KH. Afifuddin Muhajir pada Selasa kemarin menulis di FB berikut ini, “Sekarang kayaknya jarang ada orang yang mengurus secara detail asal-usul pemberian, meski pemberinya dikenal tidak bersih.”  Status beliau membuat saya tergelitik untuk melanjutkan kisah tentang “Suwuk Jarak Jauh dan mahar Haram” yang saya tulis tiga hari lalu, baca di: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=897563867707705&id=100023623007183

Kisah Kiai Asnawi yang bisa dikatagorikan sebagai kiai suwuk atau kiai sembur di bawah ini menarik. Beliau akan menyeleksi pemberian dari “pasien” tanpa melukai perasaan. Jadi semua uang  yang dari pasien akan diterima agar bisa menyenangkan yang memberi. Namun setelah itu akan diseleksi secara “batin” untuk mengetahui yang “haram” dan halal.

Karib saya, Mbah Ban bercerita tentang Kiai Asnawi (Mbah Nawi). Mbah Ban  dulunya adalah salah satu pelatih jurus Asmaul Husna di pondoknya Kiai Asnawi sekitar  tahun 1974-1980-an. Sehingga Mbah Ban dekat dengan Mbah Nawi.

Suatu saat Mbah Nawi pernah mendemonstrasikan di hadapan Mbah Ban beberapa lembar uang “haram” dari pasien. Uang itu dimasukkan ke toples, lalu diisi dengan air putih. Karena uang itu dalam pandangan mata batin Mbah Nawi berasal dari pekerjaan haram, maka akhirnya lebur dengan air putih  dan berubah menjadi darah serta nanah yang berbau anyir. 

Kalau uang yang demikian, biasanya Mbah Nawi mempunyai tradisi unik. Saat itu Mbah Nawi berkata kepada Mbah Ban, “Nanti akan datang orang yang bertamu untuk hutang yang nantinya tidak mengembalikan, atau orang minta sumbangan tapi menipu, nanti akan saya berikan uang yang haram itu. Ada bagiannya sendiri-sendiri.” 

Begitulah penuturan  kiai awas dari  Kletek, Sidoarjo yang selain tirakat tiap hari, beliau mempunyai lelakon  tidurnya tidak pernah berbaring, tapi duduk bersandar, itupun tidurnya hanya satu jam setelah subuh. Lelakon itu dijalani sejak bujang, yakni sejak mondok di Kiai Syafaat Blok Agung Banyuwangi.

***

Allah memberi karunia kepada Mbah Nawi untuk melihat hal yang “jauh”. Mbah Ban mengisahkan dua kejadian.

Pertama, ada seseorang yang datang dan melapor sepedanya hilang saat Jumatan yang baru saja dia laksanakan. Si orang ditanya oleh Mbah Nawi sepedanya saat hilang diletakkan di mana? Orang itu menjawab di bawah pohon. 

Mbah Nawi berpesan agar orang itu kembali ke pohon tempat sepeda itu hilang. Tidak berapa lama si tamu datang sambil naik sepeda dan melapor sepedanya sudah ditemukan di bawah pohon. 

Kedua, saat Mbah Ban berada di Ndalem Mbah Nawi  setelah selesai melatih, datanglah tamu melaporkan bahwa  sapinya hilang. Setelah ditanya kapan hilangnya? Jawab si tamu sudah 5 hari. Mbah Nawi berkata, bahwa itu telat. Tapi Mbah Nawi bilang agar si tamu  pulang. 

Saat tamu pulang, Mbah Nawi berkata kepada Mbah Ban bahwa sapinya ini sudah dijual lagi dan berada di rumah jagal. Alhamdulillahnya sekalipun demikian, besoknya sapinya sudah ada di kandang si pemilik itu lagi.

***

Renungan:

Kalau ada yang sowan ke kiai suwuk atau kiai pada umumnya,  hendaklah bukan dari sesuatu usaha yang haram. Mungkin kiai tahu tapi diam seperti kiai Nawi.

Namun bila kiai tidak tahu, biasanya mereka mempunyai mekanisme “pembersihan” lewat berbagi ke orang-orang kecil. Itulah pentingnya sedekah. Sedekah untuk pembersihan juga untuk tolak balak. Namun kalau ada yang menganjurkan sedekah agar kaya ya silakan saja.

***

Bersama Mbah Ban dan Gus Yayak Gembong Pagar Nusa

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *