Mubaligh di Kabupaten Pacitan ini, punya cara unik dalam berdakwah. Tak harus mengundang banyak jemaah untuk menyimaknya berceramah.
Sang kiai sepuh menjadikan pengeras suara masjid, sbg penyambung lidah. Pesan2 ilahiyah pun membahana tiap siang, menjelang senja, contoh nyata saat Ramadhan 2020 M lalu.
Sebuah ruangan khusus berukuran 3 x 3 meter, menjadi mimbar pribadi KH IMAM SODIQ SUDJA (72 tahun). Tempat itu bukan mihrab, melainkan kaki menara Masjid Al Huda, Lingkungan Peden, Kelurahan Ploso Kabupaten Pacitan Jawa Timur.
Hanya dilengkapi satu meja kayu dan sebuah kursi tua. Di atas kursi itu, Sang Kyai duduk menghadap meja, dgn dua kitab di atasnya. Masing2 Al Quran dan Kitab Hadits.
Sebuah mikrofon tergeletak di atas meja. Kabel berwarna hitam, menjuntai hingga terhubung dgn instalasi pengeras suara. Tangan kanan Kiai Sodiq meraih mikrofon.
Beliau lantas mencucap salam, menandai dimulainya da’wah taklim. Hampir tanpa jeda, suaranya membahana, melalui 3 corong yg terpasang di ujung menara masjid tsb.
“Betapa besar nikmat Allah yg telah diberikan kepada kita. Sampai2 kita tidak mungkin bisa menghitungnya,” begitu penggalan kalimatnya mengupas isi surat An Nahl.
Di luar aktivitas sbg dai, Alumni Ponpes Tremas Pacitan tsb, sengaja memilih pola dakwah berbeda. Segmennya pun tidak melulu jemaah yg berkumpul di sebuah majelis. Beliau mengemas dakwah dgn kearifan lokal.
Bapak tiga putra tsb, memang tidak mengundang warga sekitar untuk datang masjid mengikuti kajian. Sebaliknya, mereka bisa menyimak dari rumah sembari melakukan rutinitas masing2. Untuk yg di rumah tetap bisa mendengarkan, demikian pula yg di sawah tetap bisa menyimak sambil bekerja.
Pesan beliau, bahwa menjadi seorang mubalig, merupakan panggilan jiwa. Beliau mengaku tergugah, saat membaca sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, tentang perintah meneruskan pesan risalah kebaikan, meskipun hanya satu ayat.
Menjalankan kajian rutin selama 17 tahun, memang bukan pekerjaan mudah. Terlebih pada waktu2 tertentu, jadwalnya cukup padat, untuk menyampaikan ceramah di banyak tempat.
Khusus bulan Ramadhan, materi yg disampaikan adalah tilawah. Kyai Sodiq membahas tiap surat dalam Al Quran, dgn pendekatan tafsir serta dilengkapi dgn hadits.
Selama bulan suci ramadhan, kajian biasanya dapat menyelesaikan 1 juz. Hingga saat ini sudah 16 juz yg berhasil dituntaskan. Meski begitu masih ada rasa penasaran tertinggal dalam hatinya. Bahwa, masih ada 14 juz lagi (yg belum disampaikan). Sementara umur saya sekarang sudah 71 tahun. Kalau ternyata nanti, ndak sampai selesai belum sempurna rasanya.
Beliau mengatakan, “Usia manusia memang mutlak urusan Allah subhanahu wa ta’ala. Tetapi sisa hidup, sedapat mungkin bermanfaat bagi orang lain. Termasuk di antaranya, dalam menebar pesan2 kebaikan. Saya yakin, betapapun hanya satu persen dari apa yg saya sampaikan akan membekas di hati yg mendengarkan. Itu saja”.
info from https://kuyou.id https://news.detik.com and other sources
————————–
I’tibar Da’wah
Ketika menyelami dan merasakan perjalanan panjang “ngaji” beliau, sangat dirasakan dalam hati, bahwa jalan pilihan “jihad” beliau ini, terasa berat, baik secara fisik maupun mental, tidak semua orang bisa melakukannya, namun menyerah bukan pilihan, tentu semangat dan niat yg sangat kuat dgn keyakinan yg besar, beliau sanggup melakukannya, karena “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dgn kesanggupannya (Q.S. Al-Baqarah: 286). Perjalanan Istiqomah yg luar biasa. Inspirasi nyata, keteladanan dakwah bagi para penerusnya.
Meski “istiqomah” bukanlah kata yg mudah untuk diwujudkan, namun tetap mungkin untuk dicapai, seperti yg dilakukan oleh beliau.
Al Qur’an telah menuntun manusia untuk istiqomah di jalan perjuangannya, sbgmana termaktub dalam Surat Fushillat ayat 6: “Maka istiqomahlah (dgn mengikhlaskan ibadah) kepada-Nya, dan mohonlah ampun kepada-Nya”
Beliau adalah orang hebat, termasuk orang2 kuat dlm pilihan dakwahnya, yg sudah pasti dipilih Allah subhanahu wa ta’ala untuk berjuang di jalanNya, melalui bidang dakwah sesuai dgn kearifan lokal masyarakat pedesaan.
Layak untuk diteladani, karena keteladanan nyata menjadi kebutuhan niscaya di dalam kegiatan dakwah. Keteladanan memudahkan orang2 menangkap contoh berupa perjuangan sang pelaku dakwah. Orang2 awam, yg tidak membaca kitab suci Al-Quran, hadits Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam dan kitab2 agama Islam lainnya, pasti akan membaca teladan pada diri para juru dakwah.
Secara sosio-religius, yg dilihat dan dibaca oleh orang2 adalah tutur kata, pola pikir, pola sikap, dan juga pilihan tindakannya sbg pribadi tokoh masyarakat atau tokoh agama. Karena, para ulama atau juru dakwah hadir untuk mengisi kebutuhan masyarakat dalam lapis informasional, pergaulan, keilmuan dan keagamaan.
Masyarakat akan mencermati, siapakah ulama yg menenteramkan dirinya untuk diikuti. Bahkan di banyak daerah, ada keluarga ulama dari generasi ke generasi, menjadi sandaran warga masyarakatnya, juga dari generasi ke generasi mengikuti kultur sosial budaya masyarakat setempat.
Oleh sebab itu, dari situlah masyarakat menaruh kepercayaan, kepada para ulama. Karena dalam berbagai peran di berbagai lingkup kehidupan, para ulama selalu memberikan suluh penerang di saat masyarakat butuh pencerahan.
Semoga bermanfaat
Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA
CHANNEL YOUTUBE SARINYALA

No responses yet