Pada saat Syaikhona Maimoen Zubair mengaji di Makkah pada tahun 1950an, beliau berumur 23 tahun. Pada saat itu, Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki berumur 5 tahun dan Syaikh Muhammad Yasin bin Isa Al-Fadani berumur 36 tahun.
Hal ini sering didawuhkan oleh Syaikhona Maimoen Zubair sendiri.
Seperti diketahui bahwa Mbah Maimoen mengaji kepada Abahnya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki yang bernama Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki.
Dan setelah Sayyid Muhammad dewasa, Syaikhona Maimoen Zubair juga banyak mendapatkan Ijazah dan Sanad berbagai macam kitab dari Sayyid Muhammad.
Mbah Moen berguru kepada Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki yang lebih muda delapan belas tahun.
Syaikhona Maimoen Zubair juga berguru kepada Syaikh Muhammad Yasin Al-Fadani. Dan mendapatkan semua kitab dari jalur Syaikh Yasin.
Kanthongumur pernah ditunjukkan kertas ijazah Mbah Moen yang berstempel dan bertanda tangan Syaikh Yasin Al-Fadani.
Dari keterangan di atas, bisa kita ketahui bahwa selisih umur antara Mbah Moen sebagai murid dan Syaikh Yasin sebagai guru sekitar tiga belas tahun.
Dan In Syaa ALLOH pada bulan Romadhon ini, di Majlis Ta’lim Sabilun Najah Kramatsari III Pekalongan Barat akan dibacakan kitab Muchtashor Siroh Nabawiyah Karya Syaikh Abdurrahman Al-Dayba’i yang dita’liqi oleh Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Dan akan dibaca setelah shubuh.
Adapun setelah sholat tarawih, In Syaa ALLOH akan dibacakan kitab Nushushul Akhyar Fish Shoumi Wal Ifthor karya Syaikhona Maimoen Zubair.
Kajian ke-dua kitab tersebut akan dimulai pada tanggal 1 Romadlon 1442 H.
Dan kitab tersedia di Majlis Ta’lim Sabilun Najah Kramatsari III Pekalongan.
Dan Alhamdulillah, kemarin sowan-sowan kepada para putra Syaikhona Maimoen Zubair dan meminta doa restu untuk kemudahan dalam mengkaji kedua kitab tersebut.
***
Sowan kepada Syaikhona Muhammad Najih Maimoen.

No responses yet