Pagi itu para sesepuh yang sudah tidak tahan lagi dengan rumitnya persoalan masjid datang ke rumah dengan niat baik meminta saya untuk ikut serta mengatasi konflik yang semakin rumit. Saya diminta maju sebagai calon ketua takmirnya. Entah kenapa saya hanya bisa menangisi permintaan mereka. Saya berujar “mengelola masjid bukanlah amanah yang ringan dan tidak sembarang orang bisa menjalankannya. Berikanlah kesempatan pada mereka yang mau dan siap maju menjadi pemimpinnya. Sehingga tidak menambah konflik di kalangan jamaah. Ternyata proses alih kekuasaan tidak terlalu mulus dan akhirnya persoalan masjid tetap saja berlanjut. Bahkan tetap berlanjut pada periode periode berikutnya.
Sekitar empat tahun lalu jamaah pinggiran yang suka berkumpul datang ke rumah dan meminta saya untuk ikut membantu mendirikan majelis taklim, Yasin dan tahlil. Saya sebenarnya ragu dengan niat mereka, tetapi melihat wajah-wajah sepuh yang tulus menunggu datangnya malaikat maut, akhirnya saya setuju saja dan sudah saya duga sebelumnya mereka meminta saya untuk memimpin majelis itu. Paling tidak saat itu ada 70 kepala keluarga yang ikut. Sementara konfliks di masjid masih terus berlanjut dan bahkan merembet ke luar dengan melibatkan RW dan kepala desa. Jadilah saya kembali sebagai sasaran agar bisa menyelesaikan persoalan rumit itu. Saya pun akhir mau dengan syarat tidak boleh ada yang resek dan rewel dengan program Lembaga Kemakmuran Masjid yang kita bentuk.
Tanpa banyak persoalan akhirnya masjid menjadi relatif tenang kembali, program yang dicitakan oleh para takmir terdahulu yang terus tertunda akhirnya dengan perlahan bisa direalisasikan. Program pendidikan, pemberdayaan sosial dan ekonomi, serta perbaikan sarana berjalan sangat lancar. Namun demikian belum genap tiga tahun tiba-tiba covid datang. Jadilah program mulia itu akhirnya terhambat kembali dan semakin melamban. Kita telah mencoba tapi Allah sebagai penentu akhir segalanya.
Setahun lebih Covid 19 membuat program-program kemakmuran masjid melambat. Namun demikian semangat dan Istiqomah pengurus dan jama’ah tidak surut dan bahkan semakin tinggi. Bahkan program peningkatan kapasitas daya tampung masjid Alhamdulillah bisa dituntaskan sebelum Ramadhan. Maka setiap sholat Jum’at kami tidak perlu lagi menyewa tenda. Meskipun jika jari Jum’at bertepatan tanggal merah masih saja kurang daya tampung masjid kami. Apalagi kami menerapkan protokol Covid-19 dalam setiap ritual sholat berjamaah. Jadilah masjid masih terasa kurang luas.
Dengan semakin makmurnya ragam kegiatan di masjid membuat kami sadar bahwa Tawangsari bukan sembarang desa. Ternyata Daerah ini dahulu dikenal sebagai wilayah dakwah para Auliya. Banyak sekali cerita perjuangan dakwah para ulama yang sangat kaya warna. Saya baru mengetahui setelah kami secara resmi mendirikan madrasah Diniyah dan kemudian mencari wasilah ke para sesepuh kiai yang ada di masjid pusat desa. #SerialMasjjd

No responses yet