Seorang ustad dikabarkan akan menikah lagi untuk kesekian kalinya dengan gadis muda. Maka segera viral foto keduanya di medsos. Benar atau tidak berita itu, yang jelas banyak pihak yang terdampak dari berita atau tepatnya rumor tersebut. Bukan hanya si ustad dan si gadis belia terdampak. Tetapi syari’at agama juga terdampak dan  semakin tersudut di mata Meraka yang mau paham tentang konteksnya. Sementara para penyebar isu yang paling bertanggung jawab, justru “menikmati” kesenangan semu di atas panggung kefanaan dunia medsos yang lebih fana dari kehidupan dunia itu sendiri. Inilah fakta kehidupan atau kebudayaan duniawi. Karena itu sangat penting dalam setiap kesempatan, bagi kita untuk selalu membaca ulang konstruksi budaya dalam hal ini “poligami” dalam konteks sejarah kebudayaan manusia. 

Sebagai mahluk yang pernah menghuni sorga, Adam dan Hawa adalah gambaran pasangan ideal yang seharusnya menjadi rujukan awal konsep perkawinan monogami. Sejak awal Allah menciptakan Adam dan Hawa sebagai satu pasangan penghuni sorga. Kondisi sorga yang serba ideal, menuntut sebuah pencapaian ideal juga bagi penghuninya. Tidak boleh melakukan sebuah kesalahan prinsip. Namun karena manusia memang ditakdirkan Allah untuk berbuat kesalahan, maka keduanya pun melakukan kesalahan sehingga mendapatkan “hukuman” diturunkan derajat kehidupannya di alam dunia yang serba fana, penuh senda gurau dan drama atau permainan. Keduanya baru bisa kembali ke sorga setelah melakukan pertaubatan dan diterima pertaubatannya oleh Allah. Sementara keturunannya terus melanjutkan kehidupannya sebagai manusia yang berkebudayaan “duniawi”, yang serba sementara dan palsu. Hanya amal baik yang diridhoi Allah yang bernilai pahala keabadian, yang implikasinya baru dirasakan manusia setelah proses pengadilan hisab amal manusia oleh zat yang Maha Adil.  

Manusia yang tak terhindarkan dari salah dan alpa inilah yang melahirkan kebudayaan duniawi. Maka tidak perlu  heran jika semua kebudayaan yang dilahirkan berpotensi besar “menyimpang” dari pakem kehidupan sorgawi. Kita bahkan bisa membaca bahwa konflik pertama sudah terjadi antara anak nabi Adam, Habil dan Qabil. Sebuah peristiwa tragis yang tidak mungkin terjadi di kehidupan sorgawi. Dari sinilah muncul kebudayaan duniawi yang penuh konflik dan pertumpahan darah. Termasuk dalam urusan perkawinan, yang terus menjadi perbincangan manusia sejak era nabi Adam. Namun sejak kapan sejarah poligami muncul? Inilah pertanyaan yang susah untuk digali bukti-buktinya. Yang jelas alasan “kekuasaan” adalah alasan paling primitif yang masuk akal untuk diperdebatkan sebagai pemicu urusan poligami ini.  Bukan alasan agama. Apalagi kalau melihat mitos penguburan korban pembunuhan manusia pertama yang terinspirasi oleh burung gagak. Bisa jadi pola kebudayaan “hidup poligami” di awal munculnya tradisi duniawi ini adalah terinspirasi oleh insting kebinatangan manusia yang diperhalus atau dimanusiawikan. Bukankah dalam “tradisi” kebinatangan, Pejantan  yang kuat dan berkuasa adalah yang bisa mengawini banyak betina. Fakta budaya ini terus berkembang di kehidupan fana manusia di dunia. Kita bisa lihat pada artefak sejarah kuno di hampir semua “suku bangsa”, betapa banyak gambaran Raja dan penguasa yang beristri banyak. Dalam tradisi Mesir, Persia, China dan Bizantium kuno sudah terlihat. Bahkan juga bisa kita temukan dalam tradisi bangsa2 di Nusantara yang para raja begitu suka menyimpan selir. 

Maka tidak perlu heran jika agama yang diturunkan Tuhan untuk memperbaiki kebudayaan dan menjaga nilai subtansi kemanusiaan yang  bernilai sorgawi, lebih menekankan pada sisi nilai universal seperti “Keadilan”, “Kedamaian”, dan “Keselamatan”. Karena itulah ukuran dasar kemanusiaan sebagai mahluk sorgawi. Poligami adalah identitas budaya mahluk dunia, bukan mahluk sorgawi. Maka ketika kultur sudah begitu mendominasi, nilai-nilai subtansi agama hanya bisa dijadikan “prasyarat” yang seharusnya menyadarkan manusia bahwa ketika berpoligami keadilan substantif tersebut akan sulit diwujudkan. Hanya bisa diusahakan sedekat mungkin. Karena dalam perkawinan monogami pun manusia belum tentu bisa mencapai level keadilan yang ideal. Jangankan adil kepada pasangan, adil pada diri sendiri saja kita seringkali gagal melaksanakan. Karena itu saya menjadi begitu heran, ada tokoh agama (dari agama apapun) yang menyematkan tradisi poligami sebagai identitas ajaran keagamaan mereka. Tapi inilah konsekwensinya hidup di dunia fana. Semua kehidupan ini adalah sebuah drama kontestasi budaya. Maka siapa yang menyadari bahwa kehidupan dunia adalah sebuah Senda gurau dan permainan semata, akan berpeluang besar untuk menjauhi kedholiman. Sebab hanya kehidupan ukhrowi yang benar-benar ideal. #SeriPaijo

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *