Ada santri yang bernama Alawi dari Lamongan. Sejak ayahnya yang pamong desa itu sakit sekian bulan lalu, si Alwi sering dadanya kayak ditusuk-tusuk, lalu sembuh, dan selang satu mingguan sakit lagi.Tentu sudah beberapa kali dicarikan obat. Alawi dan keluarganya punya dugaan ada kiriman barang gaib. Tentu saya tidak menggubris hal kayak begitu.
Rasa sakit semakin parah seminggu sebelum puasa. Alawi dolan ke pondok sebelahnya Al Hadi 2 untuk mengunjungi temannya, lalu ketiduran.
Nah, pada malam hari sekitar jam satu, tiba tiba kaca di angin-angin gotakan pondok itu pecah. Saat itulah dadanya sakit lagi kayak ditusuk-tusuk. Dia menelpon ibunya dan melaporkan hal itu, ternyata hampir bersamaan waktunya, ibunya yang pada malam itu membuat kopi, ketika air ditumpahkan, cangkirnya pecah.
Bagi Alawi dan keluarganya, hal itu bukan kebetulan, tapi bagi saya, ya kebetulan saja. Namun yang menjadikan saya perlu memutar otak adalah saat ibu si Alawi menelpon istri saya dan meminta agar membuatkan omben-omben atau minuman jompa jampi untuk Alawi.
Saya yang bukan dukun dan tidak biasa nyuwuk kecuali nyebul kopi atau teh mikir juga kenapa kok saya yang diminta. Akhirnya saya menemukan ide, yakni menyuruh anak saya yang bungsu, si Dimitry yang baru lulus kelas 6 MI Bahrul Ulum. Saya bilang ke Dimitry, “Adik, Sampean kan sudah nirakati sholawat Masyisyiyyah sebelum Ramadhan ini sebanyak 21 hari. Adik juga istiqomah membaca bakda Maghrib dan subuh. Sholawat itu khasiatnya menurut dawuh Mbah Wahab Chasbullah untuk mengusir jin jahat dan masih banyak khasiat lain menurut dawuh Kiai Miftahul Achyar, sirrul asrar. Nanti Cak Alawi suruh saja berbaring dan kamu pegang dadanya sambil dibacakan sholawat Masyisyiyyah satu kali saja.”
Alhamdulillah Dimitry mau. Alhamdulillahnya lagi, lantaran setelah dibacakan sholawat itu, sampai hari ini Alawi sehat tidak sakit dadanya. Semoga terus sehat. Mungkin saja saat itu Alawi kaget kok Dimitry yang ngobati, bukan saya. Padahal kalau saya belum tentu sembuh. Saya punya pandangan bahwa doa para santri yang mau tirakat insya Allah mustajab. Saya juga sering memberitahu santri, “Amalanmu yang sudah kamu tirakati itu tidak “gemen-gemen-, maka terus diistiqomahkan saat pulang liburan ini.”

No responses yet