Kitab yang anggit oleh Imam Hadis, Mufassir, Mua’arrikh: Abu Abdillah Muhammad bin Zayid bin Majah bin Robi’ Al-Qozwaini (209 H – 824/  W. 273 H- 886 M). Kitab ini tergolong dalam “Kutub as-Sittah” yang ke-enamnya. Ibnu Majah dalam penyusunannya mengikuti metode kitab Sunan, yaitu seperti susunan bab dalam kitab-kitab fiqh. Dimulai dari bab Iman, dilanjut bab Thoharoh, bab Sholat, bab Puasa dan seterusnya, dan diakhiri dengan bab Zuhud. Totol jumlah bab-nya (kitab) ada 37 bab, dan setiap bab memiliki beberapa sub bab (bab) yang berjumlah 1500 sub bab. Termuat didalamnya lebih dari 4000 hadis. Mayoritas hadisnya merupakan hadis maqbul (Sohih atau Hasan), walaupun ada sebagian kecil yang berstatus doif.

Di Nusantara khususnya masih minim sekali kajian kitab-kitab hadis. Namun kajian fiqh & tasawuf lebih dominan dan digemari. Kajian kitab Sohih Al-Bukhari & Muslim mulai bergeliat di Jawa semenjak kedatangan murid Syaikh Mahfudz Termas, KH. Hasyim Asy’ari. Mulailah kajian hadis berkembang di Jawa. Menurut KH. Farid Zaini, Kyai Hasyim itu Mujadid dalam perkembangan kajian hadis di pesantren. Santri-santri dan kyai berbondong-bondong dari penjuru Nusantara mengunjungi pesantren Tebuireng pada bulan Sya’ban demi mendengarkan kajian kitab Sohihain yang diasuh oleh pendiri NU. Dua kitab itu dikhatamkan pada akhir bulan Ramadhan. Mulailah dari situ, alumni-alumni kilatan Sohihain menyelenggarakan kajian kitab-kitab Hadis di pesantrennya masing-masing. Sebut saja, Kyai Ahmad Asy’ari Poncol Salatiga, pada tahun 1947 beliau memulai ngaji Sohihain yang diikuti peserta yang berasal dari penjuru tanah air, bahkan dari mancanegara, Singapura & Malaysia. Menurut satu sumber, Gus Dur pernah ikut kilatan di pesantren Poncol ini ketika masih mondok di Tegalrejo.

Di Tebuireng pada periode KH. Hasyim Asy’ari, kajian kitab hadis masih berkutat pada kitab Bukhori & Muslim saja. Menurut Kyai Taufiqurrahman, pada masa itu mendapatkan kitab-kitab hadis selain Bukhori dan Muslim itu sangat sulit sekali, karena masih minimnya percetakan & masih masa penjajahan. Mulai di era KH. Idris Kamali yang merupakan menantu & santri Hadrotusy Syaikh, kajian kitab “Kutub as-Sittah” diadakan. KH. Habib Ahmad dan KH. Mutoharun Afif yang pernah belajar langsung dengan metode “Ardl ‘ala As-Syaikh” atau Sorogan “Kutub as-Sittah” kepada Kyai Idris Kamali. Sekarang tradisi kajian “Kutub as-Sittah” diteruskan oleh cicit menantu Hadrotusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Taufiqurrahman al-Mursyid. Beliau mengagendakan dalam 6 tahun sekali khatam kutub as-Sittah, dengan setiap kali bulan Ramadhan khatam satu kitab, dan dilanjutkan pada ramdhan berikutnya dengan kitab lain, sesuai urutan “Kutub as-Sittah”.

Pada tahun 2021 ini, Kyai Taufiqurrahman membaca kitab Sunan Ibnu Majah dengan metode bandongan. Kajiannya dimulai pada pertengahan bulan Sya’ban dan dikhatamkan pada malam 20 Ramadhan 1442 H pada jam 01.20 dini hari, sekitar 32 hari-an waktu yang dibutuhkan untuk mengkhatamkannya. Estimasi waktunya, jam 08.00 pagi, Setelah Duhur dan jam 22.00 malam sampai jam 2 malam. Beliau mengaji sampai dini hari menjelang sahur itu karena mengikuti tradisi guru beliau, Kyai Syansuri Badawi Tebuireng konon pengajiannya sampai jam 3 malam. Setelah khatam seperti tradisi dari ulama-ulama dahulu yaitu memberikan silsilah rantai keilmuan yang nyambung sampai pengarang kitab Ibnu Majah.

Yang unik dalam diri Kyai Taufiqurrahman adalah ketika bisa menggabungkan antara hati & akal. Beliau merupakan Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsyabandiyah yang memilki banyak jamaah, hingga sampai Kalimantan jama’ahnya. Namun disisi lain beliau juga pencinta ilmu tulen. Dibuktikan dengan banyaknya kegiatan pengajian-pengajian yang diampu olehnya. Biasanya kyai Thoriqoh dan jama’ahnya itu tidak begitu “doyan” ngaji, walaupun tidak semuanya. Memang Thoriqoh kesukaan Hadrotusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari adalah “Thoriqoh Ta’lim wa Ta’allum”, dan ini diamalkan oleh beliau dalam kehidupan sehari-hari. Sampai-sampai Jama’ah Thoriqohnya diajak oleh beliau untuk mengikuti pengajian kitab, baik di ndalem, maupun di Tebuireng. Maka tak heran jika banyak peserta pengajian Sunan Ibnu Majah banyak yang sepuh-sepuh. Beliau tidak meminta mereka untuk full wiridan di malam hari, melainkan diminta untuk ngaji ilmu yang mana pahalanya lebih besar dari pada sholat sunnah.

Saking semangatnya dalam menghilangkan kebodohan bangsa Indonesia, setelah khatam kitab Ibnu Majah beliau menyelenggarakan pengajian tambahan yaitu kitab kesukaan Hadratussyaikh, Kitab Fathul Qorib. Yang Insya Allah dikhatamkan dalam waktu 5 hari-an. 

Akhir kalam, semoga ilmu yang telah beliau berikan kepada kita semua menjadi ilmu yang manfaat dan barokah, semoga kita semua mendapat syafaat dari baginda Nabi Muhammad. Dan semoga beliau dipanjangkan umurnya dalam keadaan sehat wal afiyat. Amin. 

20 Ramadhan 1442 H.

Alfaqir, M. Ilham Zidal Haq

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *