Konon Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273) adalah penyair yang bait puisinya paling banyak dibaca dan dikutip di Eropa. Jadi bukan puisi karya Pablo Neruda atau Kahlil Gibran. Tak aneh jika UNESCO pada 800 tahun dari kelahirannya menetapkan tahun 2007 sebagai Tahun Rumi Internasional, karena ia dianggap sebagai salah satu tokoh spiritual terbesar sepanjang masa yang menyuarakan pesan-pesan cinta, kemanusiaan dan perdamaian. Lebih dari itu, di Spanyol rutin setiap tahun diadakan Malam Untuk Rumi yang dihadiri dan bertemu para pecinta Rumi seluruh dunia dari berbagai latar belakang agama dan bangsa. Di Indonesia sendiri buku terjemahan mengenai Rumi merupakan salah satu buku terlaris tanpa tanding. Rumi meninggal di Konya (Quniyah) di Turki dan makamnya tak pernah sepi dari peziarah sampai saat ini. Banyak karyanya dalam bidang spiritual dan seni, salah satunya sangat legendaris adalah cara zikir dengan seni musik dan tari. Nama tari itu adalah Tarian Sema atau The Withling Darvishes atau Darwisy yang Berputar seperti gasing atau angin puyuh. Konon Tari Ballet dan Flamenggo yang terkenal di Eropa mengadobsi Tarian Sema ini, tapi sudah minus unsur spiritual.
Tarian Sema
Ketika engkau menari seluruh
alam semesta menari
Semua alam berputar di sekitarmu
dalam perayaan tiada akhir
Jiwamu kehilangan cengkeramannya
Tubuhmu membuang kelelahannya
Mendengar tepukan tanganku
Tepukan gendangku
Engkau mulai berputar
Tarian dinamis ini diiringi oleh musik rohani. Musik rohani kata Kuswaidi berbeda dengan musik pada umumnya. Musik kebanyakan menyentuh dan “mengusik” dimensi estetis pada pendengaran pemirsanya. Juga merambah pada getar-getar psikisnya. Itu sudah paling banter. Sedang musik rohani lebih menusuk pada keheningan hati dan keluasan serta keagungan padang roh.
Secara lahiriah, ekspresi musik rohani tidak jauh berbeda dengan musik kebanyakan. Adapun yang membedakan dengan musik pada umumnya adalah adanya kekuatan makna dan nilai transendental yang bersemayam dengan kukuh di dalamnya.
Tidak setiap musik yang bernuansa Timur Tengah atau kearab-araban bisa disebut sebagai musik rohani. Sama sekali tidak. Malah sebaliknya: banyak di antara musik tersebut yang bernuansa profan (duniawi). Menjadi bagian dari gemuruh segala yang fana.
Musik rohani juga disebut sebagai musik samawi. Musik langit. Musik transendental. Musik yang bisa eksis dengan hanya dihablurkan dari dua alat musik yang sangat sederhana: seruling dan rebab. Suara Seruling dan Rebab adalah suara jiwa, ketika dimainkan sang jiwa mulai menari-nari. Itulah musik rohani yang sumber estetisnya tak lain adalah gemuruh hati dan rohani yang sedang dicekam oleh gigil cinta dan kerinduan yang paling menyiksa dan menyakitkan.
Ketika Maulana Jalaluddin Rumi sedang berada di tengah rimba musik samawi itu, beliau menjadi mabuk dengan anggur rohani, anggur keilahian yang kelezatannya tak akan pernah tertandingi oleh kelezatan anggur mana pun di dunia ini. Baik anggur yang merah, yang hitam maupun yang hijau.
Tetes-tetes airmata beliau yang merupakan bukti paling gamblang dan paling absah tentang bertahtanya cinta dan kerinduan di dalam hatinya terus-menerus berjatuhan satu demi satu, mengucur dari kesucian jiwanya dan melewati pelupuk kedua matanya.
Derita yang sangat menyayat hati lantaran perpisahan dengan Kekasih itu telah melahirkan dentingan musik samawi yang sungguh memilukan. Dan derita itu pula yang telah menggiring dan mendorong para pemabuk Ilahi untuk tercebur ke dalam telaga kemabukan yang begitu pedih sekaligus menggairahkan secara spiritual.
Ketika Maulana Jalaluddin Rumi itu sedang berada di bawah bimbingan guru rohaninya, Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi, beliau mendengar, menyimak dan merasakan dentingan musik samawi itu sedemikian asyiknya, dari dimensi musikal rohani sang guru, dengan tanpa rebab, tanpa seruling dan tanpa alat musik apa pun yang lain. Itulah kemutlakan musik rohani. Kemudian yang terus melakukan dan melestarikan zikir dengan Tari Sema ini adalah Tarekat Rumiyah atau Mawlawiyah di Turki, juga Tarekat Chistiyah di India dan Tarekat Haqqani Naqsyabandiyah yang menambahkan musik marawis ke dalam tariannya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

No responses yet