Dulu ketika litsus masih ada, saya di ajukan pertanyaan jebakan Batman, tahun itu 1997 pertama kali saya daftar Polisi, rezim ordebaru masih berkuasa, pertanyaan masih seputar, apakah anak PKI boleh menjadi Polisi? Apakah anda setuju dengan negara Islam, siapa tokoh yang Anda kagumi? Itu dulu.
Waktu itu saya tergabung dengan gerakan Tarbiyah sejak 1994-1995 saya sudah rajin demo masalah Bosnia, Palestina, bahkan rajin nempelin stiker pesan moral, bahkan sejak 1992 sudah langganan majalah Sabili, An-Naba, Intilaq dll, walau ga belajar Ushul Fiqh mendalam, tetapi saat itu saya khatam buku2 milik Qardhawi semacam Fiqh Awlawiyat (prioritas Gerakan Islam).
Pertanyaan2 itu mudah saya atasi dengan misal, apkah anda setuju anak PKI jadi ASN, TNI atau POLRI, saya jawab ketus, tidak setuju, kenapa tanya petugas litsus dari Dirintel, saya jawab ” kita adalah negara yang berdasarkan ketuhanan yang maha esa, sedangkan komunis itu tidak mengakui Tuhan, orang yang tidak percaya dengan Tuhan tidak boleh hidup di Indonesia, lalu di tanya lagi “apakah anda setuju dengan negara Islam? jujur ini jawaban yang paling sulit saya jawab, karena jika saya jawab setuju, pasti g bakal lulus, jika saya jawab tidak setuju, nanti saya di anggap murtad, apalagi baik PKI dan DI/TII pernah memberontak terhadap republik Indonesia, tentu keduanya menjadi bahaya laten.
Lagi2 saya menjawab tidak setuju, seraya beristighfar memohon ampun dalam hati, walau berat saya harus katakan dan berdalil ayat
قال تعالى: «من كفر بالله من بعد إيمانه إلا من أكره وقلبه مطمئن بالإيمان ولكن من شرح بالكفر صدراً فعليهم غضب من الله ولهم عذاب عظيم» (النحل/106).
Pertanyaan ketiga saya di tanya, tokoh yang Anda kagumi, saya jawab tegas Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam lalu yang kedua saya jawab Haji Muhammad Suharto presiden RI kedua, lalu dia tanya lagi, anda kan dari pesantren, coba sebutkan ayat dan hadist yang berkaitan dgn tugas polisi, saya pun menjawab mantap dengan mbwakan ayat “Waltakun Minkum Yad’una Ilal Khaer…..dan hadist “Man Ro’a Minkum Munkaron Falyughoyyiruh Biyadihi”….penanya pun Puas dengan jawaban saya dan Alhamdulillah Sayapun lolos dari pertanyaan jebakan batman tersebut.
Jaman berubah, setiap pemimpin punya gayanya sendiri2, saya yakin pertanyaan2 wawasan kebangsaan juga berubah, saya tidak tahu persis pertanyaan dan jawaban yang ada di KPK seperti apa, saya harus melihat ngaji orang yang tidak lulus ini dimana? Jika dia ngaji di tempat yang Tasamuh nya tinggi, jika cuma di tanya masalah Qunut mah gampang, bilang aja itu masalah khilafiyah, yang Qunut silahkan yang tidak Qunut juga silahkn, yang g boleh yg g sholat subuh bagi seorang muslim, clear, tetapi jika ngaji sama kelompok brainwashing intoleran ya wassalam.
Itulah mngapa saya selalu katakan bahwa aparatur negara seperti ASN, TNI dan POLRI itu rawan menjadi seperti saya dulu (teroris), karena sekuat apapun doktrin ABRI dan sumpah setia di ASN) itu esacta rasional, yang jika tertimpa dengan doktrin lagi dia akan menjadi irasional, buat adik2 kita yang baru hijrah di kelompok model intoleran sistem pembelajaran nya tentu akan kesulitan mengatasi pertanyaan2 jebakan tersebut.
Itulah kenapa anak IPS lebih tekbal dari anak IPA, atau anak2 sosial lbh punya imunitas dr anak2 esacta, karena orang sosial lebih utuh dalam melihat persoalan, otak dia g nyampe kalo harus hitam putih, sedangkan orang esacta itu hitam putih bak matematika, Hatta melihat persoalan sosial, dia menjadi zero intoleran, g boleh ada selisih.
Di Al-Qur’an kita bisa melihat kisah nabi Musa Alaihis Salam dan Nabi Khidir, didalam Fathul Bari sikap nabi Musa Alaihis Salam di bela mati2an oleh Ibnu Hajar Al Asqolani, dan jika Nabi Musa tidak mengingkari perbuatan mungkar, maka justru di ragukan kenabian nya, karena salah satu alamat kenabian adalah Inkarul Munkar, tetapi Allah SWT ingin mengajak sisi lain dalam ilmu melalui nabi Khidir.
Masalahnya problem masalah Muhajirin Newbie hari ini, sering kali terjebak dan sulit memahami masalah Tsawabit (tetap) dan mutaghayyirat (berubah2), masalah Awlawiyat (prioritas) dan muwazanat (pertimbangan), makanya bagi para aktifis gerakan Islam yang masih cinta dengan NKRI harus menuntaskan buku2 semacam Fiqh Awlawiyat dan Fiqh Muwazanat, Fiqh Maqosid dan Fiqh Waqi’, tetapi sayang penulis buku2 di atas di sesat2an oleh Salafi Wahabi, dan di anggap sebagai Bid’ah pemikiran, padahal itu jalan tengah bagi aktifis Islam yang ingin berdakwah di dalam, buku2 di atas membuat nyaman bagi Muslim yang tinggal di Eropa.
Untuk itu saya disersi dr kepolisian, karena doktrin yang saya pahami tidak ketemu dengan realitas pekerjaan di kepolisian, bayangkan kita hitam putih, jeblok Ushul Fiqh, nafsu gede, reaktif, kebayang deh, makan hati Bro, makanya jangan salah cari guru, pastikan guru kita yang bijak, betul2 ulama yang bisa mengsikronkan antra Fiqh dalil dan Fiqh Waqi’iyah (realitas). Jika kopi tidak jauh dan kurang kental, anda akan selalu baperan bro. Yakin deh.
Sofyan Tsauri Ayyash
Di penghujung puasa dalam pasar Cisalak.

Categories:Cerita Santri
No responses yet