Dalam buku doa para Masyayikh Tambakberas yang sedang proses tashih dan editing terdapat salah satu hizib yang bersanad dari keluarga Singosari (Pondok Al Islahiyyah). Sanad ke atasnya naik kepada KH. Masykur yang memperoleh ijazah hizib itu dari Mbah Kiai Abdul Wahab Chasbullah.

Semua warga NU tentu sudah tahu  riwayat Kiai Masykur. Beliau pahlawan nasional. Kalau belum tahu silakan klik di google saja, akan banyak data melimpah.

***

Gus Abdul Adhim dari Malang, tadi malam menelpon saya dan bercerita  tentang KH Dhafir bin Abdusalam. Kiai Dhafir berasal dari Lasem dan merupakan menantu dari  Kiai Muhammad Siddiq, Jember. 

Dengan demikian, Kiai Dhafir adalah ipar dari KH Ahmad Siddiq. KH. Ahmad Siddiq pernah bertutur, bahwa iparnya ini termasuk alim, zahid dan  wali mulamatiyah atau malamatiyah. Kalau ingin tahu tentang mulamatiyah silakan cek di google.

 Dalam sejarahnya, KH Dhafir adalah pimpinan Laskar Hizbullah dan Sabilillah di Karesidenan  Besuki. Beliau pernah disetrum oleh Belanda, bahkan pernah  juga tangannya ditarik dua  kuda. Tapi karena beliau jadug, tidak apa-apa dan selamat. Hanya di masa sepuhnya kalau bicara agak goyor.

Hal yang menarik adalah Kiai Dhofir menerima ijazah Hizb Thair dari Mbah Wahab Chasbullah sekitar tahun 1914 sebelum Indonesia merdeka. Dalam tulisan tangan beliau yang berhuruf Pegon dan berbahasa Indonesia tercantum, “Kami Haji Dhofir telah menerima ijazah doa ini dari Kiai Abdul Wahab Cahsbullah Jombang, dan telah meberi izin kepadaku untuk memberi ijazah kepada lain orang. Wassalam Haji Dhafir, Jember, Jatim. Jember, 26 Muharram 1405 H atau 21 Oktober 1914.

***

Dari tulisan di atas bisa dimaknai bahwa pegangan Mbah Kiai Wahab sejak muda antara lain adalah hizib thair ini. Lalu Mbah Wahab mengijazahkan kepada orang-orang yang dianggap nantinya sebagai tokoh atau sesepuh.

Ijazah hizib thair ini juga kami peroleh dari jalur Kiai Nasrullah Tambakberas, dan seperti saya tulis di atas, ada jalur sanad dari KH. Masykur. Dari jalur Kiai Masykur diterangkan bahwa hizib ini adalah hizib perjuangan. Tentu hizib ini  perlu dipegang para pejuang NU baik masa dahulu maupun masa kini.

****

Alhamdulillah beberapa santri telah nirakati untuk hizib thair ini di saat korona ada yang hingga 7 kali (7 kali 3 hari). Harapannya mereka mau nirakati lagi untuk menjaga tradisi amalan peninggalan para Masyayikh Tambakberas. Semoga nantinya bisa menjadi pejuang bagi Islam yang rahmatan lil alamin, Islam moderat.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *