Jama’ah : “Jo kenapa aku sekarang mulai tidak respek dengan para sarjana. Bahkan kadang aku muak dengan para intelektual itu yang cuman bisa menulis dan berkoar tentang hal yang mereka sendiri enggan melakukannya”.
Paijo : “Maksud sampeyan apa kang? Aku kok masih belum paham.
Jama’ah : “Sarjana itu kan seorang intelektual Jo? Mereka yang harusnya memikirkan kehidupan rakyat kecil. Alih-alih memikirkan, bergaul saja dengan kita mereka tidak mau. Apa kaum sarjana sekarang ini memang sengaja difungsikan sekedar menghidupkan idealisme dalam kehidupan yang ideal? Bukan di ruang-ruang kumuh tempat realitas sosial dipraktekkan secara alamiah seperti di warung Yuk Tin ini Jo?”
Paijo : “Entahlah kang kalau itu yang sampeyan maksudkan. Di zaman kolonial mereka kebanyakan kaum elit yang bisa sekolah di sekolah-sekolah penguasa kolonial. Setelah mereka tahu ilmu kolonialisasi, mereka kemudian ingin berjuang memerdekakan bangsanya. Tapi begitu merdeka sebagian dari mereka malah mengambil alih peran sebagai kolonialis bagi bangsanya sendiri. Sebagian lagi jadi orang pinggiran yang diburu penguasa karena dianggap pemberontak. Nah akang tahu sendiri, dari dua kelompok itu akhirnya siapa yang menang. Jadi ada benarnya pendapat akang bahwa para sarjana itu dicetak bukan untuk membantu rakyat dan bangsa ini agar lebih sejahtera. Tetapi untuk membesarkan dirinya sendiri.”
Jama’ah : “Waduh Jo keliatan serius sekali problem bangsa ini, lantas bagaimana sikap kita Jo?”
Paijo : “Jangan kuatir kang, kata Yuk Tin selama masih ada pesantren, kita masih punya kiai-kiai yang akan peduli dengan orang-orang kecil macam kita ini. Mereka masih mau menyambangi kita dengan tulus, mengajari kita tentang ilmu kehidupan yang praktis, sekaligus melatih kita memahami dimensi spiritualitasnya. Itulah kang yang membedakan seorang sarjana kampus dan para kiai kampung lulusan pesantren.”
Jama’ah : “Tapi sekarang banyak kiai yang politisi dan santri yang sarjana Jo. Apa itu malah tidak merusak tatanan yang sudah bagus di dunia pesantren tadi?”
Paijo : “Perubahan itu sebuah keniscayaan kang, termasuk dalam subkultur pesantren. Saya memang melihat ada semacam trend anak kiai yang memilih jalur jadi kiai selebriti di panggung politik, panggung akademik atau di panggung kehidupan di dunia Maya. Tapi masih cukup banyak yang terus mengabdi di panggung kehidupan nyata yang tak terbaca dan terlihat mata. Mereka inilah harapan kita. Meskipun berwajah tradisional tapi hati mereka benar-benar modern, karena mampu beradaptasi dengan masyarakat lapisan bawah maupun atas di mana saja. Sedangkan kaum sarjana yang terlihat berwajah modern hatinya masih konservatif, hanya mau menyapa dan bergaul dengan sesama sarjana. Bahkan bukan hanya itu mereka juga masih memilah-milah, apakah lulusan luar atau dalam negeri, ahli kalam atau ahli qolam, orang kampus atau orang jalanan, pendukung regim atau bukan. Entahlah kang apa.mereka benar-benar intelektual atau cuman in telek saja.” #SeriPaijo

No responses yet