Oleh: KH. Dr. Cholil Nafis

Ramadan telah tiba. Hari ini umat muslim mulai berpuasa di bulan yang penuh rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka.

Tak ada harapan yang lebih besar dalam ibadah puuasa kecuali ingin kembali menjadi manusia sejati dan dosanya diampuni seperti saat baru dilahirkan ke muka bumi.

Pada saat bulan Rajab tiba, Rasulullah SAW berdoa kepada Allah SWT, “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan mudah-mudah kami bisa hidup sampai pada bulan Ramadan.”

Doa ini menujukkan bahwa Nabi Muhammad SAW telah siap-siap untuk menjemput kedatangan bulan suci sehingga pada dua bulan sebelum Ramadan minta diberkahi.

Permohonan itu oleh Nabi SAW diupayakan dengan banyak berpuasa, berbuat baik dan bersedekah. Seakan-akan doa Rasulullah SAW itu hanya meminta dirinya dapat hidup sampai bulan Ramadan dan seusai itu telah pasrah untuk dipanggil-Nya.

Betapa mulia arti Ramadan sehingga Rasulullah SAW mengajukan permohonan khusus kepada Allah SWT agar bisa hidup dan beramal pada Ramadan. Ramadan bagi orang yang beriman tak ubahnya istana batin dan raga untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ada tiga macam sikap orang menyambut bulan suci Ramadan. Pertama, menganggap datangnya bulan Ramadan adalah pengganggu terhadap rutinitas kehidupan konsumsinya.

Merasa tidak nyaman dalam melalui hari-hari di bulan Ramadan karena tidak dapat mengonsumsi di siang hari dengan bebas sehingga harus menunggu malam hari, bahkan terasa mengganggu pada produktifitas kerjanya.

Kedua, menyambut bulan Ramadan dengan persiapan konsumsi yang mencukupi, sehingga yang dipersiapkan adalah bahan makanan yang cukup untuk persediaan selama bulan Ramadan.

Biasanya orang semacam ini hanya berpikir tentang menu makanan saat bersaur dan berbuka. Ia tidak ingin melewati waktu sebelum dan setelah berpuasa tanpa memenuhi selera makan dan cukup gizi.

Ketiga, menyambut bulan Ramadan dengan mempersiapkan rohani untuk bertaubat dan meningkatkan derajat ketakwaan kepada Allah SWT. Ia menyambut bulan Ramadan dari jauh-jauh hari dengan membersihkan hati dan latihan ibadah layaknya pada bulan Ramadan.

Sebagaimana Rasulullah SAW lakukan bahwa pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban banyak berdo’a untuk diberkahi sekaligus banyak berpuasa untuk menyambut bulan Ramadan.

Dari tiga tipe masyarakat dalam menyambut bulan Ramadan hanya tipe yang ketiga yang sungguh diharapakan dapat meraih dan kembali kepada fitrah.

Pelaksanaan puasa sebulan penuh menjadi tumpuhan harapan untuk dapat pengantar kembali menjadi manusia yang baru dilahirkan.

Simbol baju baru, sarung baru dan semua pakaian serba baru setelah pelaksanaan puasa Ramadan untuk menunjukkan bahwa dirinya telah kembali menjadi manusia yang baru sama sekali, baik raga, jiwa maupun rohaninya.

Ramadan menjadi tumpuhan harapan bagi orang beriman dalam menggali potensi kemanusiaan dan menggapai derajat takwa yang sempurna. Sebab hanya pada bulan puasa yang setiap gerak gerik manusia beriman menjadi pahala dan hitungan pahalanya dilipatgandakan.

Menyambut dan memulai puasa di bulan Ramadan harus diawali dari diri yang paling mendasar, yaitu Iman kepada Allah SWT sehingga menjalankannya penuh ikhlas.

Sebab panggilan berpuasa bukan karena ketahanan tubuh atau badan yang kekar tetapi karena ada rasa iman sehingga rela meninggalkan makan, minum dan berhubungan seks dengan pasangan yang sah di siang hari demi mengharap ridha Allah SWT.

Selain secara fisik berpuasa, juga disiapkan berpuasa secara perilaku. Hindarkan diri dari perilaku tak terpuji dan perbuatan dosa. Jika diri orang mukmin berpuasa secara fisik namun perilakunya tak dapat dikendalikan dari perbuatan dosa maka puasanya tak berarti apa-apa kecuali lapar dan haus.

Lebih penting lagi jika hatinya bisa berpuasa untuk selalu merasa hadirnya Allah SWT dalam diri dan kehidupannya.

Rasulullah SAW bersabda, “Jika malam pertama bulan Ramadân sudah tiba, maka setan-setan dan jin nakal dibelenggu, pintu-pintu neraka Jahanam ditutup tidak ada satu pun yang terbuka, pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pun yang tertutup. Kemudian ada malaikat yang menyeru, “Wahai para pencari kebaikan, menghadaplah (ke Allah SWT dengan memperbanyak ketaatan)! Wahai para pelaku keburukan, berhentilah !Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki banyak hamba yang dibebaskan dari siksa api neraka. Itu terjadi setiap malam (bulan Ramadân).” HR. Bukhari dan Muslim.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *