Walau kematian itu memisahkan antara yang hidup dan yang mati, tapi itu tidak berlaku bagi para Nabi dan para wali Gusti Allah. Para Nabi dan para wali Gusti Allah diberi keistimewaan dan rejeki oleh Gusti Allah bisa jadi perantara syafa’at dan hidayah bagi manusia yang masih hidup di dunia. Sehingga mereka masih hidup dan bisa berhubungan dengan yang hidup, walau jasadnya telah dimakamkan. Seperti yang dilakukan penduduk Samarkhan yang bertabaruk (mengambil berkah) dengan makam Imam Bukhori.

Imam Abu Ali Al Ghossani bercerita, bahwa Imam Abul Fath Nashr bin Al Hasan As Sakatiy As Samarqondiy telah bercerita kepada beliau : 

Kami datang dari negeri Valencia (Spanyol) pada tahun 464 H. Saat itu, kami menemui selama beberapa tahun hujan tidak turun pada negeri kami, Samarkhan. Orang-orang telah melakukan sholat istisqo’ (sholat meminta hujan) beberapa kali, namun hujan tidak juga turun. 

Kemudian ada seorang laki-laki sholeh yang dikenal dengan kesholehannya mendatangi Qodhi negeri Samarkhan. Dia berkata, “Saya sebenernya punya satu pendapat yang hendak saya sampaikan kepada panjenengan, wahai Qodhi,”. 

Sang Qodhi menanggapi, “Apa itu, Kisanak ?”. 

“Saya punya firasat, supaya panjenengan keluar bersama orang-orang menuju kubur Al Imam Muhammad bin Ismail Al Bukhori. Makam beliau ada di Khartank. Lalu kita melakukan sholat istisqo’ di samping kubur beliau, semoga Gusti Allah menurunkan hujan kepada kita,”

Sang Qodhi menjawab, “Ya, saya setuju pendapatmu, Kisanak!”. 

Maka, Sang Qodhi pun berangkat dan diikuti oleh rombongan jama’ah, dari Samarkhan bersamanya menuju Khartank. Jarak antara Khartank dan Samarkhan sekitar tiga mil. 

Setelah sampai di kubur Imam Al Bukhori di Khartank, Qodhi tersebut melakukan istisqo’ bersama jama’ah. Semua jamaah dari Samarkhand itupun menangis di sisi kubur Imam Bukhori dan meminta syafa’at dengan perantara penghuni kubur (tawasulan dan tabarukan). 

Setelah itu, Gusti Allah Ta’ala mengutus awan yang membawa hujan sangat lebat. Sampai jamaah dari Samarkhan itu pun tinggal di Khartank selama kurang lebih tujuh hari. Karena tidak seorang pun yang bisa pulang ke Samarqand saking derasnya hujan yang turun.

Kisah ini terabadikan di kitab Siyar A’lamin Nubala’ Imam Adz Dzahabi dan Thobaqotus Syafi’iyyah Al Kubro Imam Tajuddin As Subki. Sanadnya terbukti shohih (valid).

Jadi gak semua orang mati itu terputus sama sekali dengan dunia. Orang sholeh dan orang-orang dikehendaki Gusti Allah, tidak pernah mati, tetap hidup dengan membawa rahmat Gusti Allah. Kita pun bisa menjadikan mereka perantara (tawasul dan tabarruk) agar Gusti Allah sudi memberi rahmat-Nya pada kita.

Di kisah tersebut pun mereka tidak cukup hanya berdoa dari rumah walau bertawasul pada orang sholeh. Bahkan perlu untuk ziarah (nyarkub) pada makam orang sholeh sebagai adab kita pada kekasih Gusti Allah. Kalo kita bisa menunjukkan adab pada kekasih Gusti Allah, tentu Gusti Allah ridho pada kita. Seperti kalo ada orang menghormati istri kita, kita sebagai suami pun akan menghormati orang tersebut.

Karena hakikatnya, semua bumi ini bisa aman dan makmur hanya karena Gusti Allah memandang ada orang sholeh di daerah itu (ahlul qoryah), baik yang hidup maupun yang meninggal. Merekalah orang yang dicintai Gusti Allah dan jadi perantara rahmat. Kepada merekalah kita memohon agar mereka mendoakan kita sehingga Gusti Allah memandang kita dengan rahmat-Nya pada kita.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *