Saya mengenal Imâm al-Qushayrî sebagai penulis kitab Risâlah al-Qushayrîyah fî ‘Ilm al-Taşawwuf. Kali ini saya membaca buku lain yang cukup unik yang ditulis oleh ulama taşawwuf abad ke-5 H. ini, yakni kitab Nahw al-Qulûb. Nahw merupakan salah satu disiplin ilmu bahasa Arab yang penting yang mempelajari tata bahasa (gramatika). Namun sebagai ahli bahasa dan ahli tasawuf, Imâm al-Qushayrî menerapkan nahw bukan saja pada bagaimana agar dapat berbahasa lisan dan tulisan secara baik dan benar, namun juga pada bahasa hati. Artinya, nahw digunakan untuk menata bahasa hati.
Dari sini maka nahwu (gramatika) selain gramatika eksoterik (tata bahasa lahir) juga ada gramatika esoterik (tatabahasa batin). Melalui kitab Nahw al-Qulûb ini al-Qushayrî berbicara tentang berbagai fasal dalam nahw namun nahw secara batin. Jadi ia berbicara tentang pembagian kalam, tentang i’rab, tentang fi’il, fâ’il dan maf’ûl dan seterusnya, di mana semua pembahasannya sesuai dengan pengertian nahw secara bahasa (lughah), yakni mencapai satu tujuan, maka, maka nahw al-qulûb bertujuan untuk menata hati.
Mengutip Muhammad Harir, terma-terma dalam ilmu nahwu seperti kalam, i’rab dan bina’, ma’rifah dan nakirah, isim mufrod, isim tatsniyyah dan jamak, fi’il-fi’il, mubtada’, khabar, fa’il, maf’ul dan lainya lagi menjadi medium al-Qushayrî dalam mengeksplorasi dimensi sufistik dari kerangka umum nahwu konvensional (eksoterik).
Sebagai contoh, bentuk-bentuk i’rab terbagi empat wajah, yaitu: rafa’, naşab, jar (khafdh), dan jazm. Demikian pula dalam konteks tata bahasa hati (nahw al-qulûb) di mana hati terbagi dalan empat kondisi. Pertama, hati dalam kondisi rafa’, yakni adalah tingginya kekuatan spiritual yang mendorong seseorang menempuh jalan rohani. Kedua, kondisi naşab hati, kesiapan jiwa dan raga untuk taat. Ketiga, kondisi jar, yakni kerendahan diri dan hati. Keempat, jazm, terkuncinya hati dari segala sesuatu, selain Dia.
Ketika berbicara tentang fâ’il dan maf’ûl, al-Qushayrî menjelaskan bahwa hakikat fâ’il, pelaku sesungguhnya, adalah Allah Swt. sedangkan hamba hanyalah objek pelaku (maf’ûl).
Itulah keunikan kitab Nahw al-Qulûb sehingga menarik untuk dibaca. Membaca kitab ini akan mendapatkan pengetahuan tentang ilmu bahasa sekaligus ilmu tasawuf. Wallahu a’lam.

No responses yet