Categories:

Dahulu suasana gang-gang/jalan kecil di perkampungan menuju Masjidil Haram banyak dihiasi kaligrafi Arab yang berisi kalam-kalam mutiara penuh hikmah. Kaligrafi tersebut tampak sangat elok dengan aneka ragam model tulisan seperti khat riq’i, kufi, naskhi, farisi dan lainnya. Dari sekian ragam kaligrafi yang terpampang terdapat model khat tsulutsi  yang dikenal cukup rumit pembacaannya apalagi penulisannya dibandingkan khat lainnya.

Suatu hari Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ditemani salah seorang santri dari Indonesia –kebetulan masih baru– melewati sebuah gang yang terdapat tulisan menggunakan khat tsulutsi. Entah mengapa tiba-tiba Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki berhenti sejenak lalu memanggil santri tersebut untuk membaca tulisan itu. Barangkali beliau ingin mengetes kemampuan santrinya dalam membaca tulisan kaligrafi. Setelah lama berpikir, si santri kemudian membaca tulisan itu,

“مَاتُو الآبَاءْ بِا للاَّقِيقِي”

(Para ayah mati disebabkan للاَّقِيقِي)

Mendengar bacaan si santri, Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ketawa geli dibuatnya. Tersebab tulisan tersebut sesungguhnya adalah potongan ayat Al-Qur’an yang berbunyi;

وما توفيقي الا بالله 

(Dan tidak ada Taufiq bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah)

Cerita ini selalu dikisahkan kembali disela-sela majlis ta’lim Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki jika kebetulan memiliki munasabah dengan kajian yang dibahas.

اللهم صلّ على الحبيب المصطفى سيدنا محمد نور الهدى وعلى آله وصحبه وسلم تسليماً

Bent Hasan, 19-03-2021.

Diceritakan oleh: Habib Mushtofa Al-Jufri

Allahumma sholi ala sayyidina Muhammad waalihi washahbihi wasaliim

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *