“Sahur…sahur….sahur…imsak kurang 10 menit….sahur….sahur…. sahur.” Terus berkumandang mengingatkan ummat yang berpuasa menjelang waktu subuh dari masjid kampung untuk segera makan sahur. Suara dari marbot masjid yang sudah relatif tua itu membawa ingatanku pada waktu kecil. Menjelang subuh kami sudah berangkat ke Masjid Jami kota Lumajang untuk kemudian sekedar jalan-jalan pagi di alun-alun. Begitulah kami menikmati berkah Ramadhan sewaktu kecil setelah malam sebelumnya bertadarus bersama sambil menikmati kue kiriman para jama’ah.
Setelah menjalankan amanah “membuka” sholat tarawih pertama di masjid Jami Al Muttaqien takdir membawa kami “mudik” lebih awal. Seusai sahur pertama kami langsung meluncur ke kampung halaman untuk takziah sekaligus mengantar kakak yang mendahului kami “mudik” kepada Sang Pemilik. Banyak sekali pesan-pesan tersirat dan tersurat yang kami dapatkan selama sehari semalam kemarin. Salah satunya adalah “menegaskan” betapa menyambung tali silaturahmi adalah sebuah amanah yang gampang-gampang susah untuk dirawat dan diperkuat sambungannya. Apalagi di tengah wabah Corona dimana kami harus lebih hati-hati dalam berinteraksi meski rindu begitu membuncah karena begitu lama tak bersua dengan saudara.
Setiap perpisahan pada hakekatnya adalah sebuah perjumpaan. Kami yang begitu lama tak bertemu saudara dan kerabat akhirnya dipaksa bertemu oleh pemilik sifat Sang Maha Pemaksa. Di antara ekspresi duka juga ada ekspresi bahagia karena perjumpaan kami yang tak terencana. Seiiring dengan do’a terbaik untuk Almarhumah yang terus mengalir agar perjumpaannya dengan Allah berakhir dalam takdir Husnul khatimah. Kami hatur rasa syukur danTerimakasih kepada semua saudara, kerabat, sahabat dabn kawan-kawan semua atas do’a terbaik untuk Almarhumah. Tak ada yang lebih bermakna sebagai balasan dari kami yang takberdaya, semoga Allah membalas kebaikan panjenengan semua dengan balasan yang jauh lebih mulia.

No responses yet