Karamah adalah kejadian luar biasa yang tak bisa dinalar dengan logika dan tak mampu dicandra dengan rumus-rumus ilmiah secanggih apapapun dari perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Ia merupakan anugerah Allah kepada para Wali-Nya sebagai manusia pilihan dan sekaligus kekasih-Nya yang didambakan termasuk salah satunya Guru Sakumpul yang haul ke 14-nya akan diperingati. Sudah barang tentu sebagaimana biasanya acara Haul akan banyak dihadiri umat dan diperkirakan mencapai jutaan orang bahkan tidak tanggung-tanggung Presiden RI Bapak Joko Widodo (Jokowi) sendiri berkenan hadir atas kehendak pribadi. Tak bisa dipungkiri Guru Sakumpul termasuk salah satu ulama besar Kalimantan Selatan yang sangat populer, beliau mungkin sangat banyak mempunyai Karamah baik saat masih hidup maupun saat sudah wafat. Di sini aku akan secuil saja mengisahkan Karamah beliau saat masih hidup.

Pertama, kisah kejadian (nyata) kudapatkan dari guruku Tuan Guru H. Zainal Aqli (alm) yang tinggal di Gang. Budaya, Dahlia, Banjarmasin. Dia menceritakan kepadaku, pada suatu malam seusai pengajian Guru Sakumpul yang pada saat itu, masih di Kampung Kraton, biasanya berlanjut dengan perbincangan yang bernuansa hikmah, ilmu dan spiritualitas mendalam sampai larut malam dari beberapa orang yang tahan begadang. Di ujung perbincangan, sudah tengah malam, tiba-tiba beliau menyuruhnya keluar mencari makanan dan rokok sebagai hidangan akhir malam. Namun, di tengah malam begini mana ada lagi Warung Makan yang buka atau masih berjualan. Tidak ada, sudah tutup semua, sudah ia telusuri mutar-mutar berkeliling menembus gelapnya malam, tak jua ia temukan. Akhirnya, ia menyerah kalah, kembali dengan tangan hampa tak memperoleh apa-apa yang sudah dipesankan gurunya. Ia mohon maaf karena tak memperoleh apa yang diinginkan dengan perasaan galau dan rasa bersalah.

Sementara Sang guru senyum-senyum saja dan tiba-tiba secepat kilat tangan beliau menjemput ke belakang mengambil berbagai makanan lengkap dan lezat seperti telah dipersiapkan bahkan banyak pula aneka buah-buahan entah darimana datangnya. Ketika tangan beliau menepuk ikat pinggang di tengah perut serentak keluar rokok Gudang Garam, Djarum, Jisamsu alias 234, Sampoerna, Bentoel dan Wismilak. Kedua, kisah kuterima dari marwaiku Setia Budi, Guru Sejarah SMP 9, Balitan, Banjarbaru. Ada seorang Habib tepatnya Habib Ma’shum dari Kediri, Jawa Timur yang terlilit utang sekitar 21 juta yang sudah terasa sulit untuk melunasinya dan saat itu masih belum terjadi krismon (krisis moneter) . Lalu dalam hatinya bergeritik ‘jika Guru Sakumpul benar-benar Waliyullah, mesti bisa menyelesaikan masalahku ini’. Lantas berangkatlah dia ke Banjarmasin untuk menemui Guru Sakumpul. Saat itu, Guru Sakumpul sedang melaksanakan pengajian rutinnya di Ar-Raudah yang dipenuhi jamaah dari berbagai daerah. Seusai pengajian beliau mendatangi sang Habib langsung memberikan cek yang tertulis angka 21 juta. Habib begitu lama terpana melototi cek di tangannya dan tak terasa menetes airmatanya perlahan serta tiba-tiba ia sempat menjadi pingsan dan ia mengukuhkan hatinya bahwa Guru Sakumpul benar-benar yakin haqqul yakin adalah Waliyullah. Ketiga, kisah dari Setia Budi juga yang menceritakan kepadaku.

Pada suatu hari Guru Sakumpul didatangi 11 wanita pelacur yang mau insaf, tapi mungkin mereka bingung apa yang harus dilakukan kalau sudah insaf sambil menangis mengucurkan airmata mereka mengadu kepada beliau dengan penuh kesedihan. Beliau terharu dan ikut meneteskan airmata pula, lalu tangan beliau merogoh kantong baju beliau menyerahkan amplop persis 11buah yang berisi uang untuk biaya pulang ke kampung halaman dan modal untuk berdagang atau usaha lain yang halal dan menjanjikan. Mereka sangat gembira dengan sadaqah yang diberikan Guru Sakumpul dan amat berterimakasih serta berjanji akan sungguh-sungguh taubat dan insaf. Keempat, kisah ini kualami sendiri saat beliau sakit, aku dan marwaiku tadi disuruh salah satu kepercayaan beliau H. Ridwan untuk datang membicarakan tulisan biografi beliau.

Tiba-tiba berdering di Hp H. Ridwan dan ternyata telepon dari Guru Sakumpul yang menanyakan kami berdua. Aku sangat tersanjung mendapat perhatian beliau yang mulia ini, termasuk juga marwaiku, padahal beliau berada jauh dari tempat kami berada. Lebih dari itu, kami berdua diminta beliau bertemu dan bertamu ke rumah beliau setelah melihat-lihat tempat penyimpanan barang-barang usaha beliau. Namun sayang kami berdua segan dan tak berani mengunjungi beliau yang sedang sakit takut mengganggu waktu-waktu istirahat beliau. Kami waktu itu sudah merasa cukup dengan perhatian dan restu beliau untuk menulis biografi beliau, rasanya gimana gitu, kebahagiaan yang tak terlukiskan. Demikianlah, secuil Karamah Guru Sakumpul yang dapat kuketengahkan dalam rangka menyambut Haul beliau yang ke 14 ini. Allah Yarham.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *