Jamaah : “Jo aku dengar engkau akan berhenti dari warung Yuk Tin, apa benar? Bagaimana nasib warung ini jika tidak ada kamu?
Paijo : “Bukan berhenti kang, saya harus mengikuti dan patuh pada takdir untuk mengurusi sesuatu yang lebih besar tanggungjawabnya. Soal warung ini, itu sudah ada yang punya, biarlah yang punya yang menjaga dan menetapkan siapa yang harus mengurusnya.”
Jamaah : “Apa ada tanggungjawab yang lebih besar dari mengurus warung Yuk Tin ini Jo. Bukankah di sini kamu mendapatkan amanah yang sangat besar menjaga kedamaian dan keserasian jamaah yang berbeda-beda?”
Paijo : “Kata Yuk Tin menyiapkan generasi masa depan yang kuat secara material, sosial, intelektual dan spiritual adalah tugas utama setiap manusia. Tugas inilah yang jarang dilakukan manusia, padahal tugas ini wajib dan kalau tidak dilakukan semua akan berdosa dan menanggung adzab Allah.”
Jamaah : “Lho Jo apakah wabah Corona yang sekarang terjadi ini adalah pertanda akan lalainya kita mendidik generasi masa depan yang baik itu?”
Paijo : “Bisa jadi kang, lihatlah sekarang semua kebiasaan jadi serba terbalik, dengan datangnya Corona ini kita dipaksa merenungkan kembali posisi dan kesadaran kita sebagai hamba yang benar-benar lemah. Semua proses pendidikan seolah “berhenti” karena tak memberikan banyak “arti”. Kita tak lagi bisa berbangga dengan segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan bahkan agama kita. Negara-negara maju tak kuasa menahan covid 19 sama lemahnya dengan negara-negara miskin dan berkembang. Negara pusat agama juga tidak bisa berbuat banyak kecuali menyerah dengan hukum kedaruratan. Banyak orang pinter dan kaya sekarang mati dalam keadaan “miskin” segalanya. Sekarang tiba-tiba banyak orang “beragama” dengan Corona. Meskipun tidak banyak merubah watak manusianya akan tetapi Corona telah membalikkan semua logika sains dan agama yang selama ini hampir disamakan dengan tuhan.” #SeriPaijo

No responses yet