Cahaya Berpendar- pendar di kamarnya

Pada dini hari yang sunyi sepi, Rabi’ah bangun. Hatinya gundah gulana. Gelisah. Ia segera bangkit, mengambil air wudhu dan bermunajat kepada Allah. Ia menumpahkan seluruh duka lara dan kerinduannya yang menggamit relung kepada Allah. 

إلهي.. أنا يتيمة معذَّبة في قيود الرِّق وسوف أتحمَّل كل ألم وأصبر عليه، ولكن عذاباً أشدّ من هذا العذاب يؤلم روحي ويفكِّك أوصال الصبر في نفسي. الهى انت مقصودى ورضاك مطلوبى اعطنى محبتك.ومعرفتك. هذا هو غايتى. يا الهى.

“Duhai Tuhanku. Aku ini perempuan yatim piatu yang menderita dalam belenggu perbudakan manusia. Aku rela menanggung sakit tubuh dengan seluruh kesabaran yang aku miliki. Biarlah. Derita ini tak seberapa berat dibanding dengan derita yang akan aku alami di akhirat kelak yang akan membakar ruhku dan melepaskan kesabaranku. Wahai Tuhanku. Kerelaan-Mu lah satu-satunya harapanku, Anugerahi aku rasa cinta kepada-Mu dan pengetahuan tentang-Mu. Wahai Tuhanku. Itulah puncak cita-citaku”.

Begitulah Rabi’ah bermunajat setiap malam. Hatinya selalu dilanda resah gelisah. Ia menjadi jarang tidur.

Nah, pada suatu malam, manakala Rabi’ah tengah khusyu bermunajat, kamar Rabi’ah berpendar cahaya. Lampu di atas kepalanya berputar-putar mengelilingi kepalanya. Tuan rumah melihat cahaya itu, dan ia terperangah dalam kekaguman yang luruh. Esok harinya, Rabi’ah dibebaskan dan menjadi orang merdeka. Majikan itu merendahkan diri di hadapannya sambil memohon maaf atas perlakuannya kepada Rabi’ah selama ini.

Rabi’ah selanjutnya menempuh hidup sebagai “abidah”, pengabdi Tuhan seperti biarawati dalam dunia Kristen. Tiap dini hari bermunajat dan menumpahkan rindu kepad-Nya. Ia menyusuri jalan cahaya, mengunjungi pengajian-pengajian para sufi di kota itu. DIikabarkan, Rabi’ah antara lain mengunjungi Hasan al-Basri, pemimpin para sufi terkemuka di zaman itu yang kepadanya hampir semua sufi sesudahnya berguru. 

Banyak teman mengolok-olok sikap hidupnya itu. Mereka seperti tak setuju dengan jalan hidup barunya. Rabi’ah mengatakan : “O. Tuhan, mereka mencemoohku, lantaran aku mengabdi hanya kepada-Mu. Demi Kemuliaan dan Keagungan-Mu aku akan mengabdi kepada-Mu dengan seluruh darah dan nafasku”. 

Ia menggubah puisi indah :

وكنتُ أناجيكَ يا مَنْ تَرَى

                       خفايا القلوبِ ولسْنا نَرَاكَ

Aku membisikkan rinduku pada-Mu

Duhai Yang Melihat rahasia-rahasia hatiku

Sedang, kami tak melihat-Nya

يَا ذَا الَّذِى وَعَدَ الرِّضَا لِحَبِيبِهِ

أَنْتَ الَّذِى مَا اَنْ سِوَاكَ أُرِيدُ

Duhai Yang berjanji menyambut dengan riang kekasih-Nya

Duhai, Kau Yang tak ada yang lain yang aku harapkan.

Aku Terserah-Mu

Rabi’ah juga acap mengunjungi Imam Sofyan al Tsauri, seorang mujtahid mutlak sekaligus sufi besar. Begitu pula sebaliknya, al-Tsauri sering mengunjunginya. Keduanya saling belajar dan terlibat dalam dialog-dialog intensif dan berlama-lama tentang cinta Tuhan yang sering membuat keduanya menangis dalam “Khawf” (khawatir, cemas) dan “Roja”  (berharap akan Kasih Tuhan). Konon pada awal perjalanan spiritualnya Rabi’ah dibimbing seorang sufi perempuan : Hayyunah. Puisi yang sudah disebut di atas berasal dari dia. Rabi’ah suatu hari mendengarkan temannya bersenandung cinta kepada Tuhan :

Duhai Kekasih-ku Satu-satunya

Engkaulah yang memberiku kegembiraan membaca tiap malam

Lalu Engkau lepaskan aku ketika siang datang

Duhai Tuhanku, 

Aku ingin seluruh siang adalah malam

Agar aku selalu intim bersama-Mu 

Cinta Rabi’ah kepada Tuhan sedemikian rupa hebatnya, sehingga dia siap menyerahkan seluruh jiwa raganya kepada-Nya. Dia menerima apapun yang dilakukan sang Kekasih, bahkan rela jika Sang Kekasih memasukkan dirinya ke dalam neraka sekalipun. 

Dalam puisinya sebagaimana dikemukakan oleh Fariduddin Athar dalam “Tadzkirah al-Awliya, Rabi’ah mengatakan : 

الهى اني ما عبدتك خوفا من نارك ولا طمعا في جنتك ولكني عبدتك لأنك أهلا لذلك وابتغاء رضوانك ورحمتك ومغفرتك

Tuhanku, aku menyembah-Mu bukan karena takut akan neraka-Mu

Dan bukan pula karena mengharap surga-Mu

Aku menyembah-Mu karena Engkaulah yang berhak disembah

Dan karena mengharap rida dan ampunan-Mu.

Penulis lain mengemukakan dengan redaksi lain :

اللهم ان كنت تعلم انى عبدتك خوفا من نارك فعذبنى. وان كنت تعلم انى عبدتك راغبا فى جنتك فاحرمنيها وان كنت تعلم انى عبدتك شوقامنى الى وجهك الكريم فابحنى واصنع بى ما شءت

Wahai Allah, 

Jika aku mengabdi kepada-Mu karena takut neraka-Mu, 

Bakarlah aku

Bila aku mengabdi kepada-Mu karena menginginkan surgamu, 

Tutup saja pintunya

Tetapi bila aku menyembah-Mu karena aku cinta kepada-Mu 

maka bukalah tirai Wajah-Mu

Lalu silakan lakukan kepadaku apa pun saja

Puisi Rabi’ah ini mengingatkan kita pada puisi Imam Syafi’i :

لَو كانَ حُبُّكَ صادِقاً لَأَطَعتَهُ إِنَّ المُحِبَّ لِمَن يُحِبُّ مُطيعُ

Bila cintamu sungguh 

Niscaya kau patuh

Seorang pencinta

akan patuh kepada kekasihnya

Manakala suatu saat Rabi’ah berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji dalam perjalan dia bertemu dengan rombongan jemaah haji. Rabi’ah bertanya kepada mereka : “Ibu-ibu dan bapak-bapak. Kalian mau kemana?”. Mereka menjawab : “kami akan menuju dan mengunjungi “Baitullah”, Rumah Allah di Makkah”. Kakbah. Mendengar jawaban itu Rabi’ah tersenyum saja. 

Lalu mereka balik bertanya : “Kalau ibu mau kemana?”. Rabi’ah menjawab : “Aku akan menemui Pemilik Kakbah”.  tak hendak melihat Ka’bah, “Bait Allah”, rumah Tuhan, tetapi ingin melihat Pemilik Ka’bah (Rabb al-Ka’bah).  

Mereka tercengang. Tak mengerti.

Puisi-puisi Rabi’ah

Sejak Rabi’ah mengenal cinta, dia begitu amat piawai menggubah puisi-puisi cinta. Seorang bijakbestari mengatakan : “manakala seseorang sedang jatuh cinta, maka dia akan pandai menggubah dan menyenandungkan puisi”.

Puisi-puisi cintanya mengalir deras dari bibirnya yang basah. Dan bagi Rabi’ah Tuhanlah cinta pertama dan terakhirnya. Hatinya telah tertutup bagi cinta yang lain. Ya bagi selain Tuhan. Katanya suatu saat :

عَرَفْتُ الهَوى مُذ عَرَفْتُ هواك   

وأغْلَقْتُ قَلْبي عَلىٰ مَنْ عَاداكْ

وقُمْتُ اُناجِيـكَ يا مَن تـَرىٰ   

خَفايا القُلُوبِ ولَسْنا نراك

Aku mengenal cinta

Sejak aku mengenal cinta-Mu

Hatiku telah terkunci bagi selain-Mu

Aku selalu mendesahkan nama-Mu

Duhai, Kau Yang Melihat  

Seluruh rahasia-rahasia setiap hati

Sedang aku yang tak bisa menatap wajah-Mu

Saat aku menonton film Rabi’ah yang diperankan oleh penyanyi legendari Mesir ; Ummi Kultsum, seperti sudah disebut, aku ikut terlibat dalam emosi melankolis, terutama saat Ummi Kultsum menyanyikan lagu cinta Rabi’ah itu. Aku selalu hanyut dalam suasana hati sendu dan terisak-isak. Ummi Kultsum, sang “Kaukab al-Syarq”, bintang kejora dari Timur itu, memerankan Rabi’ah demikian penuh penghayatan dan sangat mengesankan.

Bersambung

01.05.2020

Repost, 30.04.21

HM

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *