Jamaah : “Jo kenapa sich banyak orang Islam  lebih suka ikut madzab dan taqklid sama ulama dari pada langsung belajar dari Al qur’an dan Assunnah. 

Paijo : “Kang apa sampeyan pernah mendengar nama ibu kota  dan pergi ke sana?”

Jamaah : “Ya tahu Jo dan pernah juga saya  ke Jakarta.”

Paijo : “Sampeyan  naik apa dan lewat mana kang ? 

Jamaah : “Saya berangkat naik kereta Jo, lewat jalur Pantura, tapi pulangnya lewat jalur selatan.”

Paijo : “Kenapa tidak naik bus dan atau pesawat kang?”

Jamaah :  “Saya mabuk kalau naik bus Jo, kalau naik pesawat “belum makomnya” kemahalan.”

Paijo : “Kang apa sampeyan pernah ikut membangun rel kereta yang sampeyan lewati? Atau sampeyan tahu  siapa yg bangun rel kereta api jalur utara dan selatan itu?

Jamaah : ” Ya tidak lah Jo, rel itu dibangun di zaman jaman Belanda ketika saya  belum lahir, sayapun tidak tahu siapa yang membangunnya.”

Paijo : “Wah kalau gitu lain kali kalau sampeyan pingin langsung ke Jakarta tanpa lewat jalur yang sudah ada ya harus bangun sendiri jalannya, beli sendiri keretanya, dan nyetir sendiri”.

Jamaah : ” Lha mana bisa Jo aku ini bukan ahlinya bikin dan nyetir kereta api?”

Paijo : “Kalau dalam hal dunia yang sederhana saja sampeyan harus taqlid. Apalagi dalam hal agama. Kita ini tidak bisa baca Al Quran dan hadist, apalagi hafal dan memahami nya. Kalau saya nderek Kiai itu karena saya tahu saya ini bodoh dan bukan ahlinya.”  

Jamaah : “Astaghfirullah…. Ampuni saya ya Rabb…sekarang saya paham Jo”. #SeriPaijo

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *