Ada pesan dari seorang ulama kibar tabi’in, Abu Sa’id al-Hasan ibn Abil Hasan Yasar al-Bashri atau Imam Hasan Al-Bashriy (641 M, Madinah –  728 M, Basra, Irak) rahimahullah, beliau adalah santri dari para sahabat, antara lain: Utsman bin Affan, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Talib, Abu Musa Al-Asy’ari, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah and Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhum, yaitu : 

” تَفَقَّدُوا الْحَلَاوَةَ فِي ثَلَاثٍ: فِي الصَّلَاةِ، وَفَى الْقُرْآنِ، وَفَى الذِّكْرِ، فَإِنْ وَجَدْتُمُوهَا فَامْضُوا وَأَبْشِرُوا، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوهَا فَاعْلَمْ أَنَّ بَابَكَ مُغْلَقٌ ” [حلية الأولياء وطبقات الأصفياء]

“Carilah kenikmatan dalam tiga kondisi: KETIKA SHALAT, MEMBACA AL-QUR’AN, DAN BERZIKIR. Jika kalian mendapatkannya, maka teruskanlah, dan bergembiralah. Namun, jika kalian tidak mendapatkannya, maka ketahuilah, bahwa pintu untukmu telah ditutup. 

Termaktub dalam kitab Hilyatul auliya wa thabaqatul asfiya’, karya Ahmad ibnu `Abdullah ibnu Ahmad ibn Ishaq ibn Musa ibn Mahran al-Mihrani al-Asbahani Asy-Syafi’i Al-Asy’ari atau Abu Nuaim Al-Isfahani rahimahullah (947 – 1038 M Isfahan, Iran).

Dari Abdullah bin Qais bin Sulaim al-Asy’ari atau Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu (wafat 672 M di Mekkah) berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

“Perumpamaan orang mukmin yg membaca Al Qur’an itu bagaikan jeruk limau; harum baunya dan enak rasanya dan perumpamaan orang mu’min yg tidak membaca Al Qur’an itu bagaikan buah kurma; tidak ada baunya namun enak rasanya. Dan perumpamaan orang munafik yg membaca Al Qur’an itu bagaikan buah raihanah; harum baunya tapi pahit rasanya dan orang munafik yg tidak membaca Al Qur’an itu bagaikan buah hanzhalah; tidak ada baunya dan pahit rasanya” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam berwasiat, “Ada dua golongan manusia yg sungguh2 orang iri kepadanya, yaitu orang yg diberi oleh Allah Kitab Suci Al-Quran ini, dan dibacanya siang-malam, dan orang yg dianugerahi kekayaan harta yg siang dan malam digunakan untuk segala sesuatu yang diridhoi Allah” (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya hati itu bisa korosi sebagaimana besi, ketika bertemu dgn air. Kemudian, ada yg bertanya kepada Baginda Nabi, ‘Ya Rasulallah, lalu apa yg dapat menghilangkan korosi tsb ?’ Rasul menjawab, ‘Banyak mengingat kematian dan membaca Al-Qur’an’.” (HR Imam Al-Baihaqi rahimahullah).

Salah satu nikmat Allah yg paling besar adalah, shalat wajib lima waktu, dapat menebus dosa2 kita dan mengangkat derajat kita disisi Rabb kita. Bahkan, shalat lima waktu dapat menjadi obat paling mujarab, untuk mengobati berbagai kekalutan. Sebab, shalat yg khusyu, mampu meniupkan ketulusan iman dan kejernihan iman dalam hati. Sehingga hati selalu ridha dgn semua ketentuan Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala, memerintahkan kaum Mukminin untuk banyak berdzikir kepada-Nya dan Allah subhanahu wa ta’ala memuji orang2 yg banyak berdzikir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ﴿٤١﴾ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Wahai orang2 yg beriman! Ingatlah kepada Allah, dgn mengingat (nama-Nya) sebanyak2nya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. al-Ahzab : 41-42)

Ketika kita bisa berdzikir menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala dalam tasbih, tahmid, dan dzikir lainnya, maka itu sebenarnya  adalah sebuah kenikmatan yg sangat besar. Karena dzikir sendiri adalah sebuah nikmat. Kesempatan kita mau berdzikir itupun suatu kenikmatan.

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa penuhi detik2 hidup kita, dgn berbagai macam bentuk dzikir yg telah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan para ulama ajarkan kepada kita, baik ketika di rumah, di jalan, di kantor, di setiap waktu kita, hingga akhir hayat kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya: Amal apa yang paling dicintai Allah ? Beliau menjawab :

“أَنْ تَمُوتَ وَلِسَانُكَ رَطْبٌ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ”.

“Yaitu engkau mati dalam keadaan lisanmu basah oleh dzikir menyebut nama Allah” (Hadits Shahih riwayat Imam Ibnu Hibban rahimahullah).

Imam Malik bin Dinar rahimahullah (wafat 748 M di Thalangara Distrik Kasaragod Kerala India) berkata : “Tidaklah orang2 yg mendapatkan kenikmatan itu merasakan kenikmatan yg bisa menandingi kenikmatan berdzikir (mengingat) Allah. (Dalam kitab Hilyah Al-Auliya’ wa Thabaqathul Asfhiya’, 358, karya Imam Abu Nuaim Al-Isfahani rahimahullah, wafat 1038 M di Isfahan, Iran).

Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i atau Imam Ghazali rahimahullah (1058 – 1111 M, Tus, Iran), menjelaskan bahwa dzikir mengharuskan adanya rasa suka dan cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Maka, tidak akan ada yg mengamalkannya, kecuali jiwa yg dipenuhi rasa suka, dan cinta untuk selalu mengingat dan kembali kepada-Nya.

Sebab, orang yg mencintai sesuatu akan banyak mengingatnya, dan orang yg banyak mengingat sesuatu (meskipun pada mulanya ini adalah bentu pembebanan), pasti akan mencintainya. Begitu halnya dgn orang yg berdzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Semoga bermanfaat fid diini wad dunyah wal akhiroh .. aamiin

Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *