Masih kuat menancap dalam ingatan, sejak kecil kita “dipaksa” menghafalkan surat al Fatihah secara tidak langsung ataupun secara langsung. Dengan kita diajak sholat oleh bapak dan ibu, kita sebenarnya tengah dipandu memasuki sebuah kesadaran akan kebenaran abadi yang sejati. Sebuah kesadaran yang harus dihafal bukan hanya dalam memori otak dan akal, tetapi juga harus tertancap kuat dalam nurani hati. Sehingga nilai-nilai ajaran Al Fatihah sudah “menghabitus” dalam diri seorang muslim sejak kecil. Inilah salah satu alasan kenapa Al Fatihah harus dikenalkan kepada manusia sejak dini.
Al Fatihah sering dimaknai secara sederhana sebagai “pintu pembuka” Al Qur’an. Bukan saja karena surat ini menjadi surat pertama dalam mushaf Al Qur’an. Tetapi lebih dari itu, karena surat ini begitu kaya dengan makna. Al Fatihah adalah “abstrak” dari Al Qur’an. Sebuah ringkasan padat dan substantif dari sebuah firman Tuhan yang panjang. Banyak para alim ulama yang menyatakan jika Al Fatihah itu mewakili semua pesan yang ada di dalam Al Qur’an, mulai dari pesan inti ketauhidan, hakekat kehidupan yang penuh cinta kasih, pentingnya kesadaran penghambaan dan keseimbangan alam, pentingnya rendah hati dalam kehidupan di dunia dengan cara menguatkan ketaqwaan lewat “pembacaan” sejarah ummat terdahulu, baik yang dimuliakan ataupun dihinakan oleh Allah ketika masih dunia dan juga gambaran di akherat nya nanti. Al Fatihah adalah sebuah kesempurnaan yang mewakili keabadian alam sorgawi sekaligus memberikan gambaran kefanaan alam duniawi.
Begitu pentingnya kedudukan Al Fatihah bagi manusia, terutama seorang muslim, sehingga semua muslim “diwajibkan” menghafal, memahami, dan mengamalkan kandungan maknanya yang tak terbatas itu sekuat mungkin. Inilah satu-satunya surat yang wajib dibaca bukan hanya ketika kita sholat menghadap Allah. Tetapi juga di dalam kita memulai sebuah amal perbuatan. Sehingga perbuatan itu menjadi memiliki “berkah”. Begitulah Al Fatihah yang juga sering digunakan sebagai sarana untuk memulai ritual berdo’a. Bahkan ayat pertamanya seringkali dipakai oleh siapapun sebagai pembuka sebuah perbincangan dan perbuatan. Seolah tanpa bismillah tidak akan ada berkah di dalam aktivitasnya.
Manusia hakekatnya adalah penghuni sorga. Namun ditakdirkan harus menjalani kehidupan dunia yang fana karena berbasis hukum jasadiah atau materi semata. Tapi manusia ketika turun juga membawa ruh yang menjadi basis dari hukum kehidupan akherat yang “abadi”. Dalam konteks inilah Al Fatihah menjadi pondasi yang harus ditanamkan sejak dini pada manusia. Bahwa kehidupan sorgawi yang abadi itu sebuah keniscayaan dari sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Sifat yang sudah dikenalkan oleh Allah di awal surat Al Fatihah yang seharusnya bisa diamalkan oleh manusia agar bisa merasakan “keabadian” di dunia. Dengan menjadi manusia yang penuh Cinta dan Kasih kepada semua mahluk Allah.
Kita akan menjadi sadar tak ada yang abadi di dunia ini kecuali Cinta itu sendiri. Betapa banyak kaum terdahulu yang dihinakan karena jauh dari pesan Al Fatihah. Namun demikian tidak sedikit kaum yang dimuliakan Allah karena hidup dengan nilai-nilai yang ada dalam Al Fatihah. Demikianlah Al Fatihah hakekatnya adalah jembatan pertama sekaligus terakhir yang menghubungkan manusia dengan “keabadian”. Sehingga pantas jika dalam setiap doa selalu diawali dan diakhiri dengan surat pertama Al Qur’an ini. #SeriPaijo

No responses yet