Saya dikirimi buku oleh penulisnya, Den Bagus Muklisina Lahudin, adik kelas di MAPK Jember  yang juga masih keturunan Sewulan. Buku setebal 274 halaman ini  judul lengkapnya “Babad Sewulan, Jejak dan Ajaran Bagus Harun”. Buku ini berisi kombinasi dari data pustaka plus hasil dari  “nyarkub” yang dilakukan penulis ke banyak situs untuk memperkuat data yang ada.

Poin menariknya adalah sebagian sumber dari buku ini diambil dari karya Gus Mamak (Drs. Muh. Baidhowi) yang merupakan sesepuh Sewulan. Buku Gus Mamak ditulis pada tahun 1992 berjudul “Kanjeng Kiai Basyariyah, Raden Mas Bagus Harun Bangsa Harya Pendiri Perdikan Sewulan Madiun”. 

Pada tahun 1996, buku Gus Mamak diterbit-edarkan saat haul Kiai Ageng Basyariyah di Sewulan. Kemudian pada tahun 2001, buku tersebut kembali dicetak terbatas oleh Pemkab Madiun saat kunjungan Presiden Gus Dur. Pun demikian, pada tahun 2000, buku tersebut telah masuk Keraton Surakarta melalui Gusti Kus Wulandari Putri Sinuhun PB XII. Pada tahun 2020, buku tersebut sudah sampai di Ngarso Dalem Sultan HB X lewat Ibu KRT Dyah. 

Sekalipun buku Gus Mamak ini telah tersebar  ke mana-mana, munculnya buku Mas Muklisina lahuddin ini penting karena melengkapi dan menambahi materi yang tidak ada di buku Gus Mamak. Semisal, sejarah leluhur Kiai Bagus Harun di buku Gus Mamak tidak ada. Di buku ini menceritakan secara detail satu persatu tokoh dan analisisnya.

Demikian pula hubungan Kiai Bagus Harun dan Tegalsari dibahas secara lebih mendalam dalam buku ini. Tidak hanya itu, silsilah keturunan juga ditampilkan secara rinci  yang itu tidak ada dalam buku Gus Mamak. Hal yang tidak kalah menarik adalah adanya uraian atas Ajaran Waringin Sungsang.

Saya mengagumi Kiai Basyariyah Sewulan ini sampai terbawa mimpi ziarah. Baca di FB  https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1055116854693109&id=100005844121472 (saya cari di FB-ku kok belum ketemu, ketemunya malah yang dishare Mbak Indar Kusumawati). 

Kekaguman saya ini terkonfirmasi dalam buku ini, semisal Kiai Bagus Harun adalah sosok kunci yang mampu mengembalikan kekuasaan kasunanan Pakubuwono II dari aksi kudeta. Beliau ditawari menjadi Adipati Banten, namun beliau tolak dan  pilih kembali ke pesantren Sewulan. Tawaran itu beliau serahkan ke gurunya yakni Kiai Muhammad Besari, namun gurunya juga menolaknya. 

Itulah satu poin kekaguman saya kepada Kiai Sewulan  yang tidak silau dengan kekuasaan. Padahal kekuasan itu menggoda bahkan saat ini agar bisa mencapainya mereka rela membungkusnya atas nama agama. 

Oh ya, masalah penunjukan menjadi Adipati Banten itu berdasar buku Gus Mamak. Tapi justru perkiraan Mas Muklisina Lahuddin adalah Adipati Sewulan. Jadi perkiraan wilayahnya adalah Sewulan, Geger, Dolopo, Uteran, ada kemungkinan Tawangsari tulungagung masuk bagian Sewulan. Hanya saja beliau tidak mau menjadi pemimpin politik dan lebih memilih mengasuh santri di Sewulan.

Kiai Basyariyah Sewulan menurunkan banyak kiai pondok pesantren dan tokoh besar. Semisal Nyai Arfiyah Mojoduwur Nganjuk, Nyai Chasbullah Said Tambakberas, Kiai Ilyas, KH. Wahid Hasyim, Gus Dur, KH. Dimyathi Romli, Purnomosidi Hadjisarosa (menteri PU Orba), Maftuh Basyuni, Muhajir Efendi, Emil Dardak dan lain-lain.

Oh ya, buku karya Mas Muklisina Lahuddin ini sudah habis cetakan pertama. Pada cetakan keduanya yang ada revisinya akan segera terbit. 

****

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *