Setelah Nabi menikah dengan Sayyidah Khodijah, Nabi pun tinggal di rumah Sayyidah Khodijah yang berapa di dekat Ka’bah. Kemudian mungkin muncul banyak pertanyaan apakah yang sehari-hari Nabi SAW dan Sayyidah Khodijah lakukan selama 15 tahun pertama? yaitu sebelum Nabi SAW mendapatkan wahyu.
Apakah Nabi tetap berniaga dengan harta milik Khodijah? Atau mereka selama itu hanya beribadah dan berdzikir kepada Allah? Apa hal-hal yang terjadi selama masa tersebut? Apa keistimewaan yang dimiliki Sayyidah Khodijah sehingga Nabi tidak memikirkan perempuan lain sampai ketika Sayyidah Khodijah meninggal? Siapa saja yang tinggal di dalam rumah Nabi SAW dan menyaksikan keseharian beliau?
Juga mungkin ada beberapa pertanyaan-pertanyaan lain yang diantaranya sulit ditemukan jawaban yang memuaskan. Tetapi yang terpenting selama 15 tahun pertama pernikahan Sayyidah Khodijah dengan Nabi, beliau melayani Nabi SAW dengan segenap jiwa dan raganya, juga beliau sibuk melahirkan, merawat, dan membesarkan putra putri Nabi SAW.
Dalam masa tersebut Nabi dikaruniai Sayyidah Zainab, kemudian Ruqoyyah, kemudian Ummu Kultsum, kemudian Abdulloh, kemudian Qosim (yang keduanya meninggal ketika masih kecil), dan kemudian Sayyidah Fatimah Az Zahra. Selain putra putri beliau juga ada orang lain yang dirawat, tumbuh besar, dan hidup bersama Nabi SAW di rumah beliau sampai disebutkan tidak kurang dari 16 orang yang tinggal serumah dengan Nabi SAW.
Diantaranya adalah sepupu Nabi yaitu Sayyidina Ali bin Abi Tholib, yang mana Nabi meminta kepada Abu Tholib untuk berkenan jika Ali dirawat oleh Nabi, karena melihat kondisi keluarga paman beliau yang serba kekurangan dan memiliki banyak anak. Juga sebagai balas budi Nabi SAW karena telah dirawat oleh Abu Tholib setelah kakek beliau Abdul Muttholib meninggal.
Juga ada sahabat Zubair bin Awwam bin Khuwailid yang merupakan keponakan Sayyidah Khodijah. Ayahnya meninggal ketika beliau berumur 2 tahun. Juga beliau adalah sepupu Nabi SAW karena ibu beliau adalah bibi Nabi SAW yang bernama Shofiyah binti Abdul Muttholib. Beliau adalah pahlawan yang terkenal dalam perang Uhud saat melindungi Nabi SAW.
Kemudian putra angkat Nabi SAW Zaid bin Haritsah, pahlawan yang terkenal dalam perang Mu’tah dan satu-satunya Sahabat yang namanya disebutkan di dalam Al Quran. Juga tinggal di rumah tersebut Maysaroh, budak Sayyidah Khodijah yang menemani Nabi SAW ketika berniaga membawa harta Sayyidah Khodijah ke negeri Syam. Juga ada putra putri Sayyidah Khodijah dari suami pertama dan kedua.
Meskipun Nabi SAW belum diutus dan belum turun wahyu akan tetapi dalam 15 tahun ini tidak disebutkan sekalipun ada masalah rumah tangga yang terjadi di antara Nabi SAW dan Sayyidah Khodijah, tidak pernah sekalipun beliau menyusahkan Nabi atau membuat Nabi SAW marah. Berbeda dengan istri-istri Nabi yang lain sampai-sampai Nabi pernah tidak menyapa istri-istrinya selama sebulan, juga Nabi sampai memberi pilihan kepada istri-istrinya apakah ingin tetap menjadi istri Nabi dan hidup serba kekurangan atau berpisah dengan Nabi dan mendapat harta yang berlimpah. Itulah salah satu keistimewaan yang hanya dimiliki oleh Sayyidah Khodijah bintu Khuwailid.
Sampai 2 tahun sebelum turunnya wahyu yaitu ketika Nabi berumur 38 tahun, Nabi mulai suka melakukan kholwat, menjauh dari keramaian, bertafakkur, berdzikir, dan beribadah kepada Allah SWT di atas bukit atau di dalam gua yang ada di sekitar kota Makkah. Terutama di gua Hira’ yang berada di atas Jabal Nur. Biasanya beliau pulang hanya untuk mengambil bekal setelah seminggu, sepuluh hari, atau bahkan sebulan penuh.
Dalam keadaan seperti itu, tidak pernah Sayyidah Khodijah sekalipun bertanya kapan Nabi pulang, mengeluh, atau merasa kesal karena harus ditinggal lama dengan menanggung beban rumah tangga yang luar biasa besarnya. Beliau harus sendirian merawat putra putrinya dan menyediakan kebutuhan seluruh penghuni rumah tersebut. Hal itu karena ketulusan rasa cinta yang besar dari beliau juga keyakinan yang kuat bahwa suami beliau bukan merupakan orang biasa.
Juga beliaulah yang selalu menyiapkan bekal untuk sang suami tercinta. Terkadang jika datang waktu pengambilan bekal akan tetapi Nabi belum pulang maka Sayyidah Khodijah sendiri yang mengantarkan bekal. Beliau tidak pernah menyuruh orang lain untuk hal tersebut. Bisa kita bayangkan bagaimana beratnya seorang perempuan bangsawan yang kaya raya, berumur di atas 50 tahun harus berjalan sendirian sepanjang 5-6 km dengan membawa makanan tanpa sedikitpun menunjukkan rasa lelah dan takut.
Ketika sampai di gua Hira’ terkadang beliau tidak melihat Nabi SAW. Beliau pun khawatir dan mencari Nabi di sekitar gua dan jika masih belum ketemu beliau sampai menyuruh orang untuk mencari Nabi SAW. Hatinya tidak tenang sebelum menemui sang suami tercinta. Kadang-kadang Nabi juga merasa ketika istrinya akan naik gunung mengantar bekal, maka Nabi turun ke bawah dan menemui Sayyidah Khodijah. Terkadang Sayyidah Khodijah juga menemani Nabi SAW, menghibur, mendengarkan cerita, dan jika sudah larut maka beliau menemani Nabi tidur bersama di bawah cahaya rembulan. Di tempat penuh romantisme tersebutlah sekarang didirikan Masjid Al Ijabah.
Sampai ketika beberapa bulan sebelum turunnya wahyu Nabi mulai mendapat Mubassyiroot yaitu setiap bermimpi beliau selalu mendapati mimpi tersebut menjadi kenyataan. Hingga akhirnya pada 17 Romadhon saat beliau berumur 40 tahun, beliau didatangi Malaikat Jibril dengan membawa wahyu pertama yaitu Surat Al Alaq ayat 1-5, setelah itu beliau merasa ketakukan dan cepat-cepat pulang. Apalagi ketika di tengah perjalanan beliau melihat wujud asli Malaikat Jibril yang sayapnya menutupi langit.
Ketika sampai rumah, Nabi SAW gemetar dan meminta Sayyidah Khodijah untuk menyelimuti beliau. Sayyidah Khodijah akhirnya menyelimuti, memeluk, dan menenangkan beliau. Setelah itulah Nabi menceritakan hal yang baru dialaminya kepada Sayyidah Khodijah. Nabi pun bersabda, “Wahai Khodijah, sesungguhnya aku mengkhawatirkan diriku”. Dari situlah muncul bukti kekuatan iman dan kebesaran akal yang dimiliki oleh Sayyidah Khodijah. Pertama, beliau menjawab, “Tidak wahai suamiku, demi Allah Dia tidak akan menghinakanmu selamanya, karena engkau selalu menolong orang yang membutuhkan, menanggung beban orang lain, juga selalu menyambung tali silaturrohim”.
Kedua, ada hal menakjubkan yang dilakukan oleh Sayyidah Khodijah saat itu yaitu ketika Nabi melihat Malaikat Jibril masuk ke rumah beliau maka Sayyidah Khodijah menyuruh Nabi duduk di samping kanan beliau dan berkata, “Apakah engkau masih melihatnya?” Nabi pun menjawab, “Iya wahai istriku”. Kemudian Nabi disuruh duduk sebelah kiri beliau dan menanyakan hal yang sama, maka Nabi pun menjawab seperti jawaban pertama. Kemudian Sayyidah Khodijah membuka hijabnya seraya menanyakan hal tersebut maka Nabi menjawab, “Tidak, aku sudah tidak melihatnya lagi”. Setelah itu Sayyidah Khodijah berkata, “Kalau begitu tenanglah wahai suamiku karena itu bukanlah setan, itu adalah Malaikat”. Darimanakah Sayyidah Khodijah mendapatkan ide yang cemerlang tersebut?
Ketiga, Sayyidah Khodijah membawa Nabi SAW kepada sepupu beliau yang bernama Waroqoh bin Naufal, seorang pendeta yang banyak mengetahui ilmu ahli kitab, setelah mendengar cerita Nabi SAW, Waroqoh pun terperanjat seraya berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya itu adalah Malaikat yang turun kepada Musa, seandainya saja aku masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu pasti aku akan menolongmu”. Nabi pun bertanya, “Apakah aku akan diusir oleh kaumku?” Waroqoh menjawab, “Iya, tidak ada seorangpun yang mengalami seperti dirimu ini kecuali pasti akan dimusuhi dan diusir oleh kaumnya”.
Itulah sekilas kisah Sayyidah Khodijah dari masa pernikahan dengan Nabi SAW sampai diutusnya Nabi SAW. Untuk lika liku kisah beliau setelah Nabi diutus sampai wafatnya beliau pada tahun ke sepuluh dari kenabian, InsyaAllah akan diteruskan di part 3. Doakan aja biar cepet baper lagi biar bisa nerusin, hahaha. Udah lama banget gak nulis jadi kocar kacir kalimatnya gak aturan.

No responses yet