“Ojo cepet-cepet nyongko elek karo kyai/wong alim. Ati-ati mergo melati. Kadang wong alim nglakoni perkoro seng menurute wong kurang apek, mergo duwe alasan. Mulane takon. Ojo kesusu disu’udhoni”.

“Jangan cepat-cepat berburuk sangka terhadap orang alim. Berhati-hatilah, karena hal tersebut membuat orang kualat. Terkadang orang alim melakukan suatu hal yang kurang baik dalam pandangan masyarakat umum. Hal itu dilakukan oleh orang alim karena ia memiliki alasan. Oleh karena itu, tanyakan terlebih dahulu, jangan terburu-buru su’udlon”.

“Kerono penggawean paling penak tur gak kroso iku ngrasani wong. Ngono wae iseh ngajak uwong. Doso ndang ngajak uwong. Ape dijak ngrasani, muni emoh, yo sungkan. Seng penting kito seng ngrungokno terus kito ngucap istighfar. Mergo tiap nglakoni dosa kito kudu ngucap istighfar ora ketang urung iso tobat. Angel ngeniki”.

“Menggunjing dan menggosip terasa enak dilakukan sehingga tidak terasa. Kadang masih mengajak orang lain saat menggunjing seseorang. Berbuat dosa dengan mengajak orang lain. Yang diajak menggunjing kadang merasa sungkan bila menolak. Yang penting, orang yang mendengar gosip hendaklah beristigfar setelah itu. Karena, tiap kita melakukan suatu dosa, kita harus beristigfar, walaupun belum bisa bertaubat yang sebenar-benarnya. Akan hal ini juga sulit”.

“Melarat seng paling nyoroh iku dewean. Gak enak blas gak duwe bolo. Mulane nek due masalah dikon cerito. Mulane Qur’an iku isine seng akeh cerito-cerito”.

“Melarat yang tragis itu sendirian, tidak punya teman curhat. Sungguh tidak enak seseorang yang tidak mempunyai teman. Oleh karena itu, bila sedang memiliki masalah Mak dianjurkan untuk bercerita. Al-Qur’an pun banyak memuat tentang cerita-cerita dan kisah-kisah”.

“Wali iku nek mlaku moro tujuane, iku cepet tekan. Mergo lurus ora menggok-menggok, ora mamper. Seng marai suwi iku mamper. Mulane wali-wali iku cepet mati, mergo cepet sampai neng tujuane. Yo iku ketemu karo gusti ALLOH.  nek awak dewe kan akeh olehe menggok-menggoke/mampire mulane yo suwi, gak tekan-tekan tujuane”.

“Seorang wali bila berjalan ke tempat tujuan, itu cepat sampai. Karena ia berjalan lurus, tidak banyak menoleh dan tidak singgah di tempat lain. Yang membuat lama tidak segera sampai di tujuan itu ya singgah-singgah. Oleh karena itu, wali-wali cepat mati, karena cepat sampai pada tujuan, yaitu bertemu dengan ALLOH. Berbeda dengan kita-kita yang banyak menoleh dan banyak singgah, sehingga lama tidak segera sampai pada tujuan”.

Syaikhona Abdul Ghofur Maimoen dalam ngaji Ahadan.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *