Nabi Muhammad dalam satu riwayat menyatakan bahwa kaumnya atau ummatnya tidak akan jatuh dalam lembah kemusyrikan (sebagaimana ekspresi kemusyrikan kaum Qurais jahiliyah). Sesuatu yang dikuatirkan nabi Muhammad akan ummatnya adalah rasa cinta berlebihan kepada kenikmatan duniawi. Rasa  yang akan membuat mereka lalai dari hakekat berislam. Dan apa yang ditakutkan nabi benar-benar telah terjadi dan menjadi keumuman.  Bahkan sejak kekhalifah Usman Bin Affan dan Ali bin Abi Tholib benihnya telah mulai tumbuh subur dan memuncak di era Muawiyah. Proses ini terus berjalan hingga sekarang ini. Maka Islam pun berkembang dalam lautan tantangan pragmatisme duniawi yang terkadang bisa diatasi dengan baik, namun lebih sering mendatangkan beragam kesulitan dan kesengsaraan. 

Jika para Amirul mukminin yang sedang berkuasa adalah orang-orang yang ikhlas, dermawan, bertaqwa, dan meyakini akan kehidupan yang baik (pahala) jika melakukan amal yang baik berkeadilan dan berkemanusiaan. Maka lahirlah sebuah peradaban Islam yang merahmati alam semesta. Namun jika jadi pemimpin adalah orang-orang yang dholim, maka yang lahir adalah kedholiman yang bahkan tidak ternalar secara akal dan hati nurani. Hingga fitnah besar pembunuhan dengan cara yang sangat keji pernah menimpah cucu Baginda nabi Muhammad sendiri. Sejak itulah ummat seolah dibawa masuk pada labirin perpecahan yang tak pernah usai hingga saat ini. Semua ini bersumber dari rasa bakhil (kedekut) yang disebabkan karena begitu cintanya pemimpin dan orang kaya di antara  mereka pada kenikmatan dunia. 

Kedekut atau pelit alias bakhil dalam  bahasa Jawanya medit adalah sifat kebalikan dari dermawan. Jika kedermawanan membawa kita pada hadirnya kemudahan dan kebahagiaan. Maka sebaliknya bakhil atau kedekut akan memudahkan kita masuk dalam labirin kesengsaraan atau kesulitan  yang tak berkesudahan. Rasa cinta berlebihan kepada kenikmatan duniawi akan membawa manusia pada keinginan untuk mengumpulkan kekayaan dan merasa itu sebagai milik mereka tanpa terbersit sedikitpun bahwa semuanya itu adalah atas takdir dan kehendak Allah. Mari kita menengok pada hati, pikiran dan perasaAn kita sebagai ummat nabi Muhammad saat ini. Apakah yang ditakutkan oleh junjungan kita tersebut sudah memapar ke hati kita? Ke pikiran kolektif masyarakat kita? Atau bahkan sudah menjadi gaya politik negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim ? Mereka tak peduli lagi dengan ummat nabi Muhammad karena mereka takut miskin dan kehilangan kenikmatan duniawi yang sudah mereka genggam selama ini? Akibatnya mereka menutup mata terhadap keadaan sesama muslim yang hidup serba kekurangan di negara lain. Sehingga bermunculan konflik dan beragam musibah kemanusiaan yang seolah tak pernah bisa menemukan jalan keluarnya. #SeriPaijo

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *