Oleh: Zia Ul Haq

“Dulu saya menikah dengan seorang wanita yang buta, lumpuh, dan pencemburu,” tutur Syekh Abu Utsman an-Naisaburi, “Tak ada kedongkolan sedikitpun dalam hatiku padanya. Aku juga tak pernah keluar rumah maupun menghadiri majlis, kecuali untuk hajat yang penting, demi menjaga perasaannya. Hal itu berlangsung lima belas tahun sampai ia wafat. Dan amalan itulah yang paling kuharapkan manfaatnya kelak di akhirat.”

Ini salah satu kisah yang kuceritakan kemarin di seminar daring Nikah Institute (Sabtu, 13/3/2021). Kisah ini menunjukkan adanya keniscayaan suami mencari ridha istri. Tidak hanya istri mencari ridha suami, sebagaimana narasi yang umum kita dengar. Bahwa ternyata keduanya saling mencari ridha masing-masing. Sebab relasi suami-istri memanglah kesalingan.

Temanya mewujudkan ‘Baiti Jannati’, rumah tangga sebagai surga dunia. Bukan sebagai surga dimana segalanya serba ada, semua kemauan serba terkabul. Bukan. Melainkan rumah tangga yang dilingkupi sakinah (ketenteraman), mawaddah (cinta kasih untuk selalu bersama), dan rahmah (cinta kasih untuk saling memberi dan menjaga).

Tapi bagiku ada hal yang tak kalah penting dari konsep ‘Baiti Jannati’, yaitu ‘Baiti Junnati’; rumah tangga sebagai perisai. Pelindung dari terpaan ujian dan tantangan hidup. Benteng dari segala problematika dunia yang pasti menerpa siapapun. Tameng dari berbagai goncangan yang bisa meretakkan hubungan keluarga. Penjaga dari waswas agar akal dan jiwa tetap waras.

Suatu hari, Gus Miek dicurhati orang yang pasangannya rewel, anaknya nakal dan susah dinasehati, ekonomi susah, dadanya sumpek, kepalanya pening. Dia mengeluh ingin melepas semua beban itu dari pundaknya. Kalau ada sungai yang dalam, dia mau nyebur kesana.

Apa sahut Gus Miek? Jangan putus asa. Perbanyak ‘ngobrol’ dengan Gusti Allah, Sang Mahakuasa atas segalanya, yakni berupa nderes Quran. Bekal terpenting bagi kita dalam menghadapi tantangan kehidupan, khususnya ujian dalam rumah tangga, adalah ketahanan batin. Dan energi itu bisa diserap dengan cara nderes Quran.

Saat mengalami ketegangan dengan anggota keluarga, musti ada upaya komunikasi yang baik. Pertama dengan bahasa lisan. Kalau tidak memungkinkan, pakai bahasa tindakan. Kalau masih mentok, pakai bahasa hati.

Bacakan fatihah untuk pasangan, anak, orang tua, agar keruwetan segera terurai, dan mawaddah tumbuh subur. Bahasa hati inilah yang -menurut Gus Miek- paling dibutuhkan manusia modern saat ini.

Ada satu keluarga miskin, serba kekurangan. Mereka dikaruniai empat anak. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, si istri harus berjualan jamu keliling. Hingga mereka dikaruniai anak kelima. Si istri lelah tak bisa kerja. Si suami kabur dari tanggung jawabnya.

Wanita malang itu tertekan. Mentalnya tergoncang hingga harus dirawat di rumah sakit jiwa. Kelima anak itu dipasrahkan kepada nenek mereka, yang juga miskin dan renta. Tak kuat atas kondisi fisik yang lemah pasca melahirkan, ditambah psikis yang tertekan beban kehidupan, wanita itupun meregang nyawa.

Ada juga satu keluarga kaya, serba kecukupan. Baru dikaruniai satu anak yang sedang lucu-lucunya. Merangkak kesana kemari. Di suatu siang, beberapa anggota keluarga berkumpul di teras rumah yang cukup mewah untuk ukuran orang desa. Ada kolam ikan kecil di sana.

Setelah asyik bercengkerama dan bergurau, mereka sibuk dengan gawai masing-masing. Hingga lalai atas keberadaan si bayi. Mereka baru sadar ketika ada suara kecipak air. Ternyata bayi itu sudah tenggelam, nyemplung di kolam. Semua panik dan langsung mengangkatnya. Tapi sayang, sudah terlambat. Bayi malang itu sudah tak bernyawa.

Kita tak tahu pasti apa ujian yang akan menerpa rumah tangga kita. Bisa jadi dari segi ekonomi, relasi dengan pasangan atau keluarga, masalah kesehatan, atau kejadian-kejadian seperti di atas yang kita berlindung darinya. Tapi yang jelas, kita harus siap menghadapi semua kemungkinan. Ketahanan batin itulah perisai utamanya.

Sebagai orang awam, aku bersyukur mendapat bimbingan dari guru-guru di pesantren. Mereka tidak hanya menjadi teladan bagaimana wujud ‘Baiti Jannati’ dalam rumah tangga mereka. Tapi juga membekali kami para santri dengan ajaran-ajaran dan amaliah-amaliah perisai diri.

Terutama penjagaan terhadap shalat, Quran, dan shalawat. Agar hidup mujur, hati tenang, kendil tidak nggelimpang, dapur tetap ngebul, terhindar dari marabahaya, anak-anak rukun. Sebagai upaya batiniah mewujudkan ‘Baiti Junnati’.

__

Tuwel, Ahad 1 Sya’ban 1442/14 Maret 2021

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *