin Mas’ud
Berkata jujur merupakan keharusan bagi siapapun. Termasuk di antaranya para ahli ilmu. Bagi ahli ilmu, berkata jujur merupakan tanggung jawab secara ilmiah. Ahli ilmu harus jujur atas ilmunya. Maksudnya jika ia ditanya suatu persoalan dan ia mampu menjawab maka harus berkata bisa. Jika tidak maka ia harus mengatakan secara jujur tidak tahu.
Kejujuran ahli ilmu–dengan mengatakan, saya tidak tahu–tentang sesuatu yang tidak diketahui adalah kejujuran ilmiah. Selain itu, berkata tidak tahu bukanlah suatu aib bagi ahli ilmu. Suatu misal pakar di bidang pertanian yang kemudian di tanya soal kandungan vaksin Covid-19, maka si pakar tadi hendaknya menjawab, “Saya tidak tahu.” Pada kasus contoh tersebut, jawaban, “Tidak tahu, adalah jawaban yang tepat. Mengapa demikian?, Sebab pertanyaan yang diajukan tidak sesuai dengan bidang ilmu si pakar pertanian tadi.
Selanjutnya perkataan,” Saya tidak tahu” dari ahli ilmu merupakan jawaban aman meski sering kali penanya tidak memuaskan. Memang itulah kajujuran yang harus dikatakan oleh ahli ilmu atas apa yang ia tidak ketahui. Bukan kemudian karena tidak tahu jawaban yang menutupi ketidak tahuan suatu jawaban atas masalah dengan jawaban “Saya tahu.”
Bagi orang yang benar-benar mengetahui suatu ilmu maka ia harus menjawab saya tahu. Sebaliknya jika ahli ilmu tidak tahu menahu atas sesuatu yang memang ia tidak tahu, maka ia harus mengatakan, “Saya tidak tahu.”Demi tercapainya kejujuran dan kebenaran suatu ilmu. Hal ini sebagaimana Ibnu Mas’ud mentakan, “Wahai manusia, barang siapa mengetahui sesuatu ilmu akan katakanlah. Sedang bagi siapa yang tidak mengetahui suatu ilmu hendaklah ia berkata ,” Allah yang maha tahu.”
Kejujuran sebagaimana uraian di atas bagi ahli ilmu sudah sangat tepat. Jika tahu maka bilang tahu jika tidak maka bilang tidak tahu. Dari pada kemudian mengaku-ngaku tahu sedang ia tidak tahu.
Demikianlah uraian singkat betapa pentingnya berkata jujur bagi ahli ilmu. Semoga kita pandai menjaga lisan dan pandai menahan diri dengan menjawab suatu persoalan di luar pengetahuannya.
Wallahu A’lam Bisshawab.
Kediri, 05-03-2021.

No responses yet